Menuju konten utama

Pengalihan Impor Minyak Mentah ke AS Dinilai Jadi Masalah Baru

Impor minyak mentah dari AS belum tentu sesuai dengan kilang minyak Pertamina untuk menghasilkan BBM.

Pengalihan Impor Minyak Mentah ke AS Dinilai Jadi Masalah Baru
Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi saat ditemui di kediamannya, di Sleman, Rabu. (ANTARA/Luqman Hakim)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pengamat Ekonomi Energi dari Univesitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, meminta kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memperhitungkan ulang mengenai rencana mengalihkan impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM) dari Singapura ke Amerika Serikat (AS).

Fahmy memahami langkah tersebut memang akan menekan defisit neraca perdagangan, sehingga tarif ekspor Indonesia yang ditetapkan 32 persen dapat diturunkan. Opsi ini juga merupakan senjata Indonesia dalam melakukan negosiasi tarif resiprokal yang dikenakan AS.

Apalagi Indonesia sebelumnya juga telah mengusulkan peningkatan impor energi dari AS hingga senilai 10 miliar dolar AS. Ini termasuk pembelian minyak mentah, BBM, dan gas petroleum cair (LPG). Namun, jika tidak dipertimbangkan dengan kehati-hatian justru akan menjadi bumerang bagi Indonesia.

"Pengalihan impor minyak ke AS memang akan mengatasi masalah defisit neraca perdagangan AS, namun berpotensi menimbulkan masalah baru bagi Indonesia,” ujar Fahmy dalam keterangan resmi yang diterima Tirto, Jumat (16/5/2925).

Fahmy juga mengingatkan impor minyak mentah dari AS belum tentu sesuai dengan kilang minyak Pertamina untuk menghasilkan BBM. AS juga belum tentu mampu menyediakan impor Pertalite, yang harus blending, karena tidak dijual di AS. Belum lagi harga impor minyak dari AS lebih mahal daripada Singapura karena biaya logistiknya yang lebih mahal.

“Mafia migas yang selama ini memburu rente impor BBM dari Singapura pasti akan melakukan upaya penghilangan pengalihan impor dari Singapura ke AS,” ucap Fahmy.

Fahmy khawatir, apabila Bahlil tetap memaksakan untuk tetap mengalihkan impor minyak dari Singapura ke Negeri Paman Sam itu, pemerintah harus memastikan bahwa spesifikasi minyak mentah sesuai dengan kilang Pertamina, serta AS dipastikan dapat melakukan blending untuk menghasilkan Pertalite.

“Harga impor AS minimal harus sama dengan harga impor dari Singapura. Pemerintah harus bertekad untuk memberantas mafia migas yang akan menghalangi pengalihan impor dari Singapura ke AS,” tekan Fahmy.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan pihaknya akan mengurangi pembelian minyak mentah dari negara-negara Timur Tengah serta Afrika. Adapun sebagai gantinya, kata Bahlil, pemerintah akan membeli minyak mentah dari AS.

"Sebagian dari middle east dan sebagain dari beberapa negara di Afrika, itu yang akan kita kurangi. Karena kita belinya barang dari sana, paling banyak dari sana," ucapnya di Istana Negara, Kamis (15/5/2025).

Kendati begitu, Bahlil belum mengungkapkan berapa banyak minyak mentah yang hendak dibeli dari AS. Hanya saja, ia memastikan pembelian ke AS untuk menjaga kerja sama dengan negara lain.

"Semuanya ini, sekarang, kita lagi mengatur formulasinya yang baik agar kemudian komitmen kita dengan pihak Amerika juga berjalan, tapi komitmen kita dengan negara-negara lain juga tetap tidak tertanggu," tuturnya.

Baca juga artikel terkait IMPOR BBM atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Insider
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Dwi Aditya Putra