Menuju konten utama

Ledakan Villa Ilegal Dituding Tekan Okupansi Hotel di Bali

Okupansi hotel-hotel resmi di Bali tergerus imbas maraknya villa dan homestay ilegal.

Ledakan Villa Ilegal Dituding Tekan Okupansi Hotel di Bali
Wisatawan berjalan di dekat danau saat berkunjung di Daya Tarik Wisata (DTW) Ulun Danu Beratan, Tabanan, Bali, Rabu (24/12/2025). Pengelola objek wisata mencatat jumlah kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara pada liburan Natal mengalami peningkatan sejak empat hari terakhir yakni dari 1.100 orang menjadi 1.900 orang. ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/agr
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Firma konsultan properti Colliers Indonesia menilai salah satu penyebab utama menurunnya okupansi hotel di Bali adalah maraknya pembangunan villa dan homestay ilegal.

Kepala Departemen Riset Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menyoroti masalah ini sebagai salah satu kendala internal yang merugikan, baik bagi pemerintah maupun pelaku usaha hotel resmi karena menggerus pangsa pasar akomodasi formal.

"Yang pertama dari sisi internal kita memang marak pembangunan vila-vila yang tidak berizin, kemudian homestay-homestay yang juga tidak berizin, sehingga itu memang dari sisi pendapatan pajak pun itu memang sangat merugikan buat pemerintah," kata Ferry dalam media briefing daring, Rabu (7/1/2026).

Lebih lanjut, Ferry menjelaskan bahwa keberadaan akomodasi ilegal ini langsung bersaing dengan hotel berizin. Akibatnya, hotel-hotel resmi kesulitan mendapatkan pangsa pasar yang semestinya.

"Ditambah lagi, hotel yang harusnya mereka lebih berhak, hotel resmi yang beroperasi mereka yang lebih berhak itu tidak kebagian pasar dari situ. Sehingga memang kelihatan jadi hotel occupancy itu nggak terlalu signifikan tumbuhnya," ujarnya.

Menurut Ferry, penertiban terhadap vila dan homestay ilegal akan berdampak positif terhadap tingkat hunian hotel. "Tapi kalau ini bisa dimulai ditertibkan, mungkin seharusnya bisa lebih baik tingkat huniannya," tambahnya.

Selain persaingan tidak sehat dari akomodasi ilegal, Ferry juga menyoroti masalah infrastruktur, khususnya transportasi, sebagai kendala lain yang membuat Bali kurang kompetitif dibandingkan destinasi seperti Malaysia dan Thailand.

Ia mencontohkan kemacetan parah di daerah seperti Canggu. "Sehingga ini membuat frustasi juga wisatawan asing yang ke sana, mereka harus pindah ke satu tempat ke satu tempat itu butuh waktu yang sangat lama sehingga buat mereka ini wasting time," paparnya.

Ferry menegaskan bahwa dari sisi produk wisata, budaya, dan sumber daya alam, Bali sebenarnya tidak kalah. Namun, dua masalah utama yaitu akomodasi ilegal dan infrastruktur transportasi yang belum memadai, perlu segera dibenahi untuk mengembalikan geliat pariwisata Bali dan meningkatkan daya saingnya di kawasan.

Adapun, apa yang disampaikan Ferry tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS), di mana Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Bali pada November 2025 tercatat 57,97 persen, atau turun 6,60 poin dibandingkan Oktober 2025 yang mencapai 64,57 persen.

Penurunan TPK hotel berbintang ini berbanding terbalik dengan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara yang mengalami lonjakan di November.

BPS Provinsi Bali mencatat, jumlah wisman yang datang langsung ke Bali pada Januari hingga November 2025 mencapai 6,38 juta kunjungan, tumbuh dua digit atau sebesar 10,27 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Australia masih mendominasi kunjungan wisman ke Bali selama 11 bulan di tahun lalu itu. Jumlahnya 1,49 juta kunjungan.

“Bali situasinya sekarang cukup unik. Boleh dibilang cukup unik karena bahkan bisa dibilang paradoks ya. Mungkin teman-teman sudah dengar bahwa jumlah wisatawan ini terus naik, tapi okupansi hotel tidak ikut melonjak,” tuturnya.

Baca juga artikel terkait OKUPANSI HOTEL atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana