Menuju konten utama
Horizon

Muhammad Jazir Merobohkan Wajah Masjid yang Kaku dan Dingin

Di tangannya, masjid tak lagi angkuh, doyan mengusir, dan buntu solusi. Ia menjadikan masjid sebagai tempat pelayanan dan pusat penyelesaian masalah hidup. 

Muhammad Jazir Merobohkan Wajah Masjid yang Kaku dan Dingin
Ustaz Muhammad Jazir ASP. instagram/masjidjogokariyan

tirto.id - Kabar duka itu datang dari Yogyakarta. Kesedihan menyelimuti takmir, aktivis dakwah, para jemaah, dan seluruh umat Islam di Tanah Air. Muhammad Jazir, tokoh yang puluhan tahun menjadi motor penggerak perubahan tata kelola masjid, berpulang pada Senin, 22 Desember 2025.

Jazir menolak wajah masjid yang kaku dan dingin. Ia adalah ide, gerakan, sekaligus protes panjang terhadap dehumanisasi di rumah ibadah.

Anatomi Masjid yang Terkunci

Dalam lanskap keberagamaan Indonesia, hampir tidak ada yang lebih miris daripada gambaran sebuah masjid yang dikunci erat-erat. Ruang ibadah yang seharusnya menjadi jantung komunitas berubah menjadi bangunan terasing, tidak lagi hidup.

Toilet digembok, menolak anak-anak bermain, pagar dikunci di luar waktu salat, seolah rumah Tuhan punya jam operasional. Ada pula jemaah yang hilang sandal atau sepeda motor saat beribadah, lalu mendapat respons dingin dari pengurus masjid.

Lebih jauh, sektarianisme merambah. Di Bekasi, seorang jemaah diusir hanya karena perdebatan soal masker. Atau lebih tragis, seorang pemuda bernama Arjuna Tamaraya, yang tertidur, dikeroyok hingga tewas di Masjid Agung Sibolga pada November lalu. Ketertiban bangunan dianggap lebih suci daripada nyawa manusia.

Kisah-kisah itu mencerminkan penyakit sistemik dalam pengelolaan masjid di Indonesia. Ketidakramahan, kekakuan, dan hilangnya pemahaman bahwa masjid seharusnya menjadi pelindung, bukan pengusir umat.

Masalah mendasar terletak pada pola manajemen masjid yang tersegmentasi dan tertutup. Menurut penulis buku Dinamika Pemikiran Islam Kontemporer (2013) Achmad Fachrudin, banyak pengurus masjid dipilih berdasarkan senioritas dan kedekatan keluarga, bukan kompetensi.

Mereka tidak memiliki visi tertulis, tidak ada program jangka panjang untuk pemberdayaan umat, tidak ada transparansi keuangan yang dapat dipercaya. Uang yang masuk dihemat untuk operasional, seperti menggaji imam, membayar listrik, dan sesekali renovasi, lalu fungsi masjid menyusut menjadi sekadar tempat salat wajib lima waktu. Masjid kehilangan daya transformasi sosial.

Mereka terjebak pada patokan bahwa keberhasilan masjid diukur dari lantai yang bersih, karpet yang awet, dan saldo kas yang tebal. Dalam logika ini, manusia justru dianggap sumber risiko. Maka akses manusia dibatasi, demi menjaga aset tetap prima.

Dari sini lahir aturan-aturan keras yang terpampang di dinding masjid. Larangan tidur, larangan menyalakan listrik, larangan mandi di toilet, hingga pernyataan bahwa kehilangan bukan tanggung jawab pengurus.

Padahal umat membutuhkan ruang yang tidak hanya membimbing akidah dan ibadah, tetapi juga mengatasi kemiskinan, ketimpangan, degradasi moral, dan krisis identitas generasi muda.

Di tengah lanskap pintu terkunci dan wajah pengurus yang garang, Jazir hadir sebagai antitesis. Ia membawa kunci untuk membuka gembok besi dan membuka gembok hati yang membatu. Radikalitas Jazir terletak pada keberaniannya membalik paradigma ini.

“Masjid berfungsi sebagai tempat atau wahana dalam memecahkan persoalan umat, baik ekonomi, budaya, dan lain sebagainya,” begitu semangat yang ia bawa.

Revolusi Teologi dan Sosial Jogokariyan

Lahir di Yogyakarta pada 28 Oktober 1962, Muhammad Jazir digembleng ayahnya yang menjadi imam pertama Masjid Jogokariyan. Sejak kecil ia sudah akrab dengan ketakmiran masjid. Pada usia belia, ia sudah mengajar anak-anak sebayanya mengaji di langgar kecil. Memasuki remaja, ia mulai mengelola masjid dan mencalonkan diri menjadi ketua takmir.

Ia tumbuh sebagai buah matang dari pergerakan yang berakar di Yogyakarta, dengan profil yang memadukan intelektualitas akademis, aktivisme jalanan, dan kearifan lokal. Latar belakang pendidikannya sebagai mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) memberinya bekal untuk merumuskan sistem manajemen masjid yang rapi dan berkeadilan.

Kiprahnya melampaui dinding masjid. Jazir adalah seorang polimatik pergerakan. Pernah menjadi Tim Ahli Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada (UGM), aktif di AYODYA (Komunitas Keistimewaan DIY) yang menegaskan kecintaannya pada budaya lokal, serta berkiprah di Komisi Dakwah MUI DIY dan Badan Koordinasi Pendidikan Al-Qur'an dan Keluarga Sakinah Indonesia (BKPAKSI).

Namun, panggungnya yang paling besar tetaplah Masjid Jogokariyan. Berdiri sejak 1966 di Mantrijeron, Yogyakarta, masjid ini bukanlah masjid yang lahir di lingkungan santri taat. Kampung Jogokoriyan dulu dikenal sebagai basis Partai Komunis Indonesia (PKI) dan kaum abangan.

Menjadi takmir Masjid Jogokariyan di usia 37 tahun, Jazir muda melihatnya bukan sebagai hambatan, tetapi peluang dakwah. Ia tahu pendekatan dogmatis tak akan berhasil. Yang dibutuhkan adalah pendekatan sosiologis dan kultural dengan merebut hati masyarakat lewat layanan, bukan sekadar dalil.

Visi Jazir ialah mengembalikan fungsi masjid seperti di zaman Rasulullah, sebagai pusat peradaban. Masjid bukan hanya tempat ritual, melainkan jantung kehidupan kampung, balai pertemuan, pusat ekonomi, klinik kesehatan, sekaligus ruang rekreasi rohani.

“Dari masyarakat, oleh masyarakat, dan bagi masyarakat, itulah manfaat-manfaat masjid [yang] harus dirasakan,” ujarnya kepada Affan Safani Adham dari Telisik Indonesia.

Dalam setiap pengajian, Masjid Jogokariyan menanamkan berbagai pemahaman soal ketidakadilan bagi jemaahnya. Menurut Ahmad Muttaqin dalam kajian bertajuk “Social Movement in Pengajian at Jogokaryan Mosque”, sikap yang dilakukan oleh jemaah Masjid Jogokariyan adalah penguatan jati diri umat islam yang tidak takut dengan pemerintah ketika mengambil kebijakan yang dianggap merugikan umat Islam.

Langkah fundamental Muhammad Jazir ialah program “Sensus Masjid”. Ia dan tim mendata setiap kepala keluarga, mulai dari siapa yang salat, siapa yang belum, siapa miskin, siapa kaya, siapa muslim, siapa non-muslim.

Dengan peta dakwah yang akurat, program bisa dirancang tepat sasaran. Peta demografi, pendidikan, dan ekonomi warga, program bisa dirancang relevan. Mereka rutin melakukan distribusi sembako setiap 14 hari kepada 480 kepala keluarga yang membutuhkan.

 Muhammad Jazir

Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan, Muhammad Jazir saat diwawancarai di Masjid Jogokariyan pada Jumat, 27 Juni 2025. tirto.id/ Abdul Haris

Undangan salat Subuh dibuat personal layaknya undangan pernikahan, lengkap dengan doorprize. Sentuhan kecil ini membuat warga merasa dihargai, bukan digurui. Jazir mengubah masjid dari menara gading yang hanya mengumandangkan azan menjadi pusat solusi yang menjawab masalah nyata kehidupan.

Ia membongkar satu per satu mitos manajemen masjid yang selama ini dianggap pakem. Misalnya ia memperkenalkan program “Saldo Nol Rupiah”. Jazir gelisah melihat masjid-masjid bangga mengumumkan saldo kas ratusan juta, padahal uang infak seharusnya segera dimnafaatkan untuk umat.

Di Jogokariyan, saldo harus nol di akhir bulan. Menukil studi bertajuk “Accountability in Infaq Fund Management: The Case of Jogokariyan Mosque” (2025), dana infak langsung disalurkan untuk makan orang miskin, biaya sekolah yatim, renovasi rumah warga, hingga program dakwah.

Hasilnya, kepercayaan jemaah melonjak. Semakin cepat uang habis untuk kemaslahatan, semakin deras infak masuk. Jogokariyan membuktikan paradoks Ilahiah bahwa memberi tidak membuat miskin.

Kapitalisme menekankan akumulasi modal, sementara Islam menekankan sirkulasi. Uang harus berputar. Di Jogokariyan, infak dipakai untuk menggerakkan ekonomi warga, seperti pedagang lokal diberdayakan menyediakan takjil, jemaah yang menganggur diberi modal usaha. Masjid pun berfungsi sebagai lokomotif ekonomi mikro.

Langkah berikutnya adalah menjamin keamanan harta jemaah. Tulisan “Kehilangan Bukan Tanggung Jawab Pengurus” diganti dengan komitmen mengganti penuh barang yang hilang, dari sandal hingga sepeda motor.

Sejak 2003, masjid berani menanggung kerugian demi menjaga kekhusyukan salat. Pesan teologisnya masjid harus menjadi tempat paling aman. Dana belasan juta rupiah pernah dikeluarkan untuk mengganti motor hilang.

“Selama Ramadan kali ini kami sudah mengganti sekitar empat sandal. Harganya bervariasi ada yang Rp1,4 juta, ada yang ratusan ribu rupiah. Total untuk mengganti sandal jemaah yang hilang selama puasa ini sekitar Rp3,5 juta,” tutur Jazir , dilansir Harianjogja.com.

Terakhir, Jazir membuka pintu masjid selebar-lebarnya. Jogokariyan hidup 24 jam tanpa gembok. Ia paham kebutuhan umat kepada Tuhan tak mengenal jam kerja. Musafir bisa datang tengah malam, orang galau bisa menangis di sepertiga malam.

“Inilah yang saya lakukan. Masjidnya saya nyalakan lampunya pada malam hari. Sehingga ketika ada musafir atau orang yang lewat tentu mau singgah. Mau istirahat. Maka kami layani. Apa yang diperlukan oleh mereka. Kemudian ada orang yang kemalaman, mau numpang menginap, ya kami tawarkan. Silahkan kalau mau istirahat di sini,” katanya dalam sebuah acara di Masjid Amirul Haq Universitas Balikpapan.

Revolusi kecil yang dilakukannya, ketika dikumpulkan, menciptakan gelombang besar. Jogokariyan menjadi model manajemen masjid nasional. Ribuan pengurus dari Aceh hingga Papua datang berguru, video ceramahnya ditonton ratusan ribu kali. Jazir membuktikan bahwa masjid ramah, profesional, dan melayani bukanlah utopia. Itu nyata, bahkan di kampung yang dulu dikenal sebagai basis komunis.

Jejak yang Menjalar dan Wajah Baru Masjid Indonesia

Muhammad Jazir memang telah tiada, namun benih yang ia tanam di Jogokariyan kini menjelma menjadi pohon-pohon rindang di berbagai kota. Warisan terbesarnya memimpin masjid dengan semangat memanusiakan manusia.

Salah satu bukti nyata adalah Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi. Dipimpin Anggy, masjid ini secara radikal memproklamasikan diri sebagai markas anak muda. Mereka membuka pintu 24 jam tanpa gembok, menyediakan Wi-Fi kencang, ruang nongkrong yang instagramable, dan suasana santai namun tetap syar’i.

Musafir dilayani layaknya raja, bahkan kucing jalanan pun mendapat tempat. Masjid ini menghapus stigma bahwa masjid hanya untuk orang tua, menjadikannya ruang anak muda merayakan hidup.

Di Bandung, semangat Jazir hadir dalam Masjid Baitulhuda, yang dikenal sebagai “Masjid Makan-Makan”. Pengurusnya memahami bahwa dakwah sulit masuk ke hati jika perut lapar. Mereka menyediakan makan siang gratis setiap hari bagi siapa saja, mulai ojol, tukang sapu, mahasiswa, hingga pekerja kantoran.

Transparansi ala Jazir juga dijalankan lewat media sosial. Setiap kegiatan, setiap piring nasi, didokumentasikan dan dilaporkan. Donasi pun mengalir deras, menutup kebutuhan operasional besar. Baitulhuda membuktikan tesis Jazir bahwa melayani umat, maka Allah akan mencukupimu.

Masjid Sejuta Pemuda, Masjid Baitulhuda, dan ratusan masjid lain adalah monumen hidup bagi Jazir. Mereka menunjukkan bahwa ide-idenya bersifat universal, bisa diterapkan di kampung padat Yogyakarta, kota santri Sukabumi, atau metropolitan Bandung.

Muhammad Jazir telah memberi cetak biru; tugas generasi penerus adalah membangunnya sesuai konteks lokal masing-masing.

Baca juga artikel terkait MASJID JOGOKARIYAN atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Horizon
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi