Menuju konten utama

Perang Iran vs AS di Ujung Tanduk, Belum Sepakat Soal Nuklir

Perang urat syaraf AS vs Iran seakan mengindikasikan perang antarkedua negara makin dekat. AS mulai mempermasalahkan soal lambatnya kesepakatan nuklir.

Perang Iran vs AS di Ujung Tanduk, Belum Sepakat Soal Nuklir
Pemandangan Kota Teheran Iran. foto/istockphoto

tirto.id - Perang AS vs Iran mulai berada di ujung tanduk. Presiden AS Donald Trump kini mendorong Iran agar segera mencapai kesepakatan energi nuklir dengan Amerika Serikat (AS) dan menyebut waktu perundingan "hampir habis".

Melansir BBC, Trump baru-baru ini membuat pernyataan di media sosialnya, mendesak Iran agar mau berunding terkait kesepakatan nuklir. Kali ini, Trump tidak lagi menyebut unjuk rasa seperti pada pernyataan-pernyataan sebelumnya.

"Semoga Iran segera 'duduk di meja perundingan' dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan setara -tanpa senjata nuklir," tulis Trump di media sosial Truth.

Trump juga menyinggung armada perang AS yang kini telah sampai di kawasan Teluk dalam pernyataannya. Ia menyebut bahwa armada perang ini "siap, bersedia, dan mampu untuk segera memenuhi misinya, dengan kecepatan dan kekerasan, jika perlu".

Sementara itu, di sisi lain Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran kini bersiaga "dengan jari di pelatuk" dan siap menanggapi setiap agresi dengan "segera dan dengan kuat".

Berdasarkan pantauan citra satelit, BBC menemukan setidaknya 15 jet tempur AS kini telah tiba di Pangkalan Udara Muwaffaq Yordania. Peningkatan jumlah pesawat AS juga terjadi di Qatar dan pangkalan militer Diego Garcia di Samudera Hindia.

Puluhan pesawat kargo dan pesawat pengisian bahan bakar juga tampak telah tiba di Timur Tengah. Selain itu, terdapat pula drone dan pesawat mata-mata P-8 Poseidon yang tertangkap FlightRadar24 tengah beroperasi di dekat wilayah udara Iran.

Pada Senin (26/1), pesawat pelacak Osprey juga terlacak FlightRadar24 telah mendarat di Oman setelah meninggalkan lokasi lepas pantai di Teluk, tempat kapal induk USS Abraham Lincoln diprediksi berada di sana.

Pantauan citra satelit BBC juga memperlihatkan adanya dua kapal perusak dengan rudal berpemandu milik AS dan tiga kapal tempur yang sudah berlabuh di Bahrain selama beberapa bulan.

Tak Lagi Bahas Unjuk Rasa, Nuklir Kini Jadi Masalahnya

Dalam pernyataan Trump terbaru terkait Iran, politikus Partai Republik AS itu tak lagi menyinggung soal unjuk rasa besar-besaran yang terjadi di Negeri Para Mullah tersebut.

Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa Washington siap membantu para demonstran dan menyebut bahwa "bantuan sedang dalam perjalanan". Pernyataan itu dikeluarkan Trump saat otoritas Teheran mulai melakukan respons agresif kepada pengunjuk rasa.

Usai eskalasi unjuk rasa yang menelan ribuan korban jiwa itu mereda, Trump kemudian mengumumkan bahwa armada perang AS tengah dikerahkan menuju kawasan Teluk. Pengerahan armada perang ini disebut Trump merupakan bagian untuk menekan Iran agar tak mengeksekusi para demonstran yang tertangkap.

Akan tetapi, dalam pernyataan terbaru, Trump tak lagi menyinggung soal pengunjuk rasa maupun mereka yang kini masih ditangkap otoritas Teheran. Ia kini menekan Iran untuk membuat kesepakatan energi nuklir baru dengan AS.

Iran, di sisi lain, menyatakan bahwa mereka terbuka dengan kemungkinan dialog terkait nuklir dengan AS. Namun, menurut Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, Iran siap bernegosiasi hanya jika dialog itu dilakukan dengan cara yang benar.

Menurut Ghalibaf, pembicaraan yang sungguh-sungguh itu bukanlah "jenis pembicaraan yang diinginkan Presiden AS; ia hanya ingin memaksakan [kehendaknya]".

Sikap terbuka akan dialog juga disuarakan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Dalam tanggapannya untuk pernyataan terbaru Trump, Araghchi menyatakan bahwa "Iran selalu menyambut baik kesepakatan nuklir yang saling menguntungkan, adil, dan setara".

Namun, dalam pernyataannya itu, Araghchi menekankan bahwa kesepakatan itu harus dilandasi asas kesetaraan dan bebas dari paksaan, ancaman, dan intimidasi.

"Yang menjamin hak Iran atas teknologi nuklir damai, dan menjamin tidak ada senjata nuklir," tulis Araghchi.

Araghchi juga mengklaim bahwa selama ini Iran tidak pernah berupaya untuk membuat senjata nuklir. Ia menyebut bahwa senjata nuklir "tidak memiliki tempat dalam perhitungan keamanan kami".

Sementara itu, dialog antara Iran dan AS sejauh ini belum benar-benar terjadi. Menurut Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi, kontak Teheran dan Washington sejauh ini hanya sebatas "pertukaran pesan".

Di tengah situasi tersebut, Iran sejauh ini terus menegaskan sikap mereka untuk menyerang balik jika terjadi serangan. Menukil NBC News, salah satu penasihat senior pemimpin tertinggi Iran, Ali Shamkhani, menegaskan hal itu dalam sebuah pernyataan.

"Setiap tindakan militer oleh Amerika Serikat, dari lokasi mana pun dan pada tingkat mana pun, akan dianggap sebagai awal dari perang," kata Ali kepada kantor berita negara IRNA.

Jika terjadi serangan, kata Shamkhani, Iran akan merespons dengan serangan balik, baik kepada AS maupun sekutu-sekutunya di Timur Tengah.

"Responsnya akan segera, komprehensif, dan belum pernah terjadi sebelumnya. Agresor, jantung Tel Aviv, dan semua orang yang mendukung agresor akan menjadi sasaran," katanya.

Isyarat serangan balik juga disampaikan oleh Mohammed Bagher Ghalibaf. Menurutnya, serangan balik Iran akan membuat Trump tak punya kendali atas konflik yang mungkin terjadi.

"Mungkin Tuan Trump dapat memulai perang, tetapi ia tidak akan memiliki kendali [atas bagaimana perang berakhir]," katanya.

Jauh sebelum ketegangan Iran dan AS kali ini terjadi, keduanya telah memiliki kesepakatan nuklir pada 2015 lalu. Dalam kesepakatan itu, Iran tidak diizinkan memperkaya stok uranium di atas kemurnian 3,57 persen, tingkat kemurnian untuk membuat bahan bakar pembangkit listrik komersial.

Namun, pada periode pertama pemerintahan Donald Trump pada 2018, AS menarik diri dari kesepakatan itu. Kala itu ia menyebut perjanjian itu terlalu permisif dan tak mampu menghentikan jalan Iran menuju produksi bom nuklir.

Penarikan diri itu dibarengi dengan pemberlakuan sanksi ekonomi oleh AS untuk Iran. Hal ini mendorong Teheran bereaksi dengan melanggar batas perjanjian terkait uranium.

Baca juga artikel terkait ANCAMAN INVASI TRUMP atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar