Gangguan Ginjal Akut Misterius

Pemerintah Prematur Simpulkan Obat Sirop Penyebab Ginjal Akut?

Reporter: Riyan Setiawan, tirto.id - 8 Nov 2022 10:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Kemenkes sebut secara nasional 70-90% kasus gangguan ginjal akut misterius secara data konsisten faktor terbesar karena EG dan DEG.
tirto.id - Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito Yogyakarta mengungkap fakta yang menarik tentang kasus gangguan ginjal akut misterius yang belakangan menjadi perhatian publik. Dari empat pasien yang diperiksa, hanya satu pasien saja terdeteksi positif dietilen glikol (DEG) dalam darah.

Kasus serupa juga terjadi di Tasikmalaya, Jawa Barat. Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Uus Supangkat mengatakan, kasus kematian anak akibat gangguan ginjal akut misterius di wilayahnya bukan karena mengonsumsi obat sirop yang dilarang Kemenkes. Hal ini sesuai keterangan keluarga pasien bahwa mereka selama ini tidak mengonsumsi sirop yang dilarang pemerintah.

Padahal pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menyimpulkan bahwa dugaan terjadi kasus gangguan ginjal akut misterius disebabkan oleh obat sirop yang mengandung cemaran etilon glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG). Namun kenyataannya, ditemukan kasus tanpa cemaran EG dan DEG.

Peneliti Keamanan dan Ketahanan Kesehatan Global, Dicky Budiman menilai, pemerintah terlalu terburu-buru menyimpulkan bahwa kasus gangguan ginjal akut karena obat sirop yang mengandung cemaran EG dan DEG.

“Ini yang dari awal saya ingatkan bahwa terlalu prematur untuk menyimpulkan satu-satunya penyebab adalah dari gagal [gangguan] ginjal akut itu cemaran EG dan DEG dari obat sirop," kata Dicky kepada reporter Tirto, Senin (7/11/2022).

Fakta tersebut diungkap Direktur Utama RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, Eniarti. Ia mengatakan pihaknya telah merawat 12 pasien gangguan ginjal akut misterius pada anak. Dari jumlah tersebut, enam pasien sudah dinyatakan sembuh, sementara enam lainnya meninggal dunia.

Kemudian dari jumlah tersebut, enam berdomisili di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan enam dari luar DIY.

Sebanyak empat dari 12 pasien gangguan ginjal akut misterius pada anak itu telah dilakukan pemeriksaan biopsi ginjal, pemeriksaan panel patogen, dan metagenomik. Dari empat pasien ini, tiga di antaranya dilakukan pemeriksaan toksikologi darah dan urine.

“Dari hasil panel patogen ini, ada yang terdeteksi dan ada yang tidak terdeteksi, dan ada yang memang tidak dilakukan pemeriksaan karena pasiennya ini ada yang sudah meninggal dan juga tentunya ada yang sudah dipulangkan,” ucap Eniarti melalui konferensi pers secara daring, Jumat (4/11/2022).

Berdasar hasil panel patogen, dia menyebut ada satu yang terdeteksi adenovirus, dua terdeteksi SARS-CoV-2, satu terdeteksi influenza, serta dua terdeteksi staphylococcus sp.

Sedangkan pada hasil toksikologi, pada 26 Oktober 2022, RSUP Dr. Sardjito mendapat informasi hasil pemeriksaan toksikologi yaitu terdapat satu pasien terdeteksi positif dietilen glikol (DEG) dalam darah.

“Di mana untuk etilen glikol (EG) ini memang dari tiga pasien ini memang tidak terdeteksi, tetapi ada satu yang dietilen glikol, DEG, ini positif. Jadi ada satu pasien yang kita temukan adanya DEG,” kata Eniarti.

Berdasarkan data Kemenkes, hingga 6 November 2022, terdapat 324 kasus gangguan ginjal akut misterius pada anak di 28 provinsi di Indonesia. Dari total 324 kasus ini, 195 anak yang sudah meninggal karena penyakit itu, 27 lainnya masih dirawat, serta 102 anak sudah dinyatakan sembuh.


Pemerintah Dinilai Gegabah

Dicky pun menilai pemerintah terlalu gegabah menyimpulkan kasus gangguan ginjal akut disebabkan cemaran EG dan DEG dari obat sirop. Pasalnya, dasar dan data Kemenkes sangat lemah, ditambah fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat dan pengawasan yang masih sangat minim.

“Ini yang memang harus direspons serius. Jadi bukan dianggap biasa-biasa saja, ini yang saya khawatirkan saat ini dan kesimpulan yang terlalu prematur," ucap Dicky.

Dicky yang juga epidemiolog dari Griffith University ini memandang, banyak sekali faktor yang menjadi penyebab gangguan ginjal akut misterius pada anak di Indonesia.

“Bicara penyebab tentu kita tidak bisa langsung memastikan sebelum ada kajian atau studi yang cukup kuat bahwa ini dikaitkan hanya karena misalnya COVID, atau kaitan dengan Long COVID, atau obat saja. Karena semuanya masih mungkin ya atau bahkan saling berkontribusi,” ujarnya.

Jika dilihat, ia menuturkan dalam literatur terdapat kasus gangguan ginjat akut pada pasien yang terinfeksi COVID-19, beberapa waktu setelah dia terinfeksi COVID-19, atau dikaitkan dengan Long COVID-19, serta dikaitkan dengan mengonsumsi obat tertentu, misalnya yang mengandung DEG dalam kadar tertentu dan bisa menyebabkan gangguan ginjal akut.

Menurutnya, hal tersebut harus ditindaklanjuti dan dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Mulai dari riwayat penyakitnya atau apakah ada infeksi sebelumnya, kondisi penyakit saat ini, dan bukan hanya memeriksakan urine serta darahnya saja, tetapi diperlukan pemeriksaan feses.

“Karena banyak dari kasus seperti ini kan mengalami diare juga. Jadi semua hal yang berpotensi akan dilihat, termasuk konsumsi obat-obatan,” imbuhnya.

Dicky menambahkan, bukan hanya obat batuk saja yang dilihat, namun juga obat-obatan lain. Misalnya obat penurun demam.

“Ini bisa banyak sekali kemungkinan. Nah, artinya untuk cari jawabannya [penyebab gangguan ginjal akut misterius pada anak], akan menunggu data itu ya,” kata dia.

Ia juga menyebut contoh-contoh yang sering menjadi penyebab gangguan ginjal akut secara umum. Antara lain hipertensi yang tidak terkendali, diabetes, atau mungkin ada infeksi virus, dan atau diare berat yang menyebabkan pasien dehidrasi berat.

Selain itu, juga ada faktor-faktor zat kimia, misalnya DEG yang menjadi salah satu sering menjadi kejadian luar biasa atau KLB (outbreak) terjadinya gagal ginjal akut di dalam beberapa literatur.



Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K Lukito juga menyatakan bahwa cemaran EG dan DEG belum dapat disimpulkan terdapat kaitannya dengan kasus gangguan ginjal akut misterius.

Hal tersebut dikatakan Penny saat melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Kemenkes dan DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (2/11/2022).

“Kami juga tetap melihat bahwa hasil uji cemaran EG dan DEG ditemukan pada produk TMS [tidak memenuhi syarat] ini juga belum dapat kami simpulkan bahwa ini ada kaitannya kausalitas sebab akibat dari kematian atau kesakitan," kata Penny.

Ia menuturkan BPOM masih membutuhkan kajian yang mendalam untuk menyimpulkan adanya kaitan antara cemaran ED dan GED terhadap penyakit gangguan ginjal akut misterius.

“Kalau korelasi [cemaran EG dan DEG sebabkan gangguan ginjal akut] dimungkinkan. Tetapi kalau sebab akibat itu, membutuhkan suatu pendalaman, lebih jauh lagi dan untuk obat harus selalu satu persatu karena dimungkinkan ada kombinasi efek dari penyebab lainnya," ucapnya.

Bahkan, kata Penny, obat dimungkinkan menggunakan cemaran ED dan DEG dalam batas tertentu. "Ambang batas aman atau Maximum Tolerable Daily Intake [MTDI] cemaran EG dan DEG sebesar 0,5 mg/kg berat badan perhari," jelas dia.


Kemenkes Sebut EG dan DEG Faktor Terbesar

Kemenkes menjelaskan alasan buru-buru memberikan kesimpulan tersebut karena setelah dilakukan penelitian, cemaran EG dan DEG merupakan faktor terbesar kasus gangguan ginjal akut misterius pada anak.

Ia menjelaskan, secara nasional 70-90% kasus gangguan ginjal akut misterius secara data konsisten faktor terbesar karena EG dan DEG.

“Alasan nyatakan itu karena memang EG DEG faktor risiko terbesar. Jadi pola kekonsistenan di pemeriksaan itu yang diambil sebagai diagnosis kerja," kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi kepada reporter Tirto, Senin (7/11/2022).

Ia pun mengklaim dari hasil penelitian Kemenkes itu akhirnya banyak anak-anak yang sembuh dan mampu menekan angka kasus hingga kematian serendah mungkin.

Ia juga menjawab mengapa Kemenkes berbeda dengan BPOM yang tidak terburu-buru menyimpulkan jika cemaran EG dan DEG penyebab terjadinya kasus gangguan ginjal akut misterius.

“Ini, kan, untuk menyelamatkan nyawa ya. Kalau kita tidak menduga bahwa ini adalah faktor EG dan DEG, bagaimana kami mau kasih obatnya? Karena saat kami kasih penawarnya, bagus kan hasilnya, angka kematian turun kan, tapi memang sekarang ini sedang ada studi terkait itu untuk melihat hubungan kausalitasnya," tuturnya.

Sementara mengenai kasus di RS Sardjito Yogyakarta, Nadia menuturkan, pasien yang tidak tercemar EG dan EDG karena belum sempat diperiksa toksikasi. Kemudian bagi pasien yang sudah diperiksa toksikasi namun tidak tercemar EG dan EDG lantaran toksikasinya rendah.

“Faktor lain itu bisa karena dia [pasien negatif tercemar EG dan DEG yang diperiksa] sudah dialisa cuci darah anaknya. Karena kalau kadar toksinnya dikit, dengan cuci darah itu hilang [cemaran EG dan DEG], nggak bisa terdeteksi lah. [Karena] ada kadar tertentu yang bisa mendeteksi zat tersebut," terangnya.


Baca juga artikel terkait GANGGUAN GINJAL AKUT atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Abdul Aziz

DarkLight