Menuju konten utama

Soal Impor LNG Buat Nego Tarif AS, Bahlil: Domestik Masih Cukup

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia enggan merespons wacana impor LNG untuk negosiasi tarif dengan AS. Ia menilai kebutuhan LNG domestik masih cukup.

Soal Impor LNG Buat Nego Tarif AS, Bahlil: Domestik Masih Cukup
Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia di Jakarta International Convention Centers (JCC), Jakarta, Selasa (15/4/2205). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi.

tirto.id - Menteri Energi Sumber Daya Energi (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa pasokan gas alam cair (LNG) dalam negeri masih mencukupi sehingga belum ada pembahasan terkait rencana impor dari Amerika Serikat (AS).

Hal itu ia sampaikan saat merespons wacana impor LNG dari AS sebagai upaya negosiasi dagang usai Presiden Donald Trump mengumumkankebijakan tarif resiprokal.

“Sampai dengan hari ini, kami menganggap bahwa kebutuhan masih tercukupi dari dalam negeri. Sampai dengan sekarang, ya,” ucap Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (28/4/2025).

Bahlil juga menyebut pembahasan terkait impor LNG belum sampai ke Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, dan enggan berkomentar lebih lanjut terkait hal tersebut.

“Memang kemarin dari pembicaraan saya sama Pak Presiden, belum ada LNG. Jadi saya nggak tahulah. Saya nggak boleh mengomentari, sesama menteri ya,” kata Bahlil.

Menurut Bahlil, yang menjadi fokus pemerintah Indonesia saat ini adalah menekan defisit neraca perdagangan antara Indonesia dan AS, salah satunya penambahan impor sektor energi seperti LPG, BBM, dan minyak mentah.

“Itu nilainya kurang lebih sekitar USD10 miliar. Karena kita punya defisit, kan, sekitar USD14,6 miliar tapi diakui oleh mereka USD17,9 miliar,” ucap Bahlil.

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa pemerintah mengupayakan peningkatan impor sejumlah komoditas strategis dari Amerika Serikat, termasuk minyak, gas alam cair (LNG), serta produk pertanian seperti gandum, kedelai, dan jagung.

Secara berkelanjutan, Indonesia juga melakukan evaluasi terhadap berbagai hambatan perdagangan, baik tarif maupun non-tarif, guna menciptakan iklim perdagangan yang lebih terbuka dan efisien.

"Besar tarif (impor) Indonesia sebenarnya sangat rendah, tetapi kami akan selalu mengevaluasi dan melihat apakah ada area yang dapat kami tingkatkan di sisi tarif,” ujar Sri Mulyani dalam keteranganya, dikutip dari laman resmi Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Dalam sektor energi, Sri Mulyani menekankan bahwa meskipun Indonesia merupakan negara penghasil minyak dan gas, kapasitas produksinya masih belum mencukupi kebutuhan dalam negeri. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia melihat peluang untuk meningkatkan impor energi, khususnya LNG, dari Amerika Serikat.

“Jadi ini semua adalah area di mana kita tentu dapat melakukan outsourcing minyak dan gas dari Amerika Serikat, termasuk produk Boeing dan sebagainya. Ada juga beberapa komoditas serta produk manufaktur di mana kita dapat mempersempit, mengurangi, atau bahkan menghilangkan surplus ini,” jelas Sri Mulyani.

Baca juga artikel terkait BAHLIL atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Insider
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Hendra Friana