tirto.id - Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso, mengungkap bahwa nilai transaksi ekspor UMKM pada periode Januari hingga Juni 2025 (semester pertama) mencapai US$87,04 juta atau sekiranya Rp1,3 triliun. Jumlah tersebut berasal dari kegiatan penjajakan kesepakatan bisnis (business matching) oleh 609 UMKM yang tergabung dalam program UMKM BISA.
"Sebagian besar (80 persen) itu enggak ketemu, online dan menggunakan aplikasi, sementara 20 persen sudah deal (setuju), tetapi mau datang lihat lokasinya, suplainya. Biasanya yang seperti ini (yang datang langsung) justru jangka panjang," ungkap Budi ketika Pelepasan Ekspor Produk Lokal, Denpasar, Selasa (29/07/2025).
Untuk memfasilitasi kegiatan penjajakan kesepakatan bisnis tersebut, Indonesia telah mempunyai perwakilan atas perdagangan di Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) yang tersebar di 33 negara. Setiap harinya, UMKM tersebut akan melakukan presentasi kepada pembeli (buyer) dengan didampingi perwakilan dari Kementerian Perdagangan (Kemendag).
Sektor yang kerap menjadi unggulan Indonesia adalah produk olahan, seperti madu, kayu manis, vanili, kopi, dan kakao. Namun, Budi mengungkap, tantangan ekspor Indonesia adalah di bidang pengemasan. Menurutnya, banyak produk yang kemasannya kurang menarik dan tidak terstandar.
"Makanya, sebenarnya kita sekarang tinggal mengemas. Kita itu punya produk banyak, kita enggak kekurangan produk. Cuma produk kita kualitasnya belum kualitas untuk ekspor. Nah, itu yang kita benahi," bebernya.
Selain itu, Budi melihat tren ekspor Indonesia juga mengalami peningkatan secara nasional pada periode Januari hingga Mei 2025, yakni sebesar 6,95 persen. Dia menyakini, keran ekspor Indonesia, terutama untuk ekspor produk UMKM, dapat menjadi deras setelah dibukanya pasar baru di beberapa negara, misalnya di Kanada dan Uni Eropa.
"Kalau kita enggak punya perjanjian dagang, kadang-kadang kita juga susah masuk. Yang baru kemarin itu IEU-CEPA (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement), jadi Uni Eropa sebanyak 27 negara Eropa, sekarang sudah ada perjanjian dagang sengan Indonesia," ungkap Budi.
Saat ini, IEU-CEPA sedang dalam proses finalisasi dan legal drafting (penyusunan kontrak dan dokumen hukum). Dia menilai, IEU-CEPA dapat membuka kesempatan besar bagi Indonesia untuk masuk ke pasar Uni Eropa. Bahkan, beberapa produk memiliki tarif impor nol persen.
"Kesempatan kita luas. Di ASEAN, kita paling kecil di 19 persen (tarif impor Amerika Serikat) bersama dengan Filipina. Kita punya alternatif pasar baru di Uni Eropa. Banyak negara yang belum mempunyai perjanjian dagang dengan EU. Di ASEAN pun belum banyak dan kita salah satu yang sudah melakukan perjanjian itu," pungkasnya.
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































