Menuju konten utama

Korban Daycare Little Aresha Alami Bronkitis hingga Stunting

Pilu korban kekerasan daycare Little Aresha Yogyakarta. Mereka mengalami gangguan kesehatan hingga psikologis.

Korban Daycare Little Aresha Alami Bronkitis hingga Stunting
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayanti, di Rumah Aspirasi miliknya di Sleman, DIY, Rabu (29/4/2026). tirto.id/Nabila Ramadhanty Putri Darmadi.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Anak-anak, korban dugaan kekerasan di Daycare Little Aresha, Yogyakarta, mengalami gangguan kesehatan serius mulai dari bronkitis hingga stunting. Mereka juga mengalami gangguan mental.

Kondisi kesehatan anak-anak itu diungkap Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayanti, saat perwakilan orang tua mendatangi Rumah Aspirasi miliknya di Sleman, DIY, Rabu (29/4/2026).

“Korban mengalami kekerasan fisik maupun mental yang cukup serius. Bahkan ada yang sudah sangat tampak dampak traumanya. Termasuk secara fisik ada dampak pada korban yang tidak tumbuh kembangnya tidak sesuai,” kata Esti, dalam keterangan tertulis, Kamis (30/4/2026).

Para korban kini menderita banyak penyakit, seperti pneumonia, bronkitis, infeksi kulit, infeksi saluran kemih (ISK), hingga stunting. Sebab, mereka tak mendapatkan asupan gizi yang memadai hingga ditempatkan di tempat yang tak layak selama berada di daycare tersebut.

“Kondisi ini diduga akibat selama berada di daycare anak-anak tidak mendapatkan asupan gizi yang memadai, mengalami dehidrasi, serta ditempatkan di ruang yang lembab, sempit, dan tidak layak,” ucap Esti.

Menurutnya, kesaksian para orang tua juga diwarnai emosi mendalam. Sebagian dari mereka menangis saat menceritakan kondisi anak, disertai rasa bersalah sekaligus kemarahan atas perlakuan daycare tersebut.

Esti menyebut para orang tua korban juga meminta agar konten yang beredar di media sosial segera diturunkan karena dinilai memperburuk kondisi mental anak dan keluarga.

“Karena dinilai sangat mengganggu kondisi psikologis orang tua maupun mental anak-anak. Sebab, tidak sedikit respons dari publik yang justru memperparah keadaan melalui perundungan di ruang digital,” kata Esti.

Selain itu, orang tua korban juga meminta pendampingan hukum secara menyeluruh, termasuk dalam proses penghitungan dan pengajuan restitusi.

Esti menegaskan penanganan kasus ini tidak boleh berhenti pada proses hukum terhadap pelaku semata. Ia menilai negara harus hadir memastikan pemulihan korban berjalan optimal. Ia menambahkan, pemulihan trauma pada anak usia dini membutuhkan waktu panjang dan pendekatan khusus.

“Kasus ini tidak hanya soal pelaku dihukum berat, tetapi juga bagaimana negara hadir memberikan pendampingan kepada anak-anak yang terdampak. Bahkan bisa memakan waktu bertahun-tahun. Tapi itu kewajiban negara untuk memastikan anak-anak ini mendapatkan pendampingan yang layak hingga pulih,” kata Esti.

Dalam waktu dekat, katanya, Komisi X DPR RI bersama pihak terkait akan memfasilitasi pertemuan antara orang tua korban dan psikolog untuk memberikan pendampingan awal.

Kasus Daycare Little Aresha sendiri telah menyeret 13 orang sebagai tersangka, yang terdiri dari pengelola hingga pengasuh. Dari total 103 anak yang terdaftar, sebanyak 53 anak dilaporkan terindikasi mengalami kekerasan. Kasus ini dinilai menjadi alarm serius atas lemahnya pengawasan layanan pengasuhan anak. Esti menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang.

“Karena itu, layanan rehabilitasi psikologis menjadi bagian yang sama pentingnya dengan proses hukum terhadap pelaku,” tegasnya.

Baca juga artikel terkait KASUS KEKERASAN ANAK atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama