Jalan Panjang Fan Iwan Fals Lakukan Gerakan Tanam Sejuta Pohon

Reporter: Riyan Setiawan, tirto.id - 9 Jan 2023 10:00 WIB
Dibaca Normal 7 menit
Ketika melakukan edukasi kepada anggota OI dan masyarakat, Sony juga menggunakan lagu-lagu Iwan Fals, Ebit G. Ade dan musisi lainnya.
tirto.id - Jumat, 6 Januari 2023. Sore hari sekitar pukul 16.00 WIB, saya tiba di kediaman Ketua Umum Badan Pengurus Orang Indonesia (OI) periode 2009-2012, Sony Teguh Trilaksono (61). OI merupakan organisasi masyarakat penggemar atau fan musisi Iwan Fals yang didirikan pada 1999 yang kini beranggota sekitar 9,8 juta orang.

Kediaman Sony berada di Jalan Raya Kodau No. 4 Jatimakmur, Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat. Di atas gerbang rumahnya, terbentang sepanduk “Rumah SOPAN (Seni Olahraga Pendidikan, dan Niaga) Wahana Pembinaan Komunitas Masyarakat Peduli Lingkungan dan Pertanian Perkotaan.”

“Silakan masuk,” sambut Sony yang saat itu tengah membersihkan halaman rumahnya. Di bagian kanan rumahnya terlihat berbagai jenis pupuk olahan dari daun kering. Sementara di sebelah kiri terlihat perkebunan di dalam rumahnya yang cukup luas.


Saya diajak masuk ke dalam rumahnya yang dipenuhi tanaman hingga pepohonan. Saya berbincang di sebuah pendopo. Tempatnya sangat asri. Di sana, saya begitu disambut. Disediakan kudapan dan minuman dingin.

Ia bercerita mulai tertarik soal dunia lingkungan sejak duduk di bangku SMA. Ia aktif melakukan kegiatan penanaman pohon baik dengan OI maupun secara pribadi.

Kegiatannya bersama OI mulai aktif melakukan penanaman pohon sejak era Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Malem Sambat (MS) Kaban atau awal era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Dengan keaktifannya di Ormas OI, akhirnya Sony dipercaya mengemban jabatan sebagai Ketua Umum pada 2009. “Pas saya jadi ketum, langsung saya gencarkan tuh gerakan menanam pohon ke anak-anak OI,” kata dia bercerita.

Hal itu juga sesuai dengan semangat dari lagu-lagu sang idola, Iwan Fals yang terus menggencarkan untuk menanam pohon dan mengkritisi eksploitasi alam. Misalnya melalui lagu yang berjudul “Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi" yang dirilis 1975 dalam album Duo Idola Country.



Pada lagu itu, Iwan Fals mengkritik deforestasi yang dilakukan oleh manusia atas keserakahannya yang mengakibatkan hutan gundul, erosi, hingga terjadi bencana banjir.


Ia juga mengatakan gerakan menanam sesuai dengan lirik lagu Iwan Fals yang berjudul “Tanam Siram Tanam” pada album Keseimbangan yang dirilis pada 2010.

Berikut liriknya:

Tanam tanam pohon kehidupan

Siram siram sirami dengan sayang

Tanam tanam tanam masa depan

Benalu-benalu, kita bersihkan

Biarkan anak cucu kita belajar di bawah pohon

Biarkan anak cucu kita menghirup udara segar

Biarkan mereka tumbuh bersama hijaunya daun

Jangan biarkan mereka mati dimakan hama kehidupan.

Selain itu, di album Keseimbangan, Iwan Fals juga terdapat lagu bertema gerakan menanam berjudul "Pohon untuk Kehidupan.”

“Jadi itu yang menjadi semangat kami untuk melakukan gerakan menanam sejuta pohon,” kata Sony bercerita.

Ketua Umum OI Sony Teguh Trilaksono
Sony Teguh Trilaksono, Ketua Umum OI periode 2009-2012 di rumah nya di kawasan Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat. (tirto.id/Riyan Setiawan)

Gerakan Menanam Sejuta Pohon

Sony mengatakan, untuk mengajak OI melakukan gerakan menanam sejuta pohon sesuai dengan semangat lagu-lagu Iwan Fals memang tak mudah. Butuh waktu yang panjang untuk mengimplementasikan itu semua.

