Menuju konten utama

KAI Bangun 3.784 Hunian di TOD Manggarai, Ada Unit Subsidi

KAI mulai membangun 3.784 hunian di TOD Manggarai, termasuk 1.232 unit untuk MBR dan MBM yang terintegrasi transportasi publik.

KAI Bangun 3.784 Hunian di TOD Manggarai, Ada Unit Subsidi
Angkutan Pengganti Bemo (APB) atau Bajaj Qute parkir di kawasan Stasiun Manggarai, Jakarta, Jumat (4/8). ANTARA FOTO/Syailendra Hafiz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mulai membangun hunian vertikal di kawasan Transit-Oriented Development (TOD) Manggarai, Jakarta Selatan. Proyek yang memanfaatkan lahan milik KAI seluas sekitar 2,2 hektare itu akan menyediakan 3.784 unit hunian, termasuk 1.232 unit yang diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan masyarakat berpenghasilan menengah (MBM).

Pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama di Blok F dan Blok G pada Jumat (21/8/2026). Kedua blok tersebut merupakan tahap awal pengembangan kawasan hunian yang terintegrasi dengan transportasi publik di sekitar Stasiun Manggarai.

Blok F memiliki luas sekitar 15.014 meter persegi atau 1,5 hektare, sedangkan Blok G sekitar 6.925 meter persegi atau 0,7 hektare. Total lahan yang digunakan mencapai sekitar 21.939 meter persegi atau 2,2 hektare. Lokasi hunian berjarak sekitar 400 meter dari Stasiun Manggarai.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan pembangunan hunian tersebut merupakan upaya mengoptimalkan aset perusahaan sekaligus mendukung Program 3 Juta Rumah pemerintah.

"Momentum ini merupakan penegasan bahwa aset perkeretaapian yang strategis dapat dioptimalkan secara bertanggung jawab untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan tetap menempatkan keselamatan dan kelancaran layanan kereta api sebagai prioritas utama," ujar Bobby, Jumat (21/8/2026).

Dari total 3.784 unit, Blok G akan menampung 1.276 unit dalam tiga tower, sementara Blok F menyediakan 2.508 unit dalam lima tower. Masing-masing tower dirancang setinggi 24 lantai.

KAI juga menyediakan 150 unit ruang ritel sebagai fasilitas pendukung, terdiri atas 72 unit di Blok G dan 78 unit di Blok F. Dengan konsep TOD, kawasan tersebut dirancang agar fungsi hunian, transportasi publik, ruang usaha, dan aktivitas sehari-hari masyarakat saling terhubung.

Untuk hunian MBR dan MBM, KAI menyiapkan 1.232 unit yang terdiri atas 308 unit MBR dan 924 unit MBM. Sementara itu, 2.508 unit lainnya merupakan hunian komersial. Komposisi ini membuat proyek Manggarai tidak hanya diarahkan sebagai rumah susun terjangkau, tetapi juga sebagai kawasan hunian campuran di pusat kota.

Jenis unit yang disiapkan bervariasi. Blok G menyediakan tipe studio 28 meter persegi, tipe 36 dengan dua kamar tidur, serta tipe 45. Sementara Blok F mencakup tipe 36, 45, hingga tipe 52 dengan tiga kamar tidur.

Untuk kelompok MBR, hunian tersebut akan didukung skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dengan suku bunga 6 persen dan tenor hingga 40 tahun. Skema ini ditujukan untuk memperluas akses masyarakat terhadap pembiayaan hunian yang lebih terjangkau.

Bobby mengatakan pembangunan kawasan Manggarai berpegang pada tiga prinsip, yakni layak, terjangkau, dan berkelanjutan. Prinsip tersebut mencakup pemenuhan standar keselamatan dan kenyamanan, kesesuaian dengan skema pemerintah bagi kelompok sasaran, serta pemanfaatan lahan secara efisien dan terhubung dengan transportasi massal.

"Dan kita akan menjaga governance bahwa hunian di tengah kota ini akan meng-address masyarakat-masyarakat berpenghasilan rendah yang sesuai kualifikasinya, yang telah disyaratkan oleh pemerintah," kata Bobby.

Ketua Satuan Tugas Perumahan Hashim Djojohadikusumo yang hadir dalam groundbreaking tersebut menilai pembangunan hunian vertikal di Manggarai menjadi langkah penting dalam percepatan Program 3 Juta Rumah.

"Ini suatu prestasi yang luar biasa, memang kita harus melalui suatu masa yang tidak gampang. Dan sekarang setelah hampir dua tahun Prabowo Subianto jadi presiden, kita bisa melihat proyek vertikal yang pertama, yang kita berbangga nanti 24 lantai di pusat ibu kota Jakarta," ujar Hashim.

Pembangunan Blok G dijadwalkan menjadi tahap pertama, sementara Blok F menyusul setelah proses persiapan lahan. KAI juga tengah menyusun Master Plan dan Panduan Rancang Kota (PRK) untuk pengembangan kawasan TOD Manggarai secara keseluruhan.

Secara keseluruhan, rencana TOD Manggarai mencakup sekitar 129 hektare kawasan, dengan sekitar 64 hektare di antaranya merupakan lahan milik KAI. Dengan proyek hunian di Blok F dan G, perusahaan mulai mengubah sebagian aset di sekitar simpul transportasi utama Jakarta menjadi kawasan tempat tinggal yang terhubung langsung dengan jaringan angkutan publik.

Baca juga artikel terkait PROPERTI atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Flash News
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana