tirto.id - Idul Adha merupakan hari raya umat Islam, yang jatuh pada 10 Zulhijah. Lantas, kapan 1 Zulhijah 1446 H dan bagaimana cara menentukan lebaran Idul Adha 2025?
Idul Adha atau hari raya kurban menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam, untuk memperingati peristiwa kuran Nabi Ibrahim, yang mengorbankan anaknya, Ismail, kemudian di ganti oleh Allah dengan seekor domba.
Menyembelih hewan kurban menjadi salah satu bentuk syukur dan berserah diri kepada Allah. Hal ini diperintahkan Allah dalam QS: Al-Hajj: 34.
“Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan (qurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya, dan berilah kabar gembira pada orang-orang yang tunduk (patuh) pada Allah.” (QS: Al-Hajj: 34).
Selain kurban, Idul Adha juga menjadi puncak ibadah haji yang ditunaikan oleh umat Islam di mekkah. Sebab itu, Idul Adha juga disebut dengan lebaran haji oleh umat Islam.
Cara Menentukan 1 Dzulhijjah & Lebaran Idul Adha 2025
Penentuan 1 Dzulhijjah ditentukan dengan adanya hilal atau bulan baru yang terlihat, sesuai kriteria. Muhammadiyah misalnya, penentuan awal bulan Hijriah didasarkan pada metode hisab hakiki wujudul hilal.
Kemudian, Nahdlatul Ulama (NU) menggunakan metode rukyatul hilal (pengamatan langsung) dengan menggunakan hisab hakiki imkan rukyat sebagai pembantu, dalam menentukan awal bulan.
Sementara, pemerintah menggunakan metode hisab dan rukyatul hilal, dalam menentukan 1 Dzulhijjah, yang akan diputuskan dalam sidang isbat, pada 27 Mei 2025.
Berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 1/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1446 Hijriah, 1 Zulhijah 1446 H versi Muhammadiyah, jatuh pada Rabu Kliwon, 28 Mei 2025.
Penentuan ini berdasar pada ijtimak hari Selasa Wage, 29 Zulkaidah 1446 H, atau bertepatan dengan 27 Mei 2025, terjadi pada pukul 10:04 WIB.
Data ijtimak menunjukkan, tinggi bulan pada saat matahari terbenam di Yogyakarta ialah (f = -07° 48¢ LS dan l = 110° 21¢ BT) = +01° 27¢ 07² . Data tersebut menunjukkan bahwa hilal sudah wujud.
Kemudian, pada saat matahari terbenam, Selasa, 27 Mei 2025, di seluruh wilayah Indonesia, bulan berada di atas ufuk atau hilal sudah wujud.
Mengacu pada data hisab di atas, Muhammadiyah menetapkan 1 Zulhijah 1446 H jatuh pada hari Rabu Kliwon, 28 Mei 2025. Sementara, hari Arafah (9 Zulhijah 1446 H) jatuh pada hari Kamis Pon, 5 Juni 2025 dan Idul Adha (10 Zulhijah 1446 H) jatuh pada hari Jumat Wage, 6 Juni 2025.
Kemudian, pemerintah melalalui Kementerian Agama, akan menyelenggarakan sidang isbat, pada 27 Mei 2025 mulai pukul 16.00 WIB, untuk menentukan 1 Zulhijah 1446 H.
Meski dalam data hisab menunjukkan hilal sudah wujud, pemerintah tetap perlu menggelar sidang isbat. Sidang isbat, menjadi wujud kehadiran negara dalam memberikan layanan keagamaan kepada masyarakat.
Selain itu, pemerintah juga menggunakan metode rukyatul hilal atau pengamatan langsung, yang akan berlangsung pada 27 Mei 2025. Hasil pengamatan tersebut, menjadi dasar pemerintah untuk menentukan 1 Zulhijah dan Idul Adha.
Menurut kalender yang dirilis Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Idul Adha jatuh pada 6 Juni 2025. Meski demikian, masyarakat tetap harus menunggu keputusan pemerintah yang ditentukan dalam sidang isbat.
Kemudian, NU melalui Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) memaparkan data hisab menjelang bulan Dzulqadah, pada Senin Kliwon, 28 April 2025 M.
Data tersebut menunjukkan hilal berada di 4 derajat 56 menit 18 detik dengan elongasi 9 derajat 48 menit 34 detik dan lama hilal di atas ufuk 23 menit 47 detik. Sementara, ijtimak (konjungsi) terjadi pada Senin, 28 April 2025 pukul 02:32:01 WIB.
Berdasarkan data LF PBNU, hilal terkecil itu terdapat di Kota Merauke, Provinsi Papua Selatan, yang mencapai 3 derajat 37 menit dan elongasi hilal hakiki 8 derajat 33 menit, serta lama hilal di atas ufuk 17 menit 61 detik.
Hingga hari ini, PBNU belum merilis penetapan 1 Zulhijah 1446 H dan Idul Adha 2025. Masyarakat dapat mengetahui lebih lanjut penetapan tersebut, melalui informasi dari laman resmi dan akun resmi sosial media NU.
Potensi Beda Hari Lebaran Idul Adha 2025
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), memperediksi Idul Adha 2025, diyarakan di waktu yang berbeda, antara pemerintah dan Muhammadiyah.
Hal ini disampaikan oleh Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin. Ia menjelaskan Idul Adha 2025 dapat berlangsung di hari yang berbeda, yaitu pada Jumat, 6 Juni 2025 atau Sabtu, 7 Juni 2025.
Menurut analisis Thomas, berdasarkan analisis garis tanggal pada petang hari, 27 Mei 2025, di wilayah Aceh, telah memenuhi batas kriteria Majelis Ulama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).
MABIMS ini menjadi pedoman pemerintah dalam menentukan kriteria bulan baru, yaitu minimal 3 derajat dan elongasi atau jarak sudut antara Bulan dan Matahari minimal 6,4 derajat.
Namun, hilal belum bisa dirukyat atau berpotensi gagal, menurut Thomas.
"Menurut kriteria Odeh, hilal belum bisa dirukyat di wilayah Asia Tenggara. Rukyat di Aceh ada potensi gagal," ujar Thomas, pada Rabu (7/5/2025).
Sehingga, Idul Adha 2025 berpotensi di rayakan pada hari yang berbeda, yaitu pada Jumat, 6 Juni 2025 atau Sabtu, 7 Juni 2025.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id






































