tirto.id - Peta Aceh Tamiang, kondisi banjir terkini, dan lokasinya di mana menjadi perhatian banyak pihak. Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh termasuk kawasan terparah yang dilanda bencana banjir dalam beberapa hari terakhir.
Hingga Selasa (2/12), delapan desa di Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang masih terisolasi. Pemerintah setempat memanfaatkan jalur sungai untuk mendistribusikan bantuan bencana ke lokasi yang terisolasi.
Kabupaten Aceh Tamiang merupakan pintu gerbang memasuki wilayah Provinsi Aceh, bagian pesisir timur Pulau Sumatera. Kawasan ini memiliki luas wilayah yang hampir mencapai dua ribu kilometer persegi.
Peta Aceh Tamiang: Geografis, Komoditas, dan Mata Pencaharian Masyarakat
Kabupaten Aceh Tamiang merupakan salah satu wilayah di Aceh yang menjadi jalur penghubung menuju Medan (4 jam) dan Banda Aceh (9 jam). Adapun titik koordinat Aceh Tamiang berada di 03o 53’ 18,81“ – 04o 32’ 56,76” Lintang Utara dan 97o 43’ 41,51” – 98o 14’ 45,41” Bujur Timur.
Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 2015 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan, luas Aceh Tamiang tercatat 1.956,72 kilometer persegi.
Namun, luas tersebut relatif lebih kecil dibanding interpretasi dan perhitungan digitasi spasial yang ditetapkan dengan Qanun Kabupaten Aceh Tamiang Nomor 14 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang. Mengacu pada Qanun, Aceh Tamiang memiliki luas 2.216,16 kilometer persegi.
Secara geografis regional, Kabupaten Aceh Tamiang merupakan pintu gerbang memasuki wilayah Provinsi Aceh, bagian pesisir timur Pulau Sumatera. Di wilayah tersebut, terdapat empat kecamatan yang menghadap Selat Malaka, yaitu Kecamatan Seruway, Kecamatan Bendahara, Kecamatan Banda Mulia dan Kecamatan Manyak Payed.
Di bagian utara, Aceh Tamiang berbatasan dengan Kecamatan Langsa Timur Kota Langsa dan Selat Malaka. Kemudian, di sisi timur, wilayah penghasil udang windu ini berbatasan dengan Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara.
Adapun bagian selatan Aceh Tamiang berbatasan langsung dengan dengan Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara dan Kecamatan Pinding Kabupaten Gayo Lues.
Sementara itu, Kecamatan Serba Jadi dan Kecamatan Bireum Bayeum Kabupaten Aceh Timur menjadi wilayah yang berbatasan langsung dengan Aceh Tamiang di bagian barat.

Secara ekologis, pesisir Aceh Tamiang didominasi oleh tanaman mangrove. Mangrove yang berada di sepanjang muara sungai Aceh Tamiang merupakan habitat pakan bagi binatang laut. Sementara itu, wilayah daratan pesisir menjadi habitat peneluran penyu hijau dan tuntong laut.
Kemudian, Aceh Tamiang merupakan salah satu daerah yang memiliki habitat induk udang windu yang bagus. Komoditas udang windu memiliki nilai ekonomi tinggi dan telah merambah ke pasar ekspor.
Beberapa lokasi Aceh Tamiang yang menjadi pusat udang windu meliputi la Berangau, Kuala Sungai Udang, dan Kuala Peunaga.
Selain udang windu, mayoritas masyarakat Aceh Tamiang merupakan nelayan pancing dan jaring yang menangkap ikan di ikan disekitar populasi mangrove dan laut dengan jarak kurang dari 2 mil laut. Sementara, sebagian lainnya menangkap ikan dengan jarak lebih dari 2 mil.
Kondisi Banjir Terkini Aceh Tamiang
Sejumlah wilayah Aceh Tamiang masih terendam banjir hingga hari ini, Rabu, 3 Desember 2025. Berdasarkan info terbaru yang dilaporkan Antaranews pada Selasa (2/12), Jalur lintas nasional Aceh Tamiang menuju Medan, Sumatera Utara sudah dapat dilalui.
Hal ini menjadi angin segar untuk kelancaran pendistribusian logistik yang sebelumnya terhambat. Kendati begitu, masyarakat yang ingin melewati wilayah tersebut diimbau untuk tetap berhati hati.
Meski air mulai surut, beberapa gundukan sisa tanah liat akibat longsor masih ada di bagian pinggir jalan. Terbukanya akses dari Medan menuju Aceh Tamiang, Langsa, hingga Lhokseumawe bisa membawa dampak baik bagi masyarakat dan seluruh komponen bertugas di lapangan selama tanggap darurat.
"Setelah akses mulai terbuka, maka distribusi bantuan logistik dan permakanan, pemulihan jaringan listrik dan telekomunikasi serta pembersihan material dapat lebih mudah dilakukan secara maksimal dan menyeluruh," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dikutip dari Antaranews, Selasa (2/12).
Kemudian, delapan desa di Kecamatan Sekerak dilaporkan masih terisolir pada Selasa (2/12). Pemerintah setempat menggunakan akses sungai dengan perahu nelayan untuk membagikan bantuan logistik kepada masyarakat yang masih terisolir.
Pemerintah setempat juga masih mendata kondisi kesehatan masyarakat secara detail dalam bencana banjir ini. rumah sakit umum juga dilaporkan belum bisa menerima pasien karena lumpuh akibat banjir.
Per Selasa malam (2/12) pukul 20.00 WIB melalui laporan Antaranews, Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh melaporkan 249 orang meninggal dunia dan 660.642 jiwa mengungsi akibat bencana banjir dan longsor di Aceh.
Bencana Hidrometeorologi Aceh yang terjadi sejak 18 November 2025 telah berdampak pada 18 kabupaten/kota di Aceh, tersebar di 229 kecamatan dan 3.310 gampong (desa).
Kemudian banjir Aceh juga berdampak pada 229.767 kepala keluarga (KK) atau 1.452.185 jiwa. Dari total tersebut, 157.321 KK dengan 660.642 jiwa mengungsi dan tersebar di 828 lokasi.
"Dari angka tersebut, 1.435 jiwa mengalami luka ringan, luka berat 403 orang, 249 meninggal dan 227 masih dinyatakan hilang," ujar Juru Bicara Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh, Murthalamuddin, dikutip dari Antaranews, Selasa (2/12).
Berikut bebebrapa fasilitas umum yang tertdampak banjir Aceh dan kerugian harta benda, berdasarkan rekapitulasi Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh per Selasa (2/12):
Kerusakan Fasilitas Umum
- Perkantoran: 138 Unit
- Tempat Ibadah: 51 Unit
- Sekolah: 201 Unit
- Pondok Pesantren: 4 Unit
- Jalan: 302 Titik
- Jembatan: 152 Titik.
- Rumah: 77.049 Unit
- Ternak: 182 Ekor
- Lahan Persawahan: 139.444 Hektare
- Perkebunan: 12.012 Hektare
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id



































