6 Juni 1975

Kala Indonesia Menang Piala Uber Pertama Kali

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi - 6 Jun 2018 00:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Kilau piala.
Ratu dunia bola
berbulu angsa.
tirto.id - Kejuaraan bulu tangkis internasional beregu putri, Uber Cup, pertama kali digelar pada 1956. Amerika Serikat kala itu menjadi juara pertamanya. Begitu juga di dua gelaran selanjutnya pada 1960 dan 1963. Pada Uber Cup 1966, 1969, dan 1972 giliran Jepang yang memuncaki.

Dominasi Jepang di Uber Cup akhirnya dipatahkan Indonesia pada 1975. Itu juga momen pertama kalinya Indonesia jadi juara. Rekor lainnya, Indonesia menjadi negara pertama yang “mengawinkan” Piala Thomas dan Uber dalam satu musim.

Kala itu Indonesia menjadi tuan rumah sehingga tak harus melalui babak kualifikasi untuk berlaga di babak antarzona. Di putaran pertama babak antarzona, Indonesia berhasil menundukkan Malaysia yang mewakili Zona Asia dengan skor telak 7-0. Lalu di putaran kedua Indonesia juga berhasil menyingkirkan Inggris dengan skor 5-2.

Tim Indonesia bertemu Jepang di final. Sebagai juara bertahan Uber Cup 1972, Jepang juga tak harus melewati babak kualifikasi. Di babak antarzona tim Jepang bermain meyakinkan dengan mengalahkan Kanada yang mewakili Zona Pan-Amerika dengan skor 6-1.

Pertandingan final Uber Cup 1975 diselenggarakan di Istora Senayan pada 6 Mei 1975, tepat hari ini 43 tahun lalu. Ini adalah kali ketiga Tim Indonesia berhadapan dengan Tim Jepang di final. Di dua final sebelumnya, pada 1969 dan 1972, Indonesia selalu tumbang dengan skor sama, 6-1. Karenanya, kali ini Tim Indonesia punya motivasi besar untuk merebut kemenangan dari Jepang di kandang sendiri.

Cara Sempurna untuk Menang

Tim Indonesia kala itu diisi oleh Taty Sumirah, Theresia Widiastuty, dan Utami Dewi di nomor tunggal serta Imelda Wiguna, Minarni Sudaryanto, dan Regina Masli untuk nomor ganda. Minarni dipilih sebagai kapten tim karena dialah yang paling berpengalaman berlaga di Uber Cup. Sabaruddin S.A. dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Bulutangkis (1994) mencatat Minarni telah ikut dalam empat Uber Cup sebelumnya, yaitu pada 1960, 1963, 1969, dan 1972. Sementara itu, ini adalah yang pertama kalinya bagi Theresia Widiastuty (hlm. 264).

Sebagaimana dilansir harian Kompas (7/6/1975), di pertandingan tunggal pertama Theresia Widiastuty berhadapan dengan Hiroe Yuki. Bagi Tuty—sapaan akrab Theresia Widiastuty—Yuki adalah lawan berat. Pasalnya ia adalah juara All England 1975.

Pada menit-menit awal set pertama Tuty ketinggalan 0-5. Banyak pukulan Tuty yang tersangkut ke jaring atau melebar. Tuty baru bisa menyerang setelah ketinggalan 6-0. Yuki sempat dibuat repot dan Tuty berhasil menyamakan kedudukan 6-6. Namun, perlawanan Tuty hanya sampai di situ. Yuki kembali pegang kendali dan mengandaskan Tuty dengan skor 11-7 dalam waktu 10 menit.

“Set kedua berlangsung lebih cepat lagi, 8 menit. Yuki memimpin sampai 9-0 dan kemudian menamatkan set kedua dengan 11-1,” tulis harian Kompas. Jepang unggul 0-1 atas Indonesia.

Lalu Taty Sumirah melawan Atsuko Tokuda di partai tunggal kedua. Taty yang di semifinal berhasil mengalahkan Margaret Beck dari Inggris berhasil memenangi pertandingan secara straight sets dengan skor telak, 11-5 dan 11-2. Tokuda memberi perlawanan gigih namun ia tak cukup matang berhadapan dengan Taty yang berpengalaman dan bermain agresif. Skor menjadi 1-1.

Kekalahan Tokuda dibalaskan oleh Noriko Nakayama di partai tunggal ketiga. Utami Dewi dibuat tak berkutik oleh Nakayama yang sama seniornya dengan Minarni. Di partai ini Nakayama yang bekas juara All England mengandalkan permainan rally panjang yang tak mampu diimbangi Utami. Adik pebulutangkis Rudy Hartono ini malah lebih banyak melakukan kesalahan dalam mengantisipasi serangan Nakayama. Utami menyerah dengan skor 5-11 dan 3-11 dalam 30 menit. Tim Indonesia ketinggalan angka 1-2.

Ketertinggalan Tim Indonesia berbalik jadi keunggulan saat partai ganda dimainkan. Di partai ganda pertama, pasangan Minarni-Regina Masli unjuk gigi melawan pasangan Etsuko Takenaka-Machiko Aizawa. Dua pebulutangkis Jepang ini adalah pasangan kuat. Takenaka-Aizawa adalah juara nomor ganda putri All England tiga kali pada 1972, 1973, dan 1974. Pertandingan berjalan alot, tetapi akhirnya Minarni-Regina berhasil menundukkan Takenaka-Aizawa melalui kemenangan rubber sets 15-6, 6-15, dan 15-9. Kedudukan kini imbang 2-2.

