tirto.id - Perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel vs Iran yang kini memasuki pekan ketiga berimbas pada naiknya harga minyak mentah dunia. Hingga pukul 23.38 waktu rata-rata Inggris atau Green Mean Time (GMT), harga minyak mentah berjangka Brent melonjak 2,01 dolar AS atau 1,95 persen ke level 105,15 dolar AS per barel.
Lonjakan itu sedikit melandai, setelah pada Minggu (15/3/2026) sempat melonjak hingga 3 persen ke kisaran 106 dolar AS per barel. Sementara, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 1,61 dolar AS atau 1,63 persen menjadi 100,32 dolar AS per barel.
Kedua kontrak minyak tersebut tercatat melonjak lebih dari 40 persen sepanjang bulan ini dan mencapai level tertinggi sejak 2022.
Mengutip Aljazeera, kenaikan terakhir terjadi setelah Presiden AS Donald Trump meminta negara-negara lain untuk membantu Washington membuka kembali Selat Hormuz, yang biasanya mengangkut sekitar seperlima dari pasokan minyak global.
Proposal Trump sejauh ini mendapat tanggapan tidak jelas, termasuk dari Cina, Jepang, Prancis, dan Inggris - yang secara terbuka berkomitmen untuk mengerahkan angkatan laut mereka ke jalur air yang kritis tersebut untuk melakukan pengamanan.
Namun, dalam sebuah wawancara dengan The Financial Times pada Minggu, Trump mengatakan bahwa NATO akan menghadapi masa depan yang "sangat buruk" jika proposalnya tidak mendapat tanggapan, atau mendapat penolakan.
Sementara itu, sebagai balasan atas serangan AS dan Israel, Iran memutuskan untuk menutup akses selat Hormuz, khususnya bagi kapal tanker. Untuk mengantisipasi gangguan rantai pasok minyak dunia, Badan Energi Internasional berkomitmen untuk mengeluarkan pasokan cadangannya. Menjaga agar kenaikan harga minyak mentah global tidak bergerak semakin liar.
Harga minyak global telah naik lebih dari 40 persen sejak awal perang, mendorong kenaikan harga bahan bakar dan meningkatkan kekhawatiran perlambatan ekonomi global.
Menurut pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO), tidak lebih dari lima kapal telah melewati selat ini setiap hari sejak dimulainya perang, dibandingkan dengan rata-rata historis 138 transit harian. Setelah serangan dilancarkan pada 28 Februari, setidaknya 16 kapal komersial telah diserang di wilayah tersebut.
Trump telah berulang kali mengatakan bahwa dia bersedia mengerahkan Angkatan Laut AS untuk mengawal pengiriman komersial melalui selat tersebut, yang berbatasan dengan Iran, Oman, dan Uni Emirat Arab.
Meski begitu, pejabat pemerintahan Trump mengatakan bahwa kapal perang tidak akan dikerahkan ke jalur air sampai kapasitas militer Teheran semakin terdegradasi, tetapi mereka mengharapkan operasi semacam itu akan segera dimulai.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id





































