tirto.id - Seiring meningkatnya ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran, pasukan militer AS dilaporkan segera menggelar latihan di kawasan Teluk. Pusat Komando Militer AS (CENTCOM) telah mengkonfirmasi hal ini pada Selasa (27/1/2026).
Melalui siaran pers resminya, CENTCOM mengumumkan agenda latihan militer "selama beberapa hari". Latihan ini juga direncanakan melibatkan pesawat angkatan udara AS dan para personel taktisnya.
Komandan komponen udara pasukan gabungan CENTCOM, Letjen Derek France, menyatakan bahwa latihan ini bertujuan untuk memperlihatkan kemampuan pasukan untuk "membubarkan, mengoperasikan, dan menghasilkan serangan tempur dalam kondisi yang menuntut—dengan aman, tepat, dan berdampingan dengan mitra kami".
Seturut CNN, latihan tersebut dilaporkan merupakan unjuk kemampuan AS di kawasan Teluk dan jadi rangkaian respons AS terhadap situasi di Iran. Sebelumnya, armada perang AS dilaporkan telah tiba di kawasan Teluk dekat Iran.
Pengerahan armada perang AS yang dipimpin oleh kapal induk USS Abraham Lincoln itu juga telah dikonfirmasi oleh Presiden AS Donald Trump. Ia menyebutnya pengerahan itu dilakukan untuk mengawasi situasi Iran.
"Kami memiliki banyak kapal yang menuju ke arah itu [Teluk], untuk berjaga-jaga. Saya lebih suka tidak terjadi apa pun, tetapi kami mengawasi mereka dengan sangat cermat," kata Trump pada Jumat (23/1) lalu.
Akan tetapi, sejauh ini Trump disebut masih belum menentukan sikap atas opsi apa yang akan dipilih terhadap Iran. Menurut sumber anonim CNN, belum ada indikasi bahwa keputusan telah dibuat oleh Washington terkait hal ini.
CENTCOM hingga kini tak menyebut lokasi dan durasi pasti latihan militer itu digelar, atau aset apa dan siapa mitra yang ikut serta di dalamnya. Sebelumnya, Arab Saudi, salah satu lokasi pangkalan militer AS di Teluk, telah menyatakan tak akan terlibat dalam operasi militer apa pun ke Iran.
Ketegangan antara AS dan Iran terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Hal ini menyusul perkembangan unjuk rasa meluas di Iran yang telah merenggut ribuan nyawa masyarakat sipil sejak Desember 2025 lalu.
Eskalasi unjuk rasa di Iran — yang turut dipicu pernyataan Trump — dilaporkan telah menurun, namun penangkapan belasan ribu warga Iran oleh otoritas setempat kini dipersoalkan AS.
Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa otoritas Iran hendak mengeksekusi pada tawanan dan AS siap mengintervensi secara militer jika itu terjadi. Ketegangan ini kemudian sedikit melandai usai Teheran menyatakan tak ada eksekusi bagi para demonstran.
Kini, Washington dan Teheran saling berbalas retorika. AS disebut tengah memikirkan opsi penggulingan pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei, sementara Iran mengancam akan melakukan serangan balasan jika pasukan AS masuk wilayahnya.
"Kedatangan satu atau beberapa kapal perang tidak memengaruhi tekad pertahanan Iran," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei pada Senin (26/1).
"Angkatan bersenjata kami memantau setiap perkembangan dan tidak membuang waktu sedetik pun untuk meningkatkan kemampuan kami," tambahnya.
Di Teheran, Pemerintah Iran mulai menempel berbagai poster dengan gambar dan narasi penghancuran kapal induk Amerika jika intervensi terjadi. "Jika kau menebar angin, kau akan menuai badai," tulis peringatan pada poster dalam bahasa Inggris dan Farsi.
Akan tetapi, di tengah saling balas retorika itu, Trump menyebut pada Senin lalu bahwa ada indikasi Iran "ingin bicara". Pemerintah AS juga menegaskan bahwa mereka terbuka terhadap diskusi jika Iran "mengetahui syarat-syaratnya".
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id
































