tirto.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green berpotensi berdampak pada biaya pengiriman barang baku dan produk manufaktur ke distributor hingga ritel.
Meski demikian, Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, mengatakan bahwa pihaknya masih akan mencermati lebih lanjut efek dari kebijakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi tersebut.
Ancaman Efek Berantai dari Peralihan ke Pertalite
Pasalnya, ada kekhawatiran kemungkinan peralihan konsumsi dari Pertamax ke Pertalite yang masih mendapatkan subsidi. Peralihan ini, bisa memicu efek berantai pada rantai pasok industri.
"Nanti kami lihat, mungkin ada pengaruhnya ke biaya pengiriman barang untuk bahan baku, atau pada produk manufaktur ketika dikirimkan dari industri ke distributor, ke ritel. Itu kami nanti cermati dulu untuk yang kenaikan harga baru-baru ini," ujar Febri saat ditemui di Kompleks DPR RI, Rabu (10/6/2026).
Apresiasi Industri atas Stabilnya Harga BBM Subsidi
Febri menyebut, saat ini harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar bersubsidi belum mengalami kenaikan. Stabilnya harga BBM subsidi, kata dia, diapresiasi oleh pelaku industri karena turut menjaga daya beli dan tingkat permintaan (demand) terhadap produk manufaktur tetap stabil.
"Tapi yang kami cermati itu, harga BBM subsidi itu belum naik dan itu diapresiasi industri karena itu membuat demand industri masih tetap terjaga dengan baik," imbuhnya.
Menurutnya, dampak signifikan pada industri akan terjadi jika BBM bersubsidi ikut naik. Karena akan langsung berdampak ke daya beli masyarakat dan harga produk manufaktur secara tidak langsung.
“Kalau itu [BBM subsidi] naik, itu akan mempengaruhi inflasi atau kenaikan harga input bahan baku. Dan tentu industri juga akan menyesuaikan melalui efisiensi, utilisasi, dan mungkin juga pada harga jual produk manufaktur,” ucapnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id







