Awalnya, Sony mengajak sekitar lima anggota OI untuk belajar tentang cara menanam di rumahnya selama dua hari dan mengedukasi tentang lingkungan.

Pada hari pertama ia mengajarkan bagaimana menanam di lahan terbatas seperti tanaman hidroponik, vertikal garden, dan sebagainya. Lalu di hari kedua, diajarkan bagaimana cara mencangkok tanaman dengan cara kultur jaringan, menggunakan biji, hingga metode okulasi.

Setelah memberikan sejumlah teori, Sony langsung mengajak sejumlah anggota OI itu langsung melakukan praktik menanam ke lapangan.

Mereka mulai menanam tumbuhan hidroponik di kediamannya masing-masing. Lalu, membuat tanaman vertikal di tembok-tembok perumahan lantaran minimnya lahan untuk ditanam pohon.

“Kalau sudah ditanam, jangan lupa disiram dan dirawat, dikasih pupuk," ujarnya.



Dalam melakukan penanaman, ia selalu menggunakan konsep merencanakan (plan), setelah itu melakukan penanaman (do), kemudian perawatan dan pengecekan (check), dan menanam kembali.

“Jadi nggak berhenti dirawat saja, tapi kita harus menanam kembali, terus dan menerus," ucapnya.

Seiring berjalannya waktu, anggota OI yang melakukan gerakan menanam pohon di bawah binaan Sony semakin banyak. Di Bekasi, Jawa Barat yang merupakan daerah pemukimannya, ia bersama sejumlah anggota Ormas OI melakukan banyak gerakan menanam.

Misalnya ia melakukan penanaman pohon duku di Kampung Sawah Bekasi. "Kalau ada Ormas OI dari daerah lain datang, kami ajak ke Kampung Sawah buat percontohan. Turis dari Jepang pun kami ajak ke kampung sawah untuk mengenalkan tanaman," imbuhnya.

Atas gerakannya di bidang lingkungan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat sampai memberikan penghargaan kepada OI Kota Bekasi sebagai pelopor pemberdayaan lingkungan pada 2015.

Selain di Bekasi, Sony juga melakukan safari ke daerah lain untuk mengedukasi dan melakukan gerakan penanaman di sejumlah daerah. Misalnya kepada OI Depok menanam tanaman produktif seperti Duren. Lalu, di Karawang menanam tumbuhan organik.

OI Fans Iwan Fals
OI Fans Iwan Fals. (tirto.id/Riyan Setiawan)


Selain itu, pada era Presiden SBY, Ormas OI juga melakukan penanaman ribuan pohon pelindung di Bukit Hambalang untuk mencegah longsor.

Tak hanya di darat, menurutnya gerakan menanam juga harus dilakukan di perairan. Misalnya OI Babelan menanam mangrove di pesisir Bekasi untuk mencegah banjir rob hingga abrasi.

Selanjutnya OI Denpasar, Bali melakukan gerakan program iklim (Proklim) dengan cara penghijauan untuk mengurangi pemanasan global. Terutama mereka menanam bakau di pesisir Kuta untuk mengurangi abrasi.

Kemudian di Ternate, Maluku Utara melakukan gerakan menanam rumput laut untuk habitat plankton dan biota laut. “Karena penyumbang oksigen terbesar itu plankton. Jadi kita harus bikin habitat buat mereka,” tuturnya.

Dalam melakukan gerakan menanam pohon itu, Sony sering ambil andil dan terjun langsung ke daerah tersebut. Ia juga selalu memberikan pendampingan kepada anggota OI yang melakukan gerakan lingkungan secara daring atau dapat mempelajarinya melalui channel YouTube-nya bernama "Rumah SOPAN".

“Kadang mereka nonton dulu, terus baru chat atau hubungi saya buat menanyakan lebih lanjutnya," tuturnya.



Ketika melakukan edukasi kepada anggota OI dan masyarakat, Sony juga menggunakan lagu-lagu Iwan Fals, Ebit G. Ade, dan sejumlah musisi lainnya yang bertemakan lingkungan.

“Jadi biar pas belajar ada hiburannya juga dan lagu-lagunya sesuai sama lingkungan," tukasnya.

Beberapa kali Ormas OI juga pernah melakukan penanaman sejuta pohon bersama sang idola, Iwan Fals. Yakni seperti daerah Jonggol; menanam 500 bibit pohon di kawasan objek wisata Situ Gede, Tasikmalaya, Jawa Barat; hingga menanam bibit pohon Sengon di kompleks Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Semarang.

Setiap konsernya ke daerah-daerah, Iwan Fals juga kerap kali melakukan kampanye untuk menanam kepada para penggemarnya. Bahkan ia ikut menanam langsung secara simbolis di lokasi yang menjadi tempat konsernya itu.

Tak hanya itu, pada saat pria bernama Virgiawan Listanto itu menggelar konser di kediamannya di Desa Leuwinanggung, Depok, Jawa Barat, ia juga sering membagikan bibit tanaman kepada penontonnya.

Hal itu pernah dirasakan oleh saya ketika menonton konser Iwan Fals di kediamannya saat ia mengeluarkan album Keseimbangan pada 2010-an. Dengan membeli tiket sebesar Rp50.000, saya bisa menonton konser Iwan Fals dan pulangnya diberikan buah tangan berupa bibit pohon.

Sesekali Sony juga belajar dari daerah lain dalam menanam pohon. Ia mengaku pernah belajar ke suku Baduy bagaimana menjadikan pohon menjadi bagian dari kehidupan.

“Sekarang orang itu hanya menanam, padahal menanam itu bagian dari hidup kita," imbuhnya.

Ia menyatakan gerakan menanam sejuta pohon yang dilakukan bersama rekan-rekan OI dan Iwan Fals merupakan langkah nyata dalam menyelamatkan lingkungan dan dunia dari krisis iklim.

OI Fans Iwan Fals
OI Fans Iwan Fals. (tirto.id/Riyan Setiawan)


Gerakan mereka bukan hanya program yang dilakukan pemerintah sejak era Presiden Soeharto setiap 10 Januari saja, melakukan penanaman sejuta pohon tanpa ada tindak lanjut untuk merawatnya.

Selain setiap 10 Januari, Ormas OI bersama Iwan Fals juga sering mengkampanyekan, mengedukasi, menanam hingga merawat pohon.

“Kalau gerakan kita harus melakukan penyadaran ke masyarakat biar mereka juga ikut merawatnya. Bukan cuma program seremonial yang habis ditanam terus tidak dirawat," tegasnya.

Menurutnya, manusia membutuhkan oksigen untuk bernapas. Satu orang manusia idealnya membutuhkan dua pohon. Berdasarkan data Ditjen Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) jumlah penduduk Indonesia sebanyak 275.361.267 jiwa per Juni 2022. Artinya Indonesia membutuhkan sebanyak 550.722.534 pohon.

“Tapi sekarang, kan, perkotaan ruang terbuka hijau sudah dikit banget. Pohon-pohon pada ditebangin buat bangun jalan,” kata dia.


Cara Menanam di Lokasi Terbatas

Sony menuturkan kawasan perkotaan seperti Jabodetabek memang sudah terjadi krisis lahan untuk ditanami pohon. Bahkan, pepohonan yang telah tumbuh subur pun pada ditebang untuk membantu infrastruktur, jalan, hingga kawasan industri.

Berbeda dengan wilayah pedesaan yang masih banyak memiliki lahan yang luas untuk ditanami pohon dan tumbuhan. Meski kini perlahan juga terkikis untuk pembangunan infrastruktur, perumahan, hingga kawasan industri.

Kendati demikian, Sony menjelaskan terdapat berbagai macam cara agar kita tetap bisa menanam di lahan yang krisis. Asalkan wilayah tersebut terdapat tanah, air, dan sinar matahari yang cukup.

Untuk kawasan perkotaan yang terbatas, dapat menggunakan metode intensifikasi, yakni salah satu upaya meningkatkan hasil pertanian atau agraris dengan mengolah lahan yang ada.

Ia mencontohkan rumah yang memiliki lahan terbatas, dapat menggunakan jenis tanaman hidroponik, vertikal di tembok, atau ditanam di atas loteng.

Misalnya pakai tanaman buah dalam pot (Tambulan pot). Ia juga mencontohkan beberapa pohon buah yang ia tanam di dalam pot seperti sawo, anggur, hingga duku.

“Jadi nggak ada istilah enggak bisa nanam. Ada bisa dalam pot," ucapnya.

Ketua Umum OI Sony Teguh Trilaksono
Rumah Ketua Umum OI periode 2009-2012 di kawasan Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat. (tirto.id/Riyan Setiawan)


Kediaman Sony dengan luas 1.500 meter itu memang memiliki banyak tumbuhan, mulai dari tanaman hias, tanaman buah di dalam pot, hingga kembang yang berwarna-warni. Konsep rumahnya layaknya green house.

