Menuju konten utama

Apa Itu Pesantren dan Bagaimana Sejarahnya di Indonesia?

Apa itu pesantren? Berikut pengertian pondok pesantren dan sejarah perkembangannya di Indonesia.

Apa Itu Pesantren dan Bagaimana Sejarahnya di Indonesia?
Sejumlah santri mengaji Kitab Kuning di komplek Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Selasa (30/5). ANTARA FOTO/Zabur Karuru

tirto.id - Pondok pesantren merupakan salah satu institusi keagamaan yang telah lama berdiri di Indonesia. Sejarah pesantren di Indonesia bisa dilacak hingga ratusan tahun lalu, seiring dengan masuknya Islam ke Indonesia.

Pengertian pondok pesantren menurut para ahli salah satunya dikemukakan oleh Manfred Ziemek melalui buku Pesantren dalam Perubahan Sosial (1986).

Pengertian pondok pesantren menurut Ziemek adalah lembaga multifungsional yang tidak hanya berkutat dan berkecimpung bagi pekermbangan pendidikan Islam semata, tetapi juga kemajuan pembangunan lingkungan sekitar.

Sementara itu, Abdilah dan Burhanudin dalam Sejarah Kebudayaan Islam (2021) arti ponpes berasal dari dua kata yaitu pondok dan pesantren. Pondok adalah bahasa Indonesia yang berarti sebuah tempat penampungan atau wisma sederhana.

Sementara itu, pesantren berasal dari kata "santri" sebuah kata yang diadopsi dalam bahasa India, yaitu shastri. Shastri dalam bahasa India artinya guru mengaji, sarjana, atau orang yang memahami kitab-kitab dalam agama Hindu.

Meskipun pondok pesantren sudah berdiri sejak Indonesia belum merdeka, namun lembaga tersebut masih menunjukkan eksistensinya hingga saat ini. Hal ini dibuktikan lewat berdirinya sejumlah pondok pesantren modern yang mengusung sistem pendidikan agama bersandingan dengan ilmu pengetahuan.

Sejarah Pesantren di Indonesia

Keberadaan pesantren di Indonesia sudah berlangsung jauh sebelum Indonesia merdeka. Ada beberapa versi terkait sejarah pendirian pesantren di Nusantara.

Terlepas dari perbedaan versi sejarah, namun para ahli percaya bahwa pondok pesantren pertama di Nusantara sudah ada antara abad ke-14 sampai ke-15. Era tersebut bertepatan dengan penyebaran agama Islam di tanah Jawa oleh para Wali Songo.

Versi sejarah pertama menyebut bahwa pondok pesantren pertama kali lahir pada akhir abad ke-14. Mengutip publikasi Pusat Studi Pesantren Universitas Brawijaya, pencetus pondok pesantren pertama di Indonesia adalah Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik.

Saat menyebarkan agama Islam di Indonesia pada abad ke-14 sampai abad ke-15, Sunan Gresik mendirikan sebuah pondok pesantren di wilayah Gresik, Jawa Timur.

Saat itu, ia merupakan ulama besar di mana banyak orang yang ingin belajar agama Islam dengannya. Namun, rumah tempat tinggal Sunan Gresik tak mampu menampung jumlah murid yang semakin banyak.

Oleh karena itu, Sunan Gresik mendirikan sebuah rumah untuk menampung murid-muridnya yang ingin belajar agama Islam. Adapun bangunan tersebut dinilai para sejarawan sebagai cikal bakal pesantren tradisional di Indonesia.

Pondok pesantren yang didirikan oleh Sunan Gresik memfasilitasi para santri untuk bisa tinggal di dalamnya. Tak hanya tinggal, santri-santri di ponpes milik Sunan Gresik juga diajarkan kedisiplinan, hidup bersih, dan kegiatan sehari-hari berlandaskan ajaran agama Islam.

Sementara itu, versi sejarah lainnya justru menyebut bahwa rumah yang dibangun oleh Sunan Gresik bukanlah pondok pesantren, melainkan hanyalah konsep pondok pesantren di Indonesia.

Versi sejarah ini percaya bahwa perkembangan pondok pesantren justru terjadi di era Wali Songo lainnya, yaitu Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Hal ini karena Sunan Ampel pada abad ke-15 benar-benar mendirikan sebuah pondok pesantren bernama Pondok Pesantren Ampel Denta di Surabaya, Jawa Timur.

Dikutip dari situs Bappeda Litbang Surabaya, Pondok Pesantren Ampel Denta berdiri di satu kawasan dengan Masjid Agung Sunan Ampel. Bahkan menurut sejarawan, Pondok Pesantren Ampel Denta menjadi lembaga pendidikan pertama yang berdiri di Pulau Jawa.

Saat ini Pondok Pesantren Ampel Denta tersebut sudah tak lagi beroperasi. Namun, area ponpes dan Masjid Agung Sunan Ampel masih ramai dikunjungi sebagai destinasi wisata sejarah dan religi.

Setelah pondok pesantren ini berdiri, banyak berdiri pondok pesantren lainnya di Nusantara. Menurut Nur Khasanah, dkk., dalam Pesantren Salafiyah dalam Lintasan Sejarah (2022), pendirian pondok pesantren di era perkembangan Islam banyak mendapat bantuan dari kerajaan.

Beberapa kerajaan Islam yang berperan dalam pendirian ponpes-ponpes di Indonesia di antaranya Kerajaan Samudra Pasai, Kerajaan Demak, Kerajaan Banten, Kerajaan Mataram Islam, dan Kerajaan Pajang.

Meskipun pondok pesantren yang didirikan berbeda-beda, namun umumnya memiliki konsep yang sama, yaitu keberadaan kiai yang dihormati dan santri-santri yang belajar agama, ilmu pengetahuan, dan keterampilan lainnya. Pesantren mulai tumbuh dan berkembang pesat pada abad ke-19.

Sejarah mencatat, Pulau Jawa menjadi daerah dengan pesantren terbanyak saat itu mencapai lebih dari 1.800 pesantren dengan 16.500 santri. Tak hanya di Pulau Jawa, pesantren-pesantren juga berkembang di wilayah Sumatra dan Kalimantan.

Perkembangan pesantren semakin masif seiring dengan berdirinya organisasi-organisasi pergerakan nasional seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) di abad ke-19.

Pada era ini, pondok pesantren paling masif berdiri di wilayah Jawa Timur, termasuk Jombang, Probolinggo, Malang, Kediri, Banyuwangi, dan sebagainya.

Contoh ponpes yang berdiri pada abad ke-19 adalah Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang didirikan oleh KH Hasyim Asy'ari. Ada juga Pondok Pesantren Singosari yang didirikan oleh KH Masjkur.

Perkembangan pondok pesantren semakin pesat jelang kemerdekaan Indonesia. Pemerintah Jepang pada 1942 sempat mendata bahwa di Indonesia saat itu sudah ada ribuan ponpes dengan ratusan ribu santri.

Sementara itu, di era modern saat ini jumlah pesantren sudah ada sebanyak 27.218. Pesantren-pesantren itu dihuni oleh lebih dari 3,6 juta santri di seluruh Indonesia.

Dikutip dari Indonesiabaik.id, setidaknya ada lima pondok pesantren tradisional yang masih berdiri saat ini. Kelimanya bahkan dinobatkan sebagai ponpes tertua di Indonesia. Berikut ini lima ponpes tertua di Indonesia:

  • Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan didirikan oleh Sayyid Sulaiman pada 1745
  • Pondok Pesantren Jamsaren Surakarta didirikan oleh Kiai Jamsari pada 1750.
  • Pondok Pesantren Buntet Cirebon didirikan oleh KH. Muqoyim pada 1750
  • Pondok Pesantren Miftahul Huda Malang dididrikan oleh KH. Hasan Munadi pada 1785
  • Pondok Pesantren Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan didirikan oleh Kiai Itsbat bin Ishaq pada 1787.

Tujuan dari Pondok Pesantren

Saat ini pondok pesantren lebih banyak dikenal sebagai suatu lembaga pendidikan. Banyak orang datang ke pondok pesantren khusus untuk memperdalam bukan hanya ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan dan keterampilan hidup.

Ilmu-ilmu yang dipelajari di pesantren tak hanya berguna sebagai bekal di dunia tetapi juga akhirat. Oleh karena itu, tujuan pondok pesantren di dalam negeri banyak terfokus pada tercapainya ajaran dan pelestarian nilai-nilai Islam.

Kendati demikian, setiap pondok pesantren memiliki ajaran dan aliran yang berbeda-beda. Hal inilah yang menyebabkan setiap pondok pesantren memiliki tujuan, visi, dan misi yang berbeda-beda.

Menurut Khasanah, dkk., kebanyakan pondok pesantren bertujuan untuk mecetak santri dengan kepribadian muslim yang kaffah dan melaksanakan ajaran Islam sesuai tuntutan Al-Qur'an.

Khasanah, dkk., turut menyebut ada tiga karakteristik santri yang ingin dibentuk oleh pondok pesantren, yaitu:

  • Religious skillfull people: santri yang memiliki keterampilan sesuai zamannya, namun tetap religius dan memiliki iman yang teguh.
  • Religious community leader: santri yang memiliki kemampuan sebagai pemimpin dan penggerak masyarakat sehingga mampu membuat perubahan baik dan religius.
  • Religious intellectual: santri yang memiliki kecerdasan dan kecakapan di bidang ilmiah namun tetap menjunjung tinggi integritas dan nilai-nilai agama.

Baca juga artikel terkait PESANTREN atau tulisan lainnya dari Yonada Nancy

tirto.id - Pendidikan
Penulis: Yonada Nancy
Editor: Addi M Idhom