tirto.id - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, kerja sama yang dijajaki PT Pan Brothers Tbk (PRBX) dengan Ravel Holding Inc asal Amerika Serikat (AS) bukan berupa impor pakaian bekas atau thrifting.
Alih-alih mengimpor pakaian bekas, emiten berkode saham PBRX itu akan mendaur ulang worn clothing berbahan katun maupun poliester.
Dalam kerja sama tersebut, Pan Brothers akan mengolah cacahan atau parutan (shredded) pakaian bekas asal AS menjadi serat benang untuk kebutuhan manufaktur.
“Kalau Pan Brothers itu manufacturing. Jadi itu bukan thrifting, manufacturing adalah memproses baik berbasis katun atau polyester recycle. Tidak ada bicara thrifting,” jelas Airlangga dalam konferensi pers Perjanjian Perdagangan Timbal Balik Indonesia–AS secara daring, Jumat (20/2/2026).
Sebagai informasi, pembukaan keran impor pakaian bekas yang telah dicacah (shredded worn clothing) khusus hanya dari AS menjadi salah satu klausul dalam kerangka dokumen Agreement on Reciprocal Tariff (ART) yang ditandatangani pemerintah di Washington DC pada Kamis (20/2/2026).
Adapun kesepakatan kerja sama antara Pan Brothers dan Ravel Holding Inc diteken dalam ajang Business Summit yang diselenggarakan oleh US-ASEAN Business Council (US-ABC) di Gedung U.S. Chamber of Commerce, Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (18/2/2026).
Nota kesepahaman (MoU) terkait Shredded Worn Clothing tersebut ditandatangani oleh CEO Pan Brothers Ludijanto Setijo dan CEO Ravel Zahlen Titcomb, bersama Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia.
Selain Pan Brothers, kerja sama di sektor tekstil dan garmen juga dijajaki oleh Daehan Global dan National Cotton Council. Kedua pihak menandatangani MoU terkait pasokan kapas yang diteken oleh CEO Daehan Global Boo Hyung Lee dan Senior Government Relations Director National Cotton Council Jeff Kuckkuck.
Adapun kerja sama perdagangan lainnya mencakup berbagai sektor, mulai dari pertambangan dan hilirisasi, energi, agribisnis, hingga manufaktur furnitur dan pengembangan teknologi.
Dalam keterangan terpisah, Airlangga menyebutkan bahwa rangkaian kerja sama tersebut berpotensi menghasilkan nilai investasi sebesar 38,4 miliar dolar AS. Dari jumlah itu, 2,5 miliar dolar AS dialokasikan untuk sektor pertanian, sementara 35,9 miliar dolar AS mengalir ke sektor industri, termasuk kerja sama di bidang semikonduktor dan material industri strategis.
“Amerika Serikat merupakan mitra strategis utama Indonesia dalam perdagangan dan investasi. Forum ini menjadi momentum penting untuk memperdalam kolaborasi sektor swasta kedua negara, khususnya pada bidang inovasi digital, kecerdasan artifisial (AI), semikonduktor, mineral kritis, ketahanan rantai pasok, dan transisi energi,” kata dia.
Banyaknya komitmen yang diperoleh pemerintah dan pelaku usaha dalam sesi Business Summit tersebut mencerminkan tingginya kepercayaan dunia usaha internasional terhadap prospek ekonomi Indonesia. Di sisi lain, kesepakatan ini juga mempertegas posisi Indonesia sebagai mitra strategis di kawasan Indo-Pasifik.
Meski demikian, pemerintah memastikan akan terus mengawal realisasi setiap komitmen yang telah disepakati agar memberikan dampak nyata bagi perekonomian nasional.
“Melalui kesepakatan ini, pemerintah memastikan bahwa kolaborasi internasional yang terjalin mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing global,” tukas Airlangga.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































