tirto.id - Industri reasuransi Indonesia mengalami tekanan signifikan pada semester I-2025. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat ekuitas sektor reasuransi merosot tajam hingga 23,7 persen menjadi Rp6,3 triliun, turun dari posisi sebelumnya sebesar Rp8,3 triliun.
“Serta penurunan ekuitas yang cukup tajam terjadi di industri reasuransi pada tengah tahun baru di 2025 ini sebesar 23,7 persen dari Rp8,3 triliun menjadi Rp6,3 triliun," ujar Wakil Ketua AAUI Bidang Statistik dan Riset, Trinita Situmeang, dalam konferensi pers, dikutip Selasa (2/9/2025).
Meski demikian, ekuitas perusahaan asuransi umum turut mengalami penurunan tipis dari Rp80,3 triliun menjadi Rp79,8 triliun.
Trinita menjelaskan bahwa penurunan ekuitas ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti perubahan sistem pencadangan hingga penerbitan premi.
"Itu bisa disebabkan dari perubahan-perubahan sistem pencadangan ataupun penyesuaian pencadangan, jumlah klaim, juga mungkin premi yang dirilis berdasarkan penutupan jangka panjang tidak sebesar di tahun-tahun sebelumnya," ujarnya.
Namun begitu, ia tidak dapat memastikan penyebab pasti dari penurunan ekuitas industri asuransi dan reasuransi ini karena kasusnya berbeda di setiap perusahaan. Hal ini menurutnya bisa dilihat pada mekanisme perhitungan laba rugi perusahaan.
“Kami tidak dapat menyampaikan detailnya, ini tentunya terkaitkan dengan mekanisme dari perhitungan laba rugi dari perusahaan masing-masing,” ucapnya.
Meski mengalami penurunan ekuitas, industri asuransi dan reasuransi secara keseluruhan menunjukkan perbaikan kinerja. Laba bersih industri reasuransi mencapai Rp671 miliar, meningkat dibandingkan Rp413 miliar pada semester I-2024.
Sementara laba bersih industri asuransi umum mencapai Rp7,9 triliun pada semester I-2025, berbalik dari rugi Rp4,2 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. "Di kuartal kedua telah menunjukkan perbaikan, kenaikannya cukup jauh," kata Trinita.
Pendapatan premi neto reasuransi naik 15,2 persen (yoy) menjadi Rp5,12 triliun, sedangkan premi neto asuransi umum tumbuh 42,1 persen (yoy) menjadi Rp33,19 triliun.
Perbaikan kinerja ini terutama didorong oleh penyesuaian metode akuntansi dan stabilisasi hasil perhitungan cadangan premi jangka panjang serta klaim IBNR (Incurred But Not Reported) yang lebih konsisten dibandingkan tahun sebelumnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































