Menuju konten utama

Siswa SMP di Ogan Ilir Tewas Diduga Dianiaya saat Latihan Silat

Teman korban mengatakan saat latihan, guru dan murid senior memerintahkan anggotanya menahan napas lalu dipukul di leher, tangan, dan bahu.

Siswa SMP di Ogan Ilir Tewas Diduga Dianiaya saat Latihan Silat
Ilustrasi Bentrok. foto/Istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Polres Ogan Ilir masih mendalami laporan dugaan penganiayaan yang menyebabkan seorang pelajar, AS (15), tewas dengan banyak luka memar saat latihan pencak silat.

Kematian pelajar kelas 1 SMP itu dinilai pihak keluarga tak wajar, sehingga memutuskan untuk melapor ke polisi pada Rabu (4/3/2026). Pada hari itu juga, polisi memeriksa orang tua korban sebagai pelapor dan tiga orang lain sebagai saksi.

NP dan DK, adalah dua dari tiga saksi yang merupakan sesama murid perguruan silat di Rantau Alai, Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Kehadiran mereka ke kantor polisi untuk memberikan keterangan didampingi orang tua karena berstatus anak di bawah umur.

NP mengakui adanya tindakan fisik terhadap korban saat latihan yang disebut sebagai bagian dari metode di perguruan mereka. NP menyaksikan korban dan beberapa anggota perguruan diperintahkan menahan napas kemudian dipukul di leher, tangan, dan bahu.

"Memang ada begitu (dipukul), saya juga kena pukul, tapi AS lebih kuat dipukulnya dan lebih parah," ungkap NP, Kamis (5/3/2026).

Kasi Humas Polres Ogan Ilir, AKP Herman Ansori, mengungkapkan penyidik masih melakukan pendalaman terkait keterangan yang diperoleh dari saksi. Penyidik juga telah memeriksa seorang bidan inisial WW yang menangani korban pertama kali guna mendapatkan pertolongan medis.

"Kita lihat perkembangan pemeriksaan, nanti bisa diungkap kronologinya atau kejadiannya seperti apa. Kami minta semuanya bersabar," kata Herman.

Diberitakan sebelumnya, AS tewas diduga akibat dianiaya senior di perguruan silat. Atas kematian tak wajar, keluarga melapor ke polisi.

Korban awalnya pamit untuk berlatih silat di Rantau Alai, Ogan Ilir, Sabtu (28/2/2026). Saat pergi dia membawa sebatang tebu seperti yang diperintahkan seniornya.

Begitu teman-temannya sudah pulang, korban tak ada kabar sehingga membuat keluarga panik. Tak lama mereka dikabarkan bahwa korban dilarikan ke rumah sakit.

Keluarga tak menyangka korban yang saat pamit dalam keadaan sehat malah masuk rumah sakit. Kondisi korban makin kritis dan meninggal dunia sehari kemudian, Minggu (1/3/2026).

Orang tua korban, Helmi mengungkapkan, kecurigaan adanya penyiksaan muncul ketika dokter menyebut korban mengalami banyak luka lebam, seperti di leher bagian belakang, punggung, dan paha. Ada juga tulang retak pada lengan dan punggung.

"Dokter yang bilang begitu, buktinya ada, ada rontgennya juga," ungkap Helmi, Rabu (4/3/2026).

"Jenazah anak saya dimakamkan kemarin dan hari ini kami melapor ke polisi. Kami minta keadilan," lanjut Helmi.

Baca juga artikel terkait KASUS KEKERASAN ANAK atau tulisan lainnya dari Irwanto

tirto.id - Flash News
Kontributor: Irwanto
Penulis: Irwanto
Editor: Bayu Septianto