Lapsus Wawas Lingkungan

Manfaatkan Aplikasi: Mengolah Sampah & Hasilkan Cuan Sejak Dini

Reporter: Dwi Aditya Putra, tirto.id - 12 Jan 2023 10:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Kehadiran eRecycle, sebuah layanan pengelolaan sampah plastik berbasis aplikasi ini menjadi solusi di tengah masyarakat.
tirto.id - Marsha Nugroho tahu betul apa yang harus dilakukan untuk mendukung tumbuh kembang anaknya. Perempuan yang tinggal di Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat itu menaruh perhatian khusus. Sejak usianya memasuki tiga sampai empat tahun, ia sudah mengajarkan anak pertamanya untuk mencintai dan menjaga lingkungan sekitar.

Edukasi dini yang dilakukan bukan tanpa dasar. Dia ingin agar anak paham bahwa dirinya adalah bagian dari alam semesta. Karena, konsep pemahaman mengenai manusia memiliki tanggung jawab dan peranan penting untuk menjaga kelangsungan bumi serta makhluk hidup lainnya, sudah lebih dulu ada.

“Di situ kami konseling dan edukasi. Tujuan akhirnya anak paham bahwa dirinya itu bagian dari alam semesta. Kita sudah capek-capek urus anak terus nanti mereka sudah besar kita sediain bumi seperti apa untuk mereka? Kalau lingkungannya buruk, kan, bisa membawa penyakit," ujarnya saat dihubungi reporter Tirto, Selasa (10/1/2023).


Seiring waktu, ketika memasuki usia lima tahun, Marsha ingin memfasilitasi keinginan anaknya untuk menghasilkan uang dan menambung. Karena, di usia kelimanya, sang anak tertarik membahas tentang 'uang'. Mulai dari menayakan sejarah hingga membaca buku tentang sejarah dan evolusi uang.

"Tapi namanya anak kecil kerja juga belum bisa. Akhirnya saya ngobrol sama teman saya kebetulan ada pegiat daur ulang atau recycle," katanya.

Bermodal mesin pencarian Google dan aplikasi Playstore, Marsha kemudian mulai berselancar mencari platform bisa menjemput sampah-sampah plastik untuk didaur ulang. Sebagai gantinya tumpukan sampah-sampah rumah tangga yang dikumpulkan tersebut, akan diberikan reward dari platform itu.

Dari situlah kemudian, ia membenturkan dua konsep sudah ditanamkan sebelumnya, yakni bagaimana sang anak bisa menjaga lingkungan sekaligus bisa menghasilkan uang. "Ini ada wadahnya. Udah gitu dia punya minat untuk mengumpulkan duit, ya udah jadi pas timing-nya dan pemahamannya makanya langsung tertarik," katanya.



Sejak Oktober 2022, Marsya dan anaknya bersamaan memulai mengumpulkan sampah-sampah dihasilkan dari rumah tangganya. Satu persatu dipilah sesuai dengan kategori atau pengelompokan sampah. Sampah yang dikumpulkan berupa: kardus, platsik, botol hingga lainnya.

Setelah sampah-sampah itu terkumpul, ia kemudian menghubungkan salah satu aplikasi penyedia jasa daur ulang untuk menjemput sampah tersebut. Lalu ditimbang berdasarkan berat sampah dan ditukar poin/uang.


“Pernah kardusnya itu sampai 32 kg. Kalau dilihat secara nominal tidak banyak, cuma Rp36.388 itu sudah termasuk kardus botol. Kemarin pas sebulan doang kita [kumpulkan sampah] Rp24.000 secara nominal tidak bombastis, namanya rumah tangga cuma karena ada maknanya," jelasnya.

Kegiatan sederhana ini, diakuinya memberikan dampak positif terhadap anak. Karena dilakukan secara konsisten dan konkret, anak akan menjadi lebih sadar dan peka terhadap lingkungan dan alam sekitarnya.

"Jadi kalau misalkan dia lagi minum susu kotak atau aqua botal, dia langsung bilang 'oh iya mamah kita nanti simpan ya' atau misalkan lagi pergi 'bawa pulang ya untuk didaur ulang'. Jadi lebih peka," jelasnya.

Pengumpulan dan Pemilahan Sampah Plastik
Proses pengumpulan dan pemilahan sampah plastik. (FOTO/Dok. Marsha Nugroho)

Solusi Daur Ulang Sampah

Kemajuan teknologi memang semakin mempermudah upaya mencari solusi permasalahan sampah plastik. Kehadiran eRecycle, sebuah layanan pengelolaan sampah plastik berbasis aplikasi ini menjadi solusi di tengah masyarakat.

Kepala Produk eRecycle, Dikcy Wiratama menjelaskan, ide munculnya aplikasi ini berawal dari keprihatinannya akan rendahnya angka daur ulang plastik di Indonesia. Data Sustainable Waste Indonesia (SWI) menunjukan angka daur ulang sampah di Indonesia di bawah 10 persen.

"Ini artinya lebih dari 90 persen sampah plastik tidak terdaur ulang," katanya saat dikonfirmasi.



Dia menuturkan, sampah sendiri sudah bukan barang yang bisa digunakan kembali. Namun demikian, material sampah masih bisa didaur ulang diproses lagi menjadi produk yang memiliki nilai guna.

Pengguna yang mengumpulkan sampah plastik diberi reward sesuai dengan berat sampah dipungut. Satu kilogram sampah plastik dihargai Rp4.000 - Rp5.000 tergantung jenis plastik.

"Sehingga kami melihat bahwa masyarakat atau siapapun yang mau memilah sampah tersebut kami berikan suatu pengharagaan atau reward kepada mereka sebagai ganti bahwa sampah tersebut masih punya nilai yang akan kami olah lagi menjadi produk yang lebih bernilai," jelasnya.

Sampah yang diterima eRecycle nantinya akan dilebur dijadikan bijih plastik di rumah produksi bernama rumah lestari. Bijih plastik tersebut nantinya akan dibuat produk rumah tangga seperti botol minum atau tempat makan.

"Semoga kita bisa bersama sama saling bekerjasama untuk mencipatakan kondisi di mana sampah bisa dikelola dengan baik," jelasnya.


Pengumpulan dan Pemilahan Sampah Plastik
Proses pengumpulan dan pemilahan sampah plastik. (FOTO/Dok. Marsha Nugroho)

Permasalahan Sampah Plastik

Permasalahan limbah plastik di Indonesia memang masih belum usai. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada 2020 Indonesia menghasilkan 67,8 juta ton sampah.

Bahkan hasil penelitian Sustainable Waste Indonesia (SWI) dan Indonesian Plastic Recyclers (IPR) pada 2020 mencatat, produksi limbah kemasan plastik di perkotaan Pulau Jawa saja sekitar 189.000 ton per bulan atau 6.300 ton per hari. Sayangnya hanya sekitar 11,83 persen atau sekitar 22.000 ton per bulan yang didaur ulang.

Direktur Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) KLHK, Rosa Vivien Ratnawati mengatakan, peningkatan sumbangsih sampah plastik diakibatkan oleh gaya hidup yang ingin praktis. Sehingga, pemakaian plastik sekali pakai pun meningkat.

“Memang ini didorong oleh perubahan gaya hidup atau lifestyle dan pola konsumsi masyarakat Indonesia yang inginnya praktis," ucapnya.

Terkait itu, Rosa menilai diperlukan kebijakan dan upaya luar biasa untuk mengatasi permasalahan tersebut. Bukan hanya menekan pemakaian plastik oleh individu, melainkan juga pelaku usaha.

"Di hulu ada dua pihak besar yang harus kita tangani. Yang pertama kita, individual, yaitu kita memilah sampah. Tapi ada juga yang lain yaitu produsen yang memproduksi barang yang ada kemasannya yang setelah dipakai dibuang begitu saja," jelasnya.

Ia mengklaim pemerintah telah melakukan upaya tersebut dengan mengeluarkan Peraturan Menteri LHK Nomor 75 Tahun 2019 tentang peta Jalan Pengurangan Produsen. Dalam Permen tersebut, pelaku usaha diwajibkan untuk menekan penggunaan plastik.

"Bentuknya mewajibkan produsen untuk membatasi timbulan sampah. Kedua, mendaur ulang sampah melalui penarikan kembali dan memanfaatkan kembali sampah," jelasnya.



Dalam mengtaasi persoalan sampah, perusahaan yang gunakan kemasan termasuk plastik juga dituntut bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan. Produk minuman Coca Cola, misal punya komitmen global menciptakan food without waste pada 2030.

Di Australia, misal, perusahaan Coca Cola menunjukkan upaya bertanggung jawab terhadap sampah-sampah mereka. Pada kemasan minuman, perusahaan ini mencantuman keterangan, bagi yang mengembalikan kemasan akan mendapatkan kembalian A$10 Cent, atau point. Di Indonesia, perusahaan ini belum menerapkan hal serupa.

“Kami sadar produk kami gunakan plastik dan aluminium,” kata Triyono Prijosoesilo, Direktur Komunikasi dan Public Affairs Coca-Cola Indonesia seperti dikutip Mongabay.com.

Perusahaan, katanya, punya target mendaur ulang sejumlah sama dengan plastik yang mereka gunakan untuk produksi produk pada 2030.

“Ini target cukup ambisius, namun kami belum tau bagaimana cara belum mencapai target itu. Menuju ke sananya seperti apa,” katanya.

Saat ini, Coca-cola Indonesia punya Gerakan Plastic Reborn #BeraniMengubah yang jadi bagian dari upaya mereka mencapai komitmen world without waste.

Plastic Reborn, jelas Triyono, berusaha melihat pengelolaan sampah kemasan botol plastik dari sudut pandang circular economy, yaitu integrasi elemen-elemen pengelolaan sampah kemasan plastik mulai dari collection-recyling-upcyling.

“Hingga dapat menciptakan model bisnis baru, yang akhirnya memberikan nilai pakai kembali dari kemasan plastik bekas pakai ini.”

Salah satu hasil penelitian Plastic Reborn bersama mitra memperlihatkan, data untuk di Kota Jakarta, collection rate plastik botol PET bekas pakai mencapai 69 persen.

Indonesia, katanya, dengan penduduk sekitar 269 juta jiwa berperan penting dalam mempercepat penerapan circular economy terutama di Asia. “Langkah Coca Cola Indonesia melalui Plastic Reborn ingin mengubah cara pandang terhadap plastik kemasan bekas pakai jadi bahan baku yang memiliki potensi ekonomi terus menerus,” kata Triyono.


Baca juga artikel terkait PENGELOLAAN SAMPAH atau tulisan menarik lainnya Dwi Aditya Putra
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Abdul Aziz

DarkLight