Menuju konten utama

Legislator Sesalkan Perwira TNI Ikut Terlibat Aniaya Prada Lucky

TB Hasanuddin meminta Polisi Militer untuk mengusut motif penganiayaan karena penganiayaan Prada Lucky hingga meninggal dunia sampai melibatkan komandan.

Legislator Sesalkan Perwira TNI Ikut Terlibat Aniaya Prada Lucky
Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin ditemui di Kantor DPP PDIP, Jakarta Pusat, Kamis (11/7/2024). tirto.id/ Muhammad Naufal
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Anggota Komisi I DPR RI, Mayjen Purn TB Hasanuddin, menyayangkan keterlibatan perwira, bahkan komandan peleton, TNI dalam kasus penganiayaan terhadap prajurit Batalyon TP 834/WM Nagekeo, Prada Lucky Chepril Saputra Namo, hingga meninggal dunia.

Menurut TB Hasanuddin, seorang komandan peleton semestinya memiliki fungsi dalam menangani konflik, bukan malah sebaliknya, apalagi menjadi salah satu pelaku penganiayaan.

“Dan lebih menarik, di dalamnya adalah komandan peleton. Seorang perwira berpangkat Letnan dua, lulusan Akademi Militer, masih muda sekali mungkin umur sekitar 24-25 dan sebagainya. Tetapi ikut terlibat. Ini yang saya sesalkan,” kata Hasanuddin kepada wartawan di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (12/8/2025).

“Karena apa? Komandan itu justru ada di tengah-tengah prajurit untuk mengawasi, mengendalikan, dan memberikan arahan,” imbuhnya.

Atas kejadian tersebut, dia mendesak polisi militer untuk segera menguak motif sebenarnya dibalik penganiayaan yang mengakibatkan penghilangan nyawa tersebut.

“Saya minta kepada Polisi Militer, coba dikejar. Apa sih sebetulnya motifnya? Ceritanya seperti apa? Kasus itu. Kok sampai dibunuh? Mungkin tidak ada niat membunuh. Tetapi harus bisa dipastikan, dengan dipukuli berame-rame oleh sekian puluh orang, dan tentu pukulannya militer, yang mengarah pada titik-titik yang mematikan,” jelasnya.

Dengan demikian, dia juga memerintahkan Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto, beserta jajarannya mengajarkan cara yang benar dalam melakukan pembinaan hingga solusi yang baik untuk membangun hubungan antara senior dan junior. Politikus PDIP ini tak ingin ada arogansi di dalam lingkungan TNI.

“Saya berharap kepada Panglima TNI, juga kepada Panglima Kodam di seluruh Indonesia, cobalah sekarang dibuat sebuah petunjuk. Hubungan yang sehat antara senior dan junior itu seperti apa. Jangan ada sifat arogansi,” katanya.

“Seperti yang tadi saya ceritakan, biasa-biasa sajalah. Toh sesudah pensiun, kita kembali menjadi masyarakat biasa. Baik senior maupun junior. Jadi harus ada petunjuk yang jelas seperti apa, sikap dan perlakuan senior pada junior. Seharusnya memberi contoh, memberikan arahan yang positif,” ucapnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Penerangan TNI AD (Kadispenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana menyatakan 20 anggota TNI sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Polisi Militer Kodam (Pomdam) Udayana. Wahyu menjelaskan bahwa TNI AD lebih dahulu menetapkan empat tersangka dari kasus tersebut, yakni Pratu AA, Pratu EDA, Pratu PNBS, dan Pratu ARR. Sementara itu, 16 personil TNI lainnya masih menjalani pemeriksaan lebih mendalam.

“Hari ini saya sampaikan bahwa 16 personil yang kemarin dilanjutkan pemeriksaan secara mendalam itu juga ditetapkan sebagai tersangka sehingga total sekarang ada 20 orang personil prajurit yang ditetapkan sebagai tersangka,” sebut Wahyu di Mabes TNI AD, Senin (11/8/2025).

Prada Lucky Saputra Namo meninggal dunia setelah dirawat secara intensif di ICU RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo, NTT, Rabu (6/8/2025). Prada Lucky tewas diduga akibat dianiaya oleh sejumlah seniornya. Keluarga Prada Lucky menuntut agar para pelaku dihukum sesuai dengan perbuatan mereka.

Baca juga artikel terkait KEMATIAN PRADA LUCKY atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Andrian Pratama Taher