Dalam melakukan perawatan tanamannya, ia selalu menggunakan sisa konsumsi makanan. Ia membuat lubang biopori di beberapa titik di dalam rumahnya agar tanahnya tetap subur. Kemudian sisa makanannya ia masukan ke dalam lubang biopori, setelah beberapa hari, sisa makanan tersebut dapat menjadi pupuk bagi tanamannya.

Lalu cangkang telur yang tak ia konsumsi juga ditumbuk hingga halus untuk dijadikan pupuk juga. Selain itu, dedaunan yang gugur juga ia olah kembali menjadi pupuk.

Jika itu di rumah, Sony juga menjelaskan bagaimana menanam di kawasan perkotaan yang memiliki lahan yang sempit. Sony mengatakan dapat menggunakan konsep urban farming atau kebun kota.

Konsep ini dapat menambah Ruang Terbuka Hijau (RT) di wilayah yang saat ini jumlahnya minim. Berdasarkan data Dinas Tata Ruang (Distaru) Kota Bekasi 2022, besaran RTH sejauh ini baru mencakup 19% dari target 30%.

Dalam menggunakan konsep tersebut, ia dibantu oleh anggota OI bernama Rosyid, lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan menanam di lahan sempit dengan konsep tanaman vertikal.

Misalnya tanaman pot di tembok dengan paku di pemukiman warga hingga di pinggir selokan. Kemudian membuat kantong-kantong atau pagar yang dapat menggantung tanaman di sejumlah titik pemukiman secara masif.

“Jadi kita tetap bisa menanam tumbuhan di mana pun asal kitanya kreatif,” kata dia.


Pohon untuk Kehidupan

Arie Rompas, Ketua Tim Juru Kampanye Hutan Greenpeace mengatakan, penanaman pohon memberikan kontribusi besar bagi kelangsungan makhluk hidup. Pohon menghasilkan oksigen dan menyerap karbondioksida bagi manusia dan juga hewan.

Tumbuhan merupakan sumber makanan bagi semua makhluk hidup dan menjadi produsen utama. Kemudian bisa dimanfaatkan dan diolah menjadi produk obat-obatan, pakaian, dan kompos. Pohon juga menjadi habitat bagi hewan-hewan.

“Pohon juga dapat mencegah dari terjadinya krisis iklim, bencana heterologi, dan menghijaukan kembali itu penting dengan penanaman," kata Arie kepada Tirto, Jumat (6/1/2023).

Ketua Umum OI Sony Teguh Trilaksono
Sony Teguh Trilaksono, Ketua Umum OI periode 2009-2012 di rumah nya di kawasan Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat. (tirto.id/Riyan Setiawan)


Berdasarkan data dari Tree Hugger (5/10) dalam jurnal Nature, Indonesia memiliki hampir 81 miliar pohon, mencakup hampir 46% dari luas daratannya.

Ia mendesak pemerintah agar tidak hanya seremonial saja dalam memperingati “Hari Gerakan Satu Juta Pohon” yang diperingati setiap 10 Januari. Sebab menurutnya dari mulai dicetuskan oleh Presiden Soeharto sampai Jokowi program tersebut minim dari kata berhasil.

Malahan, kata Arie, saat ini lebih banyak terjadi deforestasi atau penghilangan hutan di Indonesia untuk kepentingan pembangunan, tambang, hingga penanaman sawit.

Berdasarkan data KLHK, deforestasi di Indonesia periode 2019-2020 hingga berada pada angka 115,46 ribu ha. Angka ini diklaim jauh menurun 75,03% dari deforestasi 2018-2019 sebesar 462,46 ribu ha.

Ia menyatakan, deforestasi dapat menimbulkan banjir, erosi, hingga krisis iklim. Oleh karena itu, ia meminta pemerintah dapat memberikan sanksi kepada pelaku dengan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (P3H).

“Penanaman sejuta pohon memang harus dilakukan untuk merehabilitasi, tapi juga harus dibarengi dengan menghentikan deforestasi,” kata Arie.


Baca juga artikel terkait MENANAM POHON atau tulisan menarik lainnya Riyan Setiawan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Riyan Setiawan
Penulis: Riyan Setiawan
Editor: Abdul Aziz

DarkLight