tirto.id - Wasit tiba-tiba menghentikan sementara laga babak 16 besar badminton India Open 2026, antara tunggal putra jagoan tuan rumah, HS Prannoy, melawan wakil Singapura, Loh Kean Yew.
Papan skor di lapangan-1 Indira Gandhi Indoor Stadium, New Delhi, saat itu menunjukkan angka 16-14 untuk keunggulan Prannoy. Ia tengah memimpin, bersiap melakukan servis, tapi momentum tersebut dihentikan paksa oleh jeda yang tak jelas.
Lakpriya Edirisinghe, wasit berkebangsaan Sri Lanka sesaat melihat ke atas, ke arah langit-langit gedung pertandingan. Ia memperlihatkan gestur yang mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang baru saja jatuh dan mendarat di lapangan.
Rasa penasaran agaknya menghinggapi benak Loh Kean Yew yang semula berdiri di area back court. Ia berinisiatif melangkah ke depan sembari tetap mendongak ke atas.
Sang juara dunia edisi 2021 tersebut segera menyesali tindakannya. Karena sesampainya di depan net, Kean Yew langsung membalikkan badan.
Atlet asal Singapura itu terlihat mual atas apa yang baru saja ia dapati. Potongan momen Kean Yew yang nyaris muntah inilah, yang kemudian viral di mana-mana.
Mungkin baru kali ini di sepanjang sejarah gelaran turnamen bulu tangkis BWF World Tour, jalannya laga bisa terhenti karena ada kotoran burung yang jatuh di tengah lapangan. Ini terbilang absurd, tapi benar-benar terjadi di India Open 2026.
Parahnya, kejadian serupa kembali terjadi ketika laga semifinal ganda putri yang mempertemukan pasangan Cina, Liu Sheng Shu/Tan Ning, melawan duo Korea Selatan, Baek Ha Na/Lee So Hee. Kotoran burung sekali lagi jatuh di lapangan utama alias court-1.
Kejuaraan bulu tangkis India Open edisi 2026 memang benar-benar buruk dari sisi kualitas penyelenggaraan.
Sebelum turnamen resmi bergulir, sejumlah peserta yang melakukan sesi uji coba venue sudah mengeluhkan soal kondisi yang dianggap kurang ideal.
Komentar pedas diutarakan oleh Mia Blichfeldt atlet tunggal putri asal Denmark, lewat unggahan IG pribadinya, @mia_blichfeldt.
“Saya sudah mempersiapkan diri secara mental untuk ‘yang terburuk’ sekali lagi, tapi kondisi di sekitar kami sama sekali tidak dapat diterima dan sangat tidak profesional,” tulisnya.
Momen tak kalah aneh dikabarkan oleh India Today. Di bangku penonton ketika laga berlangsung, terdapat seekor monyet yang duduk di tribun.
Terkait venue, Sanjay Mishra selaku sekretaris jenderal Asosiasi Badminton India (BAI), sempat mengklaim bahwa masalah kebersihan hanya terjadi di area pemanasan, bukan venue utama.
“Area pertandingan tetap bersih, bebas debu, dan bebas burung merpati, beberapa pemain mengungkapkan puas dengan kondisi venue,” terang Mishra, dikutip dari Time of India.
Tak Hanya Kebersihan, Tapi Juga Kualitas Udara
Persoalan di turnamen India Open 2026 sejatinya tak hanya terkait venue. Tantangan lain di kejuaraan ini juga soal kualitas udara di New Delhi, India. Masalah ini disampaikan oleh tunggal putra Denmark, Anders Antonsen.
Antonsen bersuara lewat instagram story miliknya. Peraih medali perak kejuaraan dunia 2019 itu menilai polusi udara di Delhi sudah sangat buruk. Ia menganggap lokasi tersebut tak layak untuk menggelar kejuaraan badminton.
Antonsen bahkan rela merogoh kocek pribadi untuk membayar denda, sebagai konsekuensi memilih absen dari turnamen wajib berkategori BWF Super 750 tersebut. Ia pilih mengorbankan uang, ketimbang kesehatannya.
“Terkait polusi ekstrem di Delhi saat ini, menurut saya itu bukan tempat yang layak untuk menyelenggarakan turnamen bulu tangkis,” jelas Antonsen.
“Sebagai konsekuensinya, BWF sekali lagi mendenda saya 5000 USD,” lanjut tunggal putra ranking 3 dunia tersebut.
Tidak tampil di India Open sejatinya bukan hal baru bagi Antonsen. Pasalnya sampai saat ini ia terhitung sudah 3 edisi beruntun absen dari turnamen bulu tangkis itu.
Lewat pernyataan di website resmi, federasi bulu tangkis dunia (BWF) tidak membantah terkait rentetan persoalan yang menimpa penyelenggaraan turnamen India Open 2026.
“Kabut asap dan cuaca dingin memengaruhi kualitas udara dan suhu di dalam arena, menjadi tantangan pekan ini,” jelas BWF.
Terlepas dari itu, organisasi badminton dunia tersebut tetap menggarisbawahi hal positif soal pemilihan venue Indira Gandhi Indoor Stadium, yang dianggap sebagai peningkatan infrastruktur jika dibanding lokasi India Open edisi sebelumnya di KD Jadhav Stadium.
Kedua venue masih dalam 1 kompleks fasilitas olahraga yang sama, namun daya tampung Indira Gandhi Stadium lebih besar.
Kekacauan India Open 2026 Adalah Fenomena Gunung Es
Sabtu 17 Januari 2026, bertepatan dengan hari digelarnya semifinal India Open 2026. Kawasan New Delhi memiliki kualitas udara yang sangat buruk. Indeks Kualitas Udara (AQI) tercatat melebihi 500, alias masuk kategori berbahaya.
Bahkan tingkat konsentrasi partikel udara atau PM2.5 terhitung sampai 73 kali lebih tinggi ketimbang pedoman standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Keparahan polusi udara di Delhi turut menurunkan jarak pandang di beberapa daerah. Penduduk disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan.
Data IQAir menyebut sepanjang tahun 2024 lalu, Delhi konsisten menjadi salah satu kota di dunia, dengan tingkat konsentrasi partikel udara paling parah.
Masih dari sumber yang sama. Perbaikan jangka pendek soal kualitas udara di Delhi umumnya bergantung kepada perubahan cuaca.
Angin yang relatif lebih kencang serta curah hujan dapat menghalau polutan untuk sementara waktu. Tapi ketika musim dingin kondisi itu tidak terjadi.
Saat musim dingin seperti bulan Januari, angin relatif lebih tenang, ditambah lapisan udara dingin yang menahan polutan terperangkap di bawah.
Kekacauan India Open 2026 seakan jadi fenomena gunung es. Di balik itu ada persoalan yang lebih kompleks dari sisi sosial dan ekonomi.
Sejak tahun 2023 lalu, PBB secara resmi menempatkan India sebagai negara dengan populasi terpadat di dunia, dengan jumlah 1,4 miliar jiwa. India menyusul Cina, yang berhasil menekan populasi buah kebijakan one child policy.
Wilayah metropolitan Delhi saat ini dihuni sekira 34 juta jiwa. Delhi juga masuk sebagai salah satu kawasan industri utama di India.
Menurut jurnal Southeast Asian Anthropologies: National traditions and transnational practices, Eric C. Thompson and Vineeta Sinha (eds.), 2019, total area industri di kawasan Delhi mencapai 51,81 km persegi.
Secara garis besar pencemaran udara di New Delhi berasal dari emisi kendaraan, aktivitas industri, pembangkit listrik batu bara, juga debu konstruksi.
Menurut data Economic Survey of Delhi 2021, kawasan ini memiliki jumlah besar industri tekstil, logam, kertas, karet, plastik, produk batu bara, makanan, dan kimia. Jenis industri tersebut identik dengan sektor padat karya.
Data tersebut juga menunjukkan bahwa sampai tahun 2020 ada 8643 pabrik yang berdiri di wilayah Delhi.
Sementara itu gangguan burung merpati di area venue India Open 2026, terjadi karena over populasi yang dipengaruhi oleh manusia.
Hal tersebut diungkapkan oleh Andrew D Blechman, penulis buku Pigeons: The Fascinating Saga of the World’s Most Revered and Reviled Bird.
“Jika terjadi over populasi burung merpati, itu disebabkan oleh manusia. Populasi burung ini meledak ketika manusia memberi mereka makanan berlebihan,” kata Blechman.
Anggapan tersebut dikuatkan oleh penelitian dari Universitas Jammu di India pada 2014, yang menyimpulkan bahwa asupan nutrisi burung merpati di perkotaan berasal dari makanan yang diberikan manusia.
Menurut Ashwin Viswanathan dari organisasi konsorsium Bird Count India, burung merpati mampu beradaptasi di wilayah perkotaan karena didasari 3 faktor.
Pertama, merpati memiliki pola makan generalis, alias cenderung tidak pilih-pilih jenis makanan.
Kedua, merpati punya kecenderungan bersarang di tepian karang untuk lingkungan alaminya. Hal tersebut kini tergantikan oleh bangunan kota yang menyerupai habitat mereka.
Ketiga, merpati memiliki tingkat pertumbuhan populasi yang relatif cepat. Viswanathan mengklaim dalam 25 tahun terakhir jumlah merpati di India sudah meningkat 100 persen.
Peran Penting Pemangku Kebijakan
Masalah sosial ekonomi dan lingkungan hidup seakan menjadi buah simalakama. Di sinilah peran vital pemangku kebijakan, yang dituntut mengatur semua untuk berjalan seiring, tanpa ada yang dikorbankan.
Namun sayang harapan ideal itu boleh dibilang jauh panggang dari api, terutama untuk tataran negara berkembang.
Sebagian besar masyarakat masih bergelut dengan masalah ekonomi. Sementara pemangku kebijakan kerap sibuk mempertahankan citra, tiap kali ada masalah yang muncul ke permukaan.
Alih-alih mencari jalan keluar, Sanjay Mishra sebagai perwakilan BAI justru memandang negatif kritik pemain Denmark, Anders Antonsen, yang absen dalam 3 edisi terakhir di India Open.
“Tak ada tempat bagi politik dalam olahraga ini. Tindakan salah mendukung mereka yang mengkritik bangsa kita dari luar negeri,” ucap Mishra.
Lewat pernyataan resminya, BWF mengakui bahwa turnamen India Open 2026 di New Delhi menghadapi tantangan tak mudah. Kabut asap dan cuaca dingin turut memengaruhi kualitas udara di dalam arena.
BWF menilai penyelenggaraan turnamen juga memiliki persoalan dari sisi kebersihan serta pengendalian hewan. Terlepas dari itu, BWF menganggap venue Indira Gandhi Stadium untuk India Open 2026 sudah tepat.
Selain memiliki ruang yang lebih besar ketimbang KD Jadhav Stadium (venue edisi sebelumnya), pemilihan Indira Gandhi Stadium untuk India Open 2026 juga sebagai persiapan jelang Kejuaraan Dunia 2026 bulan Agustus.
BWF memiliki aturan yang menjadi panduan pemilihan venue turnamen. Hal tersebut tertuang dalam BWF Statutes, Section 5.3.4, terkait Specifications for International Standard Facilities.
Statuta tersebut mengatur aneka persyaratan, seperti: minimal tinggi venue, jenis permukaan lapangan, pencahayaan, aturan sirkulasi udara yang bertujuan meminimalisasi pergerakan kok.
Regulasi tersebut juga menyebut aturan temperatur ruangan pertandingan antara 18 sampai 30 derajat celcius, lapangan pemanasan, fasilitas tes doping, tenaga medis, keamanan, serta perlengkapan lainnya.
Namun sayang sekali dalam statuta tersebut tidak ditemukan aturan yang mengatur dengan jelas soal kualitas udara di sekitar venue pertandingan. Poin inilah yang kemudian menimbulkan masalah di India Open 2026.
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id
































