Menuju konten utama

Pemerintah Siapkan Stimulus PPh Pasal 21 DTP Sektor Pariwisata

Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2025 dinilai akan didorong oleh cukup tingginya pertumbuhan impor barang modal.

Pemerintah Siapkan Stimulus PPh Pasal 21 DTP Sektor Pariwisata
Sesmenko Perekonomian Susiwijono (kiri) didampingi moderator Tomi Aryanto (kanan) memberi keterangan kepada wartawan terkait gempa bumi di Situbondo di area penyelenggaraan pertemuan tahunan IMF World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10/2018). ANTARA FOTO/ICom/Am IMF-WBG/Zabur Karuru/hp/2018
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pemerintah tengah menyiapkan insentif baru untuk mengenjot pertumbuhan ekonomi hingga 5,4 persen di tahun ini. Sekretaris Kemenko Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, salah satu stimulus tersebut adalah Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk para pekerja di sektor pariwisata hingga pemberian bantuan subsidi upah (BSU).

Selain itu, insentif juga diberikan dalam bentuk diskon tarif tiket pesawat, tarif tol, tarif kereta, diskon belanja, hingga Pajak Pertambahan Nilai (PPN) DTP untuk sektor perumahan, serta pembebasan PPh dan PPN atas Barang Mewah (PPnBM) di sektor tertentu.

“Sudah pasti instrumen APBN menjadi pendorong utama, bagaimanapun struktur ekonomi kita masih sangat tergantung dengan APBN. Jadi kalau membaca fenomena sejak awal tahun, dengan merubah struktur APBN sedikit akan berdampak sekali ke PDB kita. Beberapa dorongan kebijakan jangka pendek yang selalu kita tempuh,” ujarnya dalam acara Midyear Challenge 2025, di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (29/7/2025).

Susi menuturkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2025 diproyeksikan akan mencapai 5,4 persen, sementara di kuartal II 2025 diramal akan berada di kisaran 4,9 persen.

Menurutnya, ekonomi Indonesia yang masih tumbuh di kuartal II 2025 didorong oleh cukup tingginya pertumbuhan impor barang modal yang membuat industri manufaktur masih bergeliat, kendati dalam beberapa bulan terakhir kinerja industri manufaktur masih memasuki zona kontraksi. Dalam 6 bulan ke depan, Susi, sapaan Susiwijono, memperkirakan industri manufaktur akan berekspansi seiring dengan peningkatan barang modal tersebut.

“Beberapa indikator akhir-akhir ini juga seperti indeks PMI kita, ini kan sudah di bawah 50 artinya di level kontraksi, walaupun kemarin kita di level ekspansi dalam beberapa bulan, namun di sisi yang lain yang mengembirakan, dua bulan ini impor barang modal itu cukup tinggi, artinya apa? Kita bisa berharap kalau capital goods yang masuk banyak,” tuturnya.

Di sisi lain, kontribusi konsumsi rumah tangga juga masih berada di kisaran 55 persen dari total PDB nasional, dengan sumbangan investasi khususnya dari pembentukan modal tetap bruto (PMTB) masih berada di kisaran 25-30 persen dari PDB.

“Intinya, kalau kita simpulkan dari dua indikator komponen PDB (Produk Domestik Bruto) kita, kita masih optimis ekonomi kita di tahun ini,” katanya.

Baca juga artikel terkait PPH 21 atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana