tirto.id - Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Sri Suparyati, mengungkapkan bahwa bocah asal Sukabumi yang tewas di tangan ibu tirinya, Nizam Syafei (12), rupanya telah mengalami penyiksaan fisik yang keji oleh ayah kandungnya sejak masih usia dini.
Sri menjelaskan berdasarkan hasil asesmen dan wawancara mendalam yang dilakukan timnya, tindakan kekerasan yang dialami Nizam bukanlah kejadian sesaat, melainkan pola penyiksaan jangka panjang.
Pihaknya juga menemukan indikasi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan Anwar tak hanya kepada Nizam, tetapi juga kepada mantan istrinya, yakni ibu kandung Nizam, Lisnawati.
“Latar belakang berkaitan dengan kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi dalam keluarga ini sudah cukup mengental dan sudah cukup dalam dan sudah dilakukan sejak korban masih kecil,” ucap Sri di dalam Ruang Rapat Komisi III DPR RI, Jakarta, Senin (2/3/2026).
“Dan juga diperlakukan ke Ibu korban (Lisnawati) sendiri sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa peran serta kekerasan dalam rumah tangga sampai menimbulkan korban Nizam itu kemudian meninggal itu tidak lepas peran dari seorang ayah di situ,” lanjut dia.
Lebih jauh, Sri merinci berbagai bentuk kekerasan fisik yang sangat tidak manusiawi yang harus dirasakan Nizam. Penyiksaan tersebut meliputi penggunaan api rokok hingga upaya penenggelaman di dalam air.
“Jadi, dari mulai yang disundut rokok, kemudian yang disiram pakai air, yang dicelupkan ke dalam bak mandi. Jadi dari kecil itu ternyata korban ini sudah mengalami tindakan kekerasan yang begitu sering dan bukan hanya kepada Nizam tapi juga kepada Ibu Lisna,” ucap Sri.
Temuan ini selaras dengan laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, mengungkapkan bahwa kekerasan tersebut semakin intens dalam empat tahun terakhir, tepatnya sejak Nizam berusia 9 tahun. Ironisnya, ketika keluarga besar atau tetangga mencoba menegur, ayah korban selalu berdalih dengan nada arogan.
“Keluarga besar mengatakan mengingatkan, tetapi jawaban dari ayah: 'Itu anak saya, itu urusan saya',” kata Diyah.
“Bentuk kekerasannya ada disampaikan?,” tanya Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman selalu pemimpin rapat.
“Dipukul, ditampar,” jawab Diyah.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id






























