tirto.id - Ledakan besar di Bandar Abbas, Iran, menghancurkan sebuah bangunan tempat tinggal. Insiden di kota pelabuhan tersebut menyebabkan dua orang tewas dan sedikitnya 13 orang lainnya terluka.
Peristiwa pada Sabtu (31/1/2026) siang itu terjadi di tengah ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Lokasi ledakan berada di sekitar Selat Hormuz yang dikenal sangat strategis sebagai jalur transportasi minyak dunia.
Mengutip Al Jazeera, televisi pemerintah menyebut ledakan terjadi pada sebuah gedung delpan lantai, menyebabkan kerusakan para pada dua lantai bangunan tersebut serta merusak beberapa kendaraan dan toko di sekitarnta.
Sempat muncul rumor adanya bangunan milik Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dalam ledakan ini. Namun, IRGC mengonfirmasi tidak ada bangunan milik mereka yang dijadikan sasaran serangan, sebagaimana disampaikan kantor berita Fars.
Penyebab Ledakan
Menurut pejabat dan media setempat, penyebab ledakan Bandar Abbas adalah kebocoran gas. Kepala pemadam kebakaran, Mohammad Amin Lyaghat, menyebut gas tersebut lantas menumpuk di sebuah tempat hingga menimbulkan ledakan besar.
“Penyebab awal kecelakaan gedung di Bandar Abbas adalah kebocoran dan penumpukan gas, yang menyebabkan ledakan,” kata Lyaghat dalam tayangan di siaran televisi pemerintah, sembari menambahkan bahwa pihak pemadam kebakaran akan segera memberikan penjelasan lebih detail mengenai ledakan itu.
Sementara itu, kepala manajemen krisis Provinsi Hormozgan, Mehrdad Hassanzadeh, mengatakan dua orang dilaporkan tewas. Sudah ada 13 orang lainnya yang saat ini berada dalam perawatan medis.
Surat kabar Sobh-e Sahel menayangkan salah satu rekaman video pasca-ledakan. Dalam video itu diketahui salah satu korban adalah pria berseragam hijau khas pasukan keamanan.
Pria ini dibawa keluar gedung memakai tandu dan penyangga leher. Kantor berita Tasnim turut melaporkan adanya seorang petugas yang terluka usai datang datang di lokasi kejadian untuk membantu warga.
Ledakan Bukan Akibat Serangan AS
Ledakan di Bandar Abbas, Iran, bukan karena serangan AS melalui militernya yang saat ini berkumpul di perairan Timur Tengah. Kendati demikian, kekhawatiran perang Iran vs Amerika Serikat tetap sebagai ancaman.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengancam melakukan serangan ke arah Teheran karena alasan tindakan keras kepada peserta demonstrasi anti-pemerintah dan belum tercapainya kesepakatan pembatasan program nuklir Iran.
Pejabat keamanan senior Iran, Ali Larijani, mengatakan di media sosial X pada Sabtu (31/1/2026) bahwa penyusunan kerangka kerja untuk negosiasi dengan AS berjalan lancar.
Sementara itu, Trump meyakini Iran ingin membuat kesepakatan ketimbang berhadapan dengan AS melalui operasi militer. Iran sedang mengupayakan negosiasi.
“[Iran] sedang berbicara dengan kami, dan kita akan lihat apakah kita bisa melakukan sesuatu; jika tidak, kita akan lihat apa yang terjadi… kita memiliki armada besar yang menuju ke sana,” kata Trump kepada Fox News.
Penulis: Ilham Choirul Anwar
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id































