Menuju konten utama

Menlu AS Ungkap Alasan Trump Serang Iran karena Israel

Menlu AS mengungkap alasan Trump menyerang Iran adalah karena mengikuti rencana Israel yang hendak menyerang Teheran.

Menlu AS Ungkap Alasan Trump Serang Iran karena Israel
Dalam gambar yang diperoleh dari kantor berita ISNA Iran ini, tim penyelamat mencari di antara reruntuhan bangunan yang runtuh di lokasi serangan terhadap sebuah lingkungan, di Teheran pada 28 Februari 2026. (Photo by AMIR KHOLOUSI / ISNA / AFP)

tirto.id - Serangan Israel dan Amerika Serikat ke Iran pada 28 Februari 2026 mengejutkan dunia karena terjadi di tengah negosiasi. Apa sebenarnya alasan AS serang Iran?

Kontroversi di dalam negeri muncul karena Presiden AS Donald Trump memerintahkan serangan ke Iran tanpa terlebih dahulu meminta persetujuan Kongres.

DPR AS dijadwalkan akan mempertimbangkan resolusi pembatasan kekuasaan perang (war powers resolution) yang bisa memaksa Trump menghentikan operasi militer meski peluang resolusi itu lolos dinilai kecil karena Partai Republik menguasai Kongres dan presiden juga memiliki hak veto.

Apa Alasan AS Gabung Israel untuk Serang Iran?

Setelah serangan ke Iran, Sekretaris Luar Negeri Marco Rubio bersama Direktur CIA John Ratcliffe dan Ketua Gabungan Kepala Staf Dan Caine datang ke Capitol untuk memberikan pengarahan tertutup kepada anggota Kongres.

Konflik ini bermula ketika Israel disebut sudah bertekad untuk menyerang Iran. Pemerintahan Presiden Donald Trump mengetahui rencana tersebut dan memperkirakan bahwa jika Iran diserang oleh siapa pun, Teheran hampir pasti akan membalas, termasuk dengan menyerang pasukan Amerika di kawasan itu.

Karena itulah, menurut Rubio, Washington memutuskan melakukan serangan pendahuluan (pre-emptive strikes) untuk mencegah serangan balasan Iran yang dinilai bisa menimbulkan korban lebih besar di pihak AS.

“Sangat jelas bahwa jika Iran diserang oleh siapa pun – Amerika Serikat atau Israel atau siapa pun – mereka akan membalas, dan membalas terhadap Amerika Serikat,” kata Rubio dikutip The Guardian.

“Kami tahu bahwa akan ada tindakan Israel. Kami tahu bahwa itu akan memicu serangan terhadap pasukan Amerika, dan kami tahu bahwa jika kami tidak secara preemptif menyerang mereka sebelum mereka melancarkan serangan tersebut, kami akan menderita korban yang lebih tinggi.” tambahnya.

Di sisi lain, Wakil Presiden JD Vance menegaskan bahwa tujuan utama AS adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir.

“Presiden ingin memperjelas kepada rakyat Iran dan dunia bahwa dia tidak akan berhenti sampai dia mencapai tujuan terpenting untuk memastikan bahwa Iran tidak dapat memiliki senjata nuklir,” kata wakil presiden.

Namun pernyataan pejabat pemerintah memunculkan pertanyaan karena Presiden Trump sebelumnya juga menyebut beberapa tujuan lain, seperti menghancurkan kemampuan rudal balistik Iran, melemahkan angkatan lautnya, dan memutus dukungan Iran terhadap kelompok proksi di Timur Tengah. Ketidakjelasan tujuan akhir inilah yang memicu perdebatan di Kongres.

Sejak konflik dimulai, AS dan Israel melancarkan gelombang serangan udara ke berbagai target di Iran. Iran membalas dengan serangan drone dan rudal ke negara-negara yang dianggap sekutu AS di Timur Tengah.

Serangan tersebut menewaskan sejumlah pejabat tinggi militer dan politik Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Militer AS mengakui enam tentaranya tewas, sedangkan otoritas Iran melaporkan lebih dari 500 orang meninggal di dalam negeri.

Reaksi di dalam negeri AS terbelah tajam. Partai Republik umumnya membela langkah Trump, menyebutnya sebagai tindakan defensif karena Israel menghadapi ancaman besar.

Ketua DPR dari Partai Republik, Mike Johnson, mengatakan Israel sudah pasti akan bertindak dengan atau tanpa dukungan AS. Sedangkan Partai Demokrat mengecam langkah tersebut sebagai “perang pilihan” tanpa strategi jelas.

Pemimpin Demokrat di Senat, Chuck Schumer, menyebut penjelasan pemerintah tidak memuaskan dan justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan.

“Ini adalah perang Trump. Ini adalah perang pilihan. Dia tidak punya strategi, dia tidak punya tujuan akhir,” tuding Schumer.

Di Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu membela serangan tersebut dengan mengatakan Iran sedang membangun fasilitas bawah tanah baru yang bisa membuat program rudal balistik dan nuklirnya kebal dari serangan dalam waktu dekat, meski telah dibantah oleh Iran sebelumnya.

“Jika tidak ada tindakan yang diambil sekarang, tidak ada tindakan yang dapat diambil di masa depan,” ungkap Netanyahu.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra