Menuju konten utama

Pemprov Bantah Bali Sepi Wisatawan Musim Libur Nataru Tahun Ini

Kunjungan wisatawan mancanegara di Bali tembus angka 20 ribu per hari pada periode Nataru ini.

Pemprov Bantah Bali Sepi Wisatawan Musim Libur Nataru Tahun Ini
Wisatawan mancanegara menikmati suasana di dekat patung gajah mina, Pantai Pererenan, Badung, Bali, Rabu (1/10/2025). Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Bali mencatat sektor pariwisata mendongkrak realisasi penerimaan pajak di Pulau Dewata pada Agustus 2025 mencapai Rp10,27 triliun atau tumbuh 9,97 persen dibandingkan periode sama di tahun lalu yakni sebesar Rp9,34 triliun, seiring dengan jumlah kedatangan wisatawan mancanegara selama Januari-Agustus 2025 mencapai 4,8 juta orang atau naik 12,4 persen dibandingkan periode sama di tahun 2024. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gubernur Bali, Wayan Koster, membantah isu sepinya kunjungan wisatawan selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) tahun ini. Dia menyebut, kunjungan wisatawan mancanegara menembus angka 20 ribu kunjungan per hari pada periode Nataru ini. Angka tersebut lebih tinggi daripada periode sebelumnya yang berada di angka 17–18 ribu per hari.

"Bohong [isu Bali sepi]. Saya punya data. Setiap hari totalnya meningkat. Tempo hari naik 11 persen. Hitung saja data per hari ini, sekarang 6,7 juta. Naik 400 ribu dibandingkan tahun 2024," kata Koster setelah Rapat Paripurna di Kantor Gubernur Bali, Senin (22/12/2025).

Koster menilai, lenggangnya lalu lintas dan sepinya panggilan kerja sopir pariwisata disebabkan karena Bali sedang mengalami musim penghujan yang memengaruhi aktivitas wisatawan di luar ruangan. Dia mengeklaim mengantongi data riil dari Angkasa Pura dan Dinas Pariwisata untuk kunjungan wisatawan ke Bali.

"Sekarang musim hujan, banjir. Mungkin orang datang ke Bali tidak untuk jalan-jalan, banyak yang istirahat. Ini datanya riil," tambahnya.

Selain itu, Koster memprediksi rendahnya tingkat okupansi hotel disebabkan karena banyaknya wisatawan yang menggunakan aplikasi AirBnB. Penggunaan aplikasi tersebut dinilai menyebabkan wisatawan dapat melenggang tanpa membayar pajak dan sulit untuk ditelusuri.

Peningkatan jumlah wisatawan yang tidak sebanding dengan tingkat hunian hotel dan kunjungan restoran tersebut juga menyebabkan Menteri Investasi mengirim surat kepada Gubernur Bali untuk membuat Peraturan Gubernur terkait AirBnB.

"Saya cek hotel, terendah 60 persen. The Meru itu 80 persen, yang berbintang di Nusa Dua itu 80 persen. Sebenarnya bisa lebih tinggi daripada itu, tapi sekarang ada AirBnB dan lainnya. Banyak rumah kos segala macam difungsikan sebagai penginapan," jelas Koster.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya, senada dengan Gubernur Bali. Dispar melihat, peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara telah terjadi sejak tanggal 14 Desember. Demikian pula wisatawan Nusantara yang mulai mengalami kenaikan sejak tanggal 19 Desember.

"Kalau ritme kehadiran wisatawan per tahunnya memang di Bali ada high dan low season. High season ada di Juni, Juli, Agustus, dan September. Setelah itu, memang ada penurunan secara alami, tapi tidak begitu tajam dan itu biasa dari tahun ke tahun. Nanti menjelang Natal dan Tahun Baru akan naik kembali," terang Sumarajaya.

Sumarajaya menilai cuaca sangat berpengaruh kepada kondisi pariwisata yang ada di Bali. Namun, berdasarkan laporan yang diterima Dispar Bali, beberapa tempat wisata sudah mengalami peningkatan kegiatan pada periode libur Nataru ini.

"Kami juga sudah mengeluarkan imbauan agar kita menjaga kenyamanan dan keamanan di cuaca penghujan, serta imbauan kepada pelaku usaha agar menyiapkan SOP dan menyosialisasikan do(s) and don't(s)," ucapnya.

Ketua Pengusaha Hotel dan Restoran (PHRI) Badung, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya, mengatakan okupansi hotel akan meningkat signifikan saat tanggal 20–27 Desember untuk libur Natal dan 27 Desember hingga 5 Januari untuk libur Tahun Baru.

Rai menilai, saat ini karakter turis yang berkunjung ke Bali kebanyakan yang mengonfirmasi secara last minute (mendadak) melalui online travel agent (OTA). Terlebih, hampir 70 persen bisnis pariwisata di Bali menggunakan OTA.

"Situasi dan kondisi juga berpengaruh. Banyak berita-berita yang kurang baik bagi Bali, terutama isu lingkungan, sampah, kemacetan, dan infrastruktur. Isu penutupan sampah TPA Suwung itu cukup juga menjadi momok," terang Rai.

Mengenai tren wisatawan saat ini, Rai melihat wisatawan cenderung menginginkan tempat baru yang sedang naik daun, seperti di Chiang Mai (Thailand), Vietnam, dan Filipina. Namun, Bali dinilai akan tetap diminati sampai kapan pun karena keunikan tradisi dan budaya yang dimilikinya.

"Bali sudah lama dikenal dan banyak repeat guest [kunjungan berulang] yang datang ke Bali. Karakter orang Bali yang sangat ramah dan jujur harus dipertahankan, jangan sampai degradasi," tutupnya.

Baca juga artikel terkait NATARU 2026 atau tulisan lainnya dari Sandra Gisela

tirto.id - Insider
Kontributor: Sandra Gisela
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Siti Fatimah