Menuju konten utama
Mozaik

Pelabuhan Pariaman, Syekh Burhanuddin, dan Perang Padri

Budaya bahari di Pariaman yang menjadikannya melting pot melahirkan seorang ulama besar. Kelak murid-muridnya berpengaruh dalam tasawuf dan Perang Padri.

Pelabuhan Pariaman, Syekh Burhanuddin, dan Perang Padri
Ilustrasi pelabuhan zaman dulu. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Pariaman berada di pesisir Sumatra Barat. Sebagai wilayah perdagangan, pelabuhan di daerah ini menjadi penghubung Minangkabau dengan dunia luar.

Sebagaimana disinggung oleh Armando Cortesao dalam Suma Oriental karya Tome pires : Perjalanan dari Laut Merah ke Cina & buku Francisco Rodrigues (2018), Tome Pires yang merupakan penjelajah Portugis pernah singgah di Nusantara dan telah mencatat hadirnya Pariaman sebagai wilayah mandiri yang terpisah dari kekuasaan Minangkabau.

Pires menyaksikan bahwa Pariaman merupakan keran utama dari terdistribusinya emas Pantai Barat Sumatra yang terkenal. Pelabuhan Pariaman bersama dengan Barus dan Tiku merupakan rekanan dagang tepercaya orang-orang Gujarat di Sumatra, tempat mereka biasa membawa banyak komoditas berharga dari India dan Persia.

Kemapanan Pariaman sebagai pelabuhan internasional secara kultural telah membentuknya sebagai melting pot dari berbagai kebudayaan di sepanjang jalur barat di Sumatra. Sisa-sisa dari peristiwa diserapnya pengaruh kebudayaan dari luar Minangkabau ke wilayah Pariaman masih bisa dijumpai sampai hari ini.

Efrianto A. dalam "Jejak Peradaban Masa Lalu di Kota Pariaman" (2016), misalnya, mengidentifikasi hal itu dengan menelusuri nama-nama gelar dalam masyarakat Minangkabau di Pariaman. Sebagai contoh, gelar "Sidi" yang jamak digunakan oleh orang Pariaman merupakan turunan dari gelar Arab "Sayidi" yang berarti pemimpin. Begitu juga dengan gelar "Marah"—seperti pada nama Marah Rusli (pengarang novel Sitti Nurbaya)—yang berasosiasi dengan bahasa Aceh "Maurah" yang berarti raja kecil.

Selain itu, wilayah pesisir tempat bercampurnya berbagai kebudayaan ini telah memunculkan beberapa peristiwa sejarah yang menarik, yang besar pengaruhnya dalam kehidupan orang Minangkabau sampai hari ini. Peristiwa-peristiwa itu secara tidak langsung telah membentuk prinsip "adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah", hingga stereotipe terhadap orang Minang.

Syekh Burhanuddin: Ulama Asli Minang Awal

Pelabuhan Pariaman kemudian menjadi salah satu pintu gerbang datangnya agama Islam ke Nusantara. Dan tokoh sentral dalam narasi ini adalah Syekh Burhanuddin dari Ulakan.

Dikutip dari tesis Agustianda berjudul Perkembangan Pemikiran Tasawuf Syekh Burhanuddin di Kalangan Masyarakat Minang Kota Medan (2016), Syekh Burhanudin adalah orang asli Pariaman yang sebelumnya bukan pemeluk Islam. Ia hidup di sekitar abad ke-17 M, berasal dari Guguak Sikaladi Pariangan di Ulakan, Pariaman.

Syekh Burhanuddin yang saat itu masih bernama Buyuang Pono hidup di daerah pesisir sehingga banyak mengenal orang dari berbagai latar belakang. Suatu saat ia berjumpa dengan seorang Gujarat yang tengah berdakwah. Ia bersimpati kepada orang Gujarat itu lantas memeluk Islam. Oleh gurunya (orang Gujarat), dia diperintahkan untuk memperdalam Islam.

Mula-mula, Buyuang Pono berguru pada seorang ulama asal Madinah yang bernama Syekh Abdul Arif. Setelah itu, Pono pindah ke Aceh dan menuntut ilmu pada Syekh Abdur Rauf as-Singkili.

Seperti disinggung Ridwan Arif dalam "Sejarah Islamisasi Minangkabau: Studi terhadap Peran Sentral Syekh Burhanuddin Ulakan" (2020), datangnya Pono ke Aceh mungkin sekali terjadi pada pemerintahan Sultanah Shāfiyatuddīn Shah (1641-1675) di Kesultanan Aceh.

Kala itu gerakan tarekat Syattariyah tengah berkembang pesat di Kesultanan Aceh semenjak as-Singkili hadir sebagai ulama dominan yang menggantikan kedudukan Hamzah Fansuri yang kental dengan tarekat Qadiriyah. Kala itu, as-Singkili baru kembali dari Makkah, tempat ia berguru langsung kepada dua penggerak tarekat Syattariyah, yakni Ibrahim bin Hasan Al-Kurani dan Ahmad al-Qushashi.

As-Singkili bisa menarik hati Pono dan ia pun berguru pada mufti besar Aceh itu selama hampir 30 tahun. Oleh gurunya itu, Pono kemudian diberi gelar "Burhanuddin" yang ia gunakan hingga akhir hayatnya.

Setelah berguru dengan as-Singkili, Burhanuddin kembali ke Minangkabau dan menetap kembali di Ulakan. Ia menggaet seorang sahabatnya yang juga masih kerabatnya sendiri, yakni Khatib Majolelo untuk menyebarkan ajaran Islam.

Bersama empat murid dari Aceh, ia mendirikan sebuah surau di Tanjung Medan. Surau ini sebagaimana disebut Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (1998) merupakan yang tertua di seluruh Minangkabau. Dari sana ia membangun semacam pesantren yang dijadikan tempat syiar Islam.

Lahirnya Kultur Tasawuf sampai Perang Padri

Burhanuddin merupakan sosok yang mengerti medan politik, ia tahu bahwa jalan tercepat dalam menyebarkan Islam adalah dengan mendekati para penghulu adat di dataran tinggi Luhak Nan Tigo.

Duski Samad dalam Syekh Burhanuddin Ulakan dan Islamisasi di Minangkabau: Syarak Mendaki Adat Menurun (2003), menyebut langkah nyata dari visi Burhanuddin dalam mendekati para pemangku adat adalah dengan menemui Basa Ampek Balai (dewan di bawah Raja Pagaruyung) di Bukit Marpalam.

Pertemuan itu melahirkan Perjanjian Marapalam, yang isinya secara tidak langsung bentuk negosiasi distribusi kuasa antara para ulama dan pemangku adat. Perlahan tapi pasti perjanjian ini membuahkan hasil, secara signifikan Burhanuddin berhasil mengislamkan berbagai daerah di seluruh penjuru Minangkabau.

Murid-murid dari Burhanuddin pada masa-masa berikutnya senantiasa memegang peranan yang sangat penting. Agustianda dalam tesisnya (2016) membeberkan keterangan dalam salah satu silsilah transmisi sanad dari Syekh Burhanuddin. Sosok ini di dalam uraian sanad itu demikian bepengaruh dalam perkembangan pemikiran dan pergerakan Islam di Minangkabau.

Syekh Burhanuddin memiliki sosok murid yang bernama Tuanku Nan Tuo Mansiangan yang menjadi guru dari Tuangku Nan Tuo Cangkiang Ampek Angkek, yang memilih mengembangkan Tarekat Naqsyabandiyah. Melalui garis murid-guru Tuangku Nan Tuo Cangkiang ini juga ada murid yang bernama Tuanku Nan Renceh yang kelak jadi bagian dalam kisah Perang Padri di Ranah Minang.

Pariaman melalui Syekh Burhanuddin menjadi saksi tentang kebudayaan bahari yang memengaruhi jalan sejarah satu wilayah yang cakupannya begitu luas.

Baca juga artikel terkait ULAMA atau tulisan lainnya dari Muhamad Alnoza

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Muhamad Alnoza
Penulis: Muhamad Alnoza
Editor: Irfan Teguh Pribadi