Imigran China yang Berkubang dalam Tambang Emas & Rel Kereta Api

Kontributor: Ali Zaenal, tirto.id - 20 Jan 2023 00:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Para imigran China di AS berperan dalam "Demam Emas California" dan pembangunan jalur KA lintas benua. Meski begitu, diskriminasi rasial tak kunjung reda.
tirto.id - Artikel sebelumnya: Permulaan Imigran China di AS Lewat Perbudakan dan Perang Candu


Dalam keadaan basah kuyup, James Wilson Marshall tergesa-gesa menghampiri majikannya, John Sutter. Ia membisikkan sesuatu mengenai berita penting yang harus dibicarakan di ruangan tertutup dan rahasia.

Keduanya kemudian menuju kamar pribadi