Menuju konten utama

Mendag: Impor Baju Cacahan AS Buat Industri, Bukan Thrifting

Budi memastikan, laporan supervisor akan menjadi acuan untuk barang-barang yang memasuki Tanah Air dan menindak jika tidak sesuai laporan supervisor.

Mendag: Impor Baju Cacahan AS Buat Industri, Bukan Thrifting
Mendag Budi Santoso (tengah) didampingi Direktur CV Rumah Jeddiah Daniel Oktavianus (kanan) melihat produk sepatu buatan UMKM di sela pelepasan ekspor produk alas kaki di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (3/6/2025). Mendag Budi Santoso melepas ekspor produk alas kaki sebanyak 8.800 pasang dengan nilai 38.000 USD atau sekitar Rp619 juta ke Kuwait, Timur Tengah dari CV Rumah Jeddiah yang membina sekitar 50 UMKM di Jawa Timur. ANTARA FOTO/Moch Asim/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memastikan impor baju cacahan dari Amerika Serikat (AS) tidak akan dijual kembali dalam bentuk baju thrifting di Indonesia.

Hal ini ia sampaikan merespons kekhawatiran pelaku usaha terkait impor baju cacahan yang dikhawatirkan bakal dijual dalam bentuk baju thrifting. Menurut Budi, pemerintah memastikan bahan baku yang masuk Tanah Air merupakan bahan baku industri.

"Kan gini, kan sebelum impor ada LS-nya, laporan supervisor. Jadi, dipastikan barangnya [yang masuk Indonesia] memang barang untuk bahan baku industri. Ya, jadi ada laporan supervisor," ucapnya di kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Kamis (26/2/2026).

Budi memastikan, laporan supervisor akan menjadi acuan untuk barang-barang yang memasuki Tanah Air. Dengan adanya laporan supervisor, barang masuk yang tidak sesuai acuan dapat ditindaklanjuti.

"Jadi, dipastikan enggak ada masalah, karena sebelum ke sini ada LS, laporan supervisor selama ini kan ada," tutur dia.

Diberitakan sebelumnya, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan, kerja sama yang dijajaki oleh PT Pan Brothers Tbk dengan Ravel Holding Inc asal Amerika Serikat (AS) bukan berupa impor pakaian bekas (thrift).

Alih-alih mengimpor pakaian bekas, emiten berkode saham PBRX tersebut akan mendaur ulang worn clothing alias pakaian bekas berbasis katun maupun polyester.

Dalam hal ini, Pan Brothers akan mengolah cacahan atau parutan (shredded) pakaian bekas asal AS menjadi serat benang.

“Kalau Pan Brothers itu manufacturing. Jadi itu bukan thrifting, manufacturing adalah memproses baik berbasis katun atau polyester recycle. Tidak ada bicara thrifting,” jelas Airlangga dalam konferensi pers Perjanjian Perdagangan Timbal Balik Indonesia-AS secara daring, Jumat (20/2/2026).

Sementara itu, kesepakatan kerja sama antara Pan Brothers dengan Ravel Holding Inc ini diteken dalam gelaran Business Summit yang dihelat US-ASEAN Business Council (US-ABC), di Gedung U.S. Chamber of Commerce, Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (18/2/2026).

MoU tentang Shredded Worn Clothing antara Asosiasi Garment dan Textile Indonesia, Pan Brothers dan Ravel ini ditandatangani oleh CEO PAN Brothers, Ludijanto Setijo dan CEO Ravel, Zahlen Titcomb.

Selain Pan Brothers, kerja sama di bidang industri tekstil dan garmen juga dijajaki oleh Daehan Global dan US National Cotton Council melalui MoU tentang kapas yang ditandatangani oleh CEO of Daehan Global, Boo Hyung Lee dan Senior Government Relations Director for National Cotton Council, Jeff Kuckkuck.

Di sisi lain, kerja sama perdagangan lainnya terjadi di berbagai bidang, mulai dari pertambangan dan hilirisasi, energi, agribisnis, hingga manufaktur furnitur dan pengembangan teknologi.

Baca juga artikel terkait THRIFTING atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Andrian Pratama Taher