tirto.id - Seorang komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan bahwa Selat Hormuz ditutup. Sang komandan menyebut bahwa kapal mana pun yang mencoba melewatinya akan diserang.
Pernyataan itu disampaikan penasihat senior untuk panglima tertinggi IRGC, Ebrahim Jabari, pada Senin (2/3/2026). Seturut Al Jazeera, Jabarti mengancam kapal-kapal pelintas Selat Hormuz akan dibakar.
"Selat itu ditutup. Jika ada yang mencoba melewatinya, para pahlawan Garda Revolusi dan angkatan laut reguler akan membakar kapal-kapal itu," kata Jabari.
Selain Selat Hormuz, Teheran juga disebut telah menargetkan infrastruktur produksi energi di kawasan Teluk Persia. Menurut Jabari, pihaknya hendak membalas serangan AS-Israel dengan kenaikan harga minyak dunia.
"Kami juga akan menyerang jalur pipa minyak dan tidak akan membiarkan setetes pun minyak keluar dari wilayah tersebut. Harga minyak akan mencapai USD200 dalam beberapa hari mendatang," kata Jabari dalam sebuah unggahan saluran Telegram IRGC.
Sementara itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan telah menghancurkan kapal-kapal Iran di Teluk Oman. Pengumuman ini dikeluarkan CENTCOM pada Selasa (3/3/2026) dini hari melalui akun X resmi mereka, sebagaimana dikutip dari Iran International.
"Dua hari yang lalu, rezim Iran memiliki 11 kapal di Teluk Oman, hari ini mereka memiliki nol," tulis CENTCOM.
Harga Minyak Naik Imbas Penutupan Selat Hormuz
Harga komoditas energi dilaporkan telah naik sejak Senin pagi. Hal ini disebut sebagai dampak dari penutupan Selat Hormuz yang dikenal sebagai jalur utama bagi sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Hantaman paling parah terjadi pada sektor gas alam. Per Senin, harga komoditas ini telah naik hampir 50 persen di Eropa dan 40 persen di Asia. Hal ini sebagian besar dikarenakan penghentian produksi LNG oleh Qatar Energy akibat fasilitas produksi yang diserang Iran.
Sebelum itu, kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi juga diserang oleh drone. Serangan itu disebut berhasil dicegah oleh militer Saudi, sebagaimana dikutip kantor berita Saudi Press Agency. Ras Tanura merupakan kilang dengan kapasitas setengah juta barel per hari.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa pihaknya mengamati situasi harga komoditas energi imbas peperangan di kawasan Teluk itu. Menurutnya, AS telah menyiapkan sejumlah tindakan untuk mengurangi dampak kenaikan harga energi.
"Mulai besok, Anda akan melihat kami meluncurkan tahapan-tahapan tersebut untuk mencoba mengurangi dampaknya... Kami mengantisipasi ini supaya tidak jadi masalah," kata Rubio.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