Di pertandingan nomor ganda kedua, ada Tuty yang berpasangan dengan Imelda Wiguna. Pasangan ini berhadapan dengan Hiroe Yuki-Mika Ikeda. Tuty-Imelda berhasil menang straight sets dengan skor 15-4 dan 15-9. Indonesia unggul 3-2.

Adalah pasangan old crack Minarni-Regina yang menjadi penentu kemenangan Tim Indonesia. Melawan Yuki-Ikeda, Minarni-Regina Masli menang straight sets dengan skor 15-8 dan 15-11. Jepang sudah tertinggal 4-2 dari Indonesia dan tak mungkin mengejar.

Di partai ganda terakhir ada Tuty-Imelda bertemu Takenaka-Aizawa. Meski sudah tak menentukan lagi, partai ini penting bagi Tuty-Imelda. Sebelumnya, kedua pasangan ini bentrok di laga final All England 1975 dan Takenaka-Aizawa menang. Kini, saatnya Tuty-Imelda revans.

“Setelah merebut set pertama 17-14 melalui pertarungan ketat, Tuty-Imelda menutup set kedua dengan amat telak: 15-0! Tidak ada cara lain yang lebih hebat dan sempurna untuk mengakhiri klimaks kemenangan regu Indonesia di gelanggang pertandingan olahraga!” tulis Kompas. Skor akhir 5-2 untuk kemenangan Tim Uber Indonesia.

Infografik Mozaik Piala uber pertama Indonesia


Bulutangkis Putri yang Sedang Menanjak

Orang kira kemenangan Indonesia itu sudah sewajarnya karena menjadi tuan rumah. Seluruh anggota tim tentu tak harus berpayah-payah menyesuaikan diri dengan iklim Jakarta yang panas. Selain itu, tim Inggris dan Jepang masih harus mengatasi tekanan dari pendukung Indonesia.

Namun, yang lebih penting dari itu adalah materi pebulutangkis putri Indonesia yang sedang bagus-bagusnya. Prestasi individunya pun cukup merata baik untuk nomor tunggal dan ganda. Bahkan harian Kompas menyebut bahwa kekuatan pebulutangkis putri Indonesia saat itu “melebihi kebutuhan”.

“Untuk deretan pemain tunggal terdapat Taty Sumirah, Utami Dewi, Theresia Widiastuty, Sri Wiyanti, Verawaty, dengan cadangan-cadangan Theodora, Liana, dan Holly. Ditambah dengan pemain-pemain spesialis ganda seperti Minarni Sudaryanto, Imelda Wiguna dan Regina Masli. Dengan materi tersebut, yang menjadi persoalan malah siapa yang akan tersisih dari team inti,” tulis Kompas (10/5/1978).

Dari sederat nama-nama itu akhirnya Taty Sumirah, Utami Dewi, dan Tuty-lah yang berhasil lolos seleksi tim inti. Seperti dicatat Sabaruddin S.A., Taty telah mencicipi final Uber Cup 1972. Di tahun yang sama ia juga berhasil mencapai perempat final All England (hlm. 287). Sementara itu Utami Dewi sudah ikut menjadi pilar tim Uber Indonesia sejak gelaran 1969. Tahun 1972 ia menjadi runner-up turnamen eksibisi di Olimpiade Munich, Jerman Barat (hlm. 127).

Yang paling “hijau” di Tim Uber Indonesia kala itu adalah Theresia Widiastuty. Ia baru mengawali pengalaman kompetisinya kala berlaga di kejuaraan bulu tangkis nasional pada 1968. Saat itu ia baru berusia 13. Selanjutnya ia ikut kejuaraan-kejuaraan tingkat daerah di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Pada 1973 atas prestasinya ia dipanggil ikut pelatnas (hlm. 363).

Sementara itu, pemain ganda putri Imelda Wiguna mulai mendalami bulu tangkis di klub Mutiara, Bandung. Ia masuk pelatnas pada 1972. Di pelatnas ia lebih banyak berlatih untuk nomor ganda karena menurutnya lebih “berseni”. Ia pertama kali dipasangkan dengan Tuty pada 1974 menjelang Uber Cup 1975 (hlm. 125).

Regina Masli adalah peraih medali perunggu dalam PON Surabaya 1969. Sejak awal ia adalah spesialis nomor ganda. Ia bisa berpasangan dengan banyak atlet seperti Taty Sumirah, Tuty, Imelda, Sri Wiyanti, dan Ivana Lie sebelum berlaga di Uber Cup 1972.

“Gelar terbaik didapatnya di ganda campuran, ketika bersama Tjuntjun menjadi juara Denmark Terbuka tahun 1973,” tulis Sabaruddin (hlm. 157).

Terakhir ada Minarni Sudaryanto yang paling senior. Ia sudah mengawali karier profesionalnya sejak awal 1959. Pada 1960 ia sudah ikut Uber Cup. Prestasi pertamanya adalah ketika jadi runner-up di nomor ganda putri dan tunggal putri dalam PON Bandung pada 1961. Sejak itu ia selalu masuk dalam Tim Uber Indonesia. Pebulutangkis kelahiran Pasuruan, 10 Mei 1944, ini pernah jadi juara nomor ganda putri pada gelaran All England 1968. Saat itu ia berpasangan dengan Retno Kustiyah (hlm. 265).

Baca juga artikel terkait PIALA UBER 2018 atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Ivan Aulia Ahsan

DarkLight