tirto.id - Berita Venezuela terbaru mengungkap bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebut "discombobulator" sebagai salah satu senjata yang digunakan dalam operasi militer. Senjata ini dilibatkan dalam penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada 3 Januari 2026 lalu. Punya nama aneh, apa sebenarnya senjata itu?
Penggunaan kata "discombobulator" disebut Trump dalam wawancaranya untuk New York Post yang terbit pada Sabtu (24/1/2026) lalu. Trump mengatakan perangkat itu telah digunakan, meskipun ia tidak diperbolehkan banyak membahasnya.
"Discombobulator, [tapi] saya tidak diizinkan untuk membicarakannya," sebut Trump.
Akan tetapi, melansir CNN, meskipun Trump menyebutkannya tetapi senjata bernama aneh itu masih diliputi misteri, baik tentang bagaimana bentuknya hingga apakah betulan ada.
Apa itu Discombobulator, Mungkinkah Senjata Mematikan?
Dalam wawancaranya, Trump hanya menjelaskan bahwa "discombobulator" memiliki peran penting dalam operasi penculikan Maduro. Perangkat ini disebutnya "membuat peralatan [musuh] tak berfungsi".
Matinya perangkat militer Venezuela ketika serangan AS terjadi sebelumnya memang pernah dilaporkan. Beberapa hari pasca 3 Januari, muncul kesaksian yang diduga berasal dari seorang tentara penjaga di Venezuela.
Kesaksian tersebut diunggah ulang oleh Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt di media sosial. Dalam kesaksian itu, perangkat militer Venezuela sempat mati mendadak tanpa konfirmasi sesaat sebelum serangan terjadi.
"Kami berjaga, tapi tiba-tiba semua sistem radar kami mati tanpa penjelasan apa pun," tulis keterangan tersebut, dikutip dari New York Post.
Apa yang disebut Trump sebagai "discombobulator" kemungkinan adalah perangkat yang menyebabkannya. Namun, seturut keterangan seorang pejabat senior AS kepada CNN, hal itu masih sulit untuk dikonfirmasi.
Pejabat senior yang tak disebutkan identitasnya itu menyatakan bahwa Trump mungkin mencampuradukkan berbagai alat pengacak sinyal, lalu menamainya "discombobulator". Menurutnya, senjata ini merupakan gabungan berbagai perangkat dengan fungsi spesifik masing-masing.
Operasi penculikan Maduro oleh pasukan AS dilaporkan menggunakan berbagai perangkat khusus, selain senjata pelumpuh seperti senapan dan helikopter dengan rudal. Salah satu alat yang dilaporkan adalah perangkat sistem akustik yang berguna untuk mengacaukan koordinasi personel musuh di lapangan.
Militer AS juga jauh sebelumnya dilaporkan memiliki senjata sinar panas yang disebut "active denial system" (ADS). Alat ini dapat mengeluarkan sinar gelombang elektromagnetik berdenyut terarah. Sinar ini tak mematikan, tetapi dapat menembus kulit manusia dan menciptakan sensasi panas.
Meskipun tak jelas apakah ADS digunakan dalam operasi penculikan Maduro, namun pada kesaksian yang diunggah oleh Leavitt menunjukkan bahwa militer AS menggunakan senjata yang menembakkan sesuatu "seperti gelombang suara yang sangat kuat".
"Tiba-tiba saya merasa kepala saya meledak dari dalam," kata saksi yang belum dikonfirmasi tersebut. "Kami semua mulai mimisan. Beberapa muntah darah. Kami jatuh ke tanah, tidak dapat bergerak."
Sementara itu, dalam serangan 3 Januari lalu, militer AS melakukan serangkaian serangan cepat ke sejumlah titik, termasuk tempat Maduro berada. Serangan itu disebut bermula dari penyerangan fasilitas radar, komunikasi, dan infrastruktur pertahanan udara di sejumlah titik di Venezuela.
Setelah serangan ke fasilitas militer berhasil dilakukan, pesawat dan helikopter mulai masuk ke wilayah Venezuela. Menurut Jenderal Angkatan Udara AS, Dan Caine, lebih dari 150 pesawat terlibat dalam operasi ini.
Serangan itu juga melibatkan pengerahan drone serang satu arah. Penggunaan drone telah terkonfirmasi dalam serangan ke Kota Higuerote di pesisir, tempat sistem pertahanan udara Venezuela berada.
Sesaat setelahnya, pasukan AS mendarat dan menyerbu kompleks militer Benteng Tiuna, tempat Maduro berada. Penyerbuan benteng tersebut melibatkan helikopter yang diduga merupakan Direct Action Penetrator MH-60 Black Hawk. Helikopter ini menembakkan meriam otomatis 30 milimeter.
Akan tetapi, detail mengenai apa yang terjadi di dalam Benteng Tiuna masih belum terungkap sepenuhnya.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id






























