tirto.id - Sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Subang, Jawa Barat, terpantau dipadati antrean panjang kendaraan pada Kamis (11/6/2026). Lonjakan antrean ini terjadi akibat migrasi massal konsumen usai kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax yang melonjak hingga 32 persen.
Pantauan Subang Info di lapangan, antrian panjang kendaraan baik roda dua maupun roda empat terjadi di lokasi pengisian BBM Subsidi, yakni pertalite.
Para pengguna kendaraan terlihat rela antri mengisi Pertalite di tengah mahalnya harga BBM Non-subsidi seperti pertamax yang mengalami kenaikan hingga 32 persen dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250.
Windi Permatasari, salah seorang warga pengguna motor mengaku terpaksa mengisi Pertalite karena harga Pertamax mahal.
"Biasanya saya ngisi BBM motor ini dengan Pertamax, tapi karena harga Pertamax naik hampir Rp 4.000 perliter, terpaksa motor ini diisi dengan Pertalite yang lebih murah," ujar Windi, buruh pabrik asal Pamanukan, saat ditemui Subang Info dikawasan SPBU Pagaden Subang, Kamis(11/5/2026).
Windi mengaku sangat keberatan kenaikan harga BBM, karena dampak kenaikan BBM ini tentunya akan berdampak pada sejumlah harga kebutuhan pokok.
"Kalau bisa, ditinjau ulang kenaikan ini [Pertamax], kami kaum buruh sangat terdampak sekali. Selain harus kembali ke Pertalite, antriannya bikin lemes panjang dan panas, masuk kerja jadi terlambat gara-gara antri ngisi Pertalite," katanya.
Windi menilai, warga mulai berbondong-bondong beralih BBM ke Pertalite. Sementara antrean Pertamax jadi sepi, karena harganya mahal.
"Kalaupun naik, naiknya jangan terlalu besar seperti ini cukup maksimal Rp1.000 sehingga tidak terlalu memberatkan bagi masyarakat, dan masyarakat tidak beralih ke Pertalite," katanya.
Senada juga diungkapkan Jaya Sukmana, kenaikan harga BBM non-subsidi sangat terasa dampaknya bagi pekerja buruh pabrik di Subang.
"Kita berangkat kerja jadi telat karena lamanya antrian BBM karena banyaknya warga yang ngantri isi Pertalite, sementara saya mau ngisi Pertamax sangat berat harganya gak terjangkau," ucap salah seorang buruh di Kalijati.
Jaya bilang, antrian ini terjadi sepanjang hari hampir di seluruh SPBU di Subang, terutama di jalur provinsi yang banyak dilintasi buruh pabrik.
"Kemarin pagi mau berangkat kerja sempat mau ngisi juga ngantri-nya panjang banget, sore juga pulang kerja sama antriannya panjang. Kemarin sempat waktu istirahat kerja keluar mau ngisi BBM juga sama penuh ngantri. Pagi ini saya sempetin dan rela ngantri karena butuh banget BBM," ucapnya.
Stok Pertalite Diklaim Aman
Irwan, salah satu Petugas SPBU di Subang, mengaku sejak kenaikan BBM Non-subsidi, masyarakat hampir 75 persen beralih ke Pertalite.
"Kebanyakan masyarakat beralih Pertalite, sementara yang ngisi Pertamax menurun, mungkin karena harganya mahal. Umumnya yang ngisi Pertamax khususnya pengguna roda dua karena mereka males ngantri yang antriannya sangat panjang," katanya.
Irwan lantas mengatakan, stok Pertalite masih tetap aman tersedia meski masyarakat beralih ke Pertalite. Dia juga mengatakan, SPBU tempatnya bekerja sudah mendapat alokasi tambahan stok pertalite tadi pagi.
"Stok cukup aman tersedia, hanya saja masyarakat harus rela sabar ngantri yang cukup panjang saat ngisi Pertalite, kalau ingin tidak ngantri yak kami menganjurkan isi Pertamax," katanya.
VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, menjelaskan bahwa kenaikan harga Pertamax (RON 92) karena adanya kesenjangan besar antara harga BBM di pasar internasional dengan harga jual Pertamina. Harga RON 92 di pasar global sebenarnya sudah berada di kisaran Rp20 ribu–Rp21 ribu per liter, sedangkan di beberapa negara lain bahkan bisa lebih tinggi jika dikonversi ke rupiah.
Di sisi lain, konflik geopolitik sejak awal 2026 turut mendorong kenaikan harga minyak dunia sehingga membuat formula harga BBM di Indonesia ikut naik, di mana batas atas harga Pertamax yang dihitung berdasarkan Harga Indeks Pasar (HIP) dan kurs naik signifikan dari sekitar Rp12.397 per liter pada Maret menjadi Rp18.745 pada April, lalu terus meningkat hingga sekitar Rp20.942 per liter pada Juni 2026.
Meskipun harga minyak dunia terus naik, Pertamina sempat menahan harga jual Pertamax di level Rp12.300 per liter selama beberapa bulan untuk menjaga daya beli masyarakat dan meredam dampak inflasi.
“Beberapa waktu kemarin itu masih bisa kami tahan, tetapi kenapa kok hari ini nggak bisa nahan? Karena kami harus memastikan ketersediaan di pasar itu ada barangnya,” beber Sigit dikutip Antara, Rabu (10/6/2026).
Namun kebijakan penahanan harga ini justru menciptakan tekanan finansial bagi perusahaan, karena biaya impor BBM dari luar negeri jauh lebih tinggi dibandingkan harga jual di dalam negeri.
Akibatnya, selisih antara pendapatan dan biaya membuat kemampuan Pertamina untuk mengimpor BBM dengan volume yang sama menurun, yang kemudian berdampak pada berkurangnya stok dan risiko gangguan ketersediaan energi di pasar, terutama saat permintaan tinggi.
“Pertamina mengimpor BBM dengan harga tinggi, terus kami jual di domestik harganya rendah. Uang yang kami dapat [dari penjualan domestic] untuk membeli BBM di market [impor] tidak lagi mendapatkan volume yang sama,” ungkap Sigit.
“Kami tidak ingin kondisinya terus-terusan seperti ini, sehingga ketersediaan produk energi di masyarakat akan menurun. Ketika ada puncak permintaan, kondisi ini [penurunan stok energi] akan menjadi masalah,” tambahnya.
Karena kondisi tersebut, setelah melalui konsultasi dengan pemerintah, Pertamina akhirnya memutuskan untuk melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax dan Pertamax Green mulai 10 Juni 2026.
=============
Subang Info adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.
Penulis: Subang Info
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id







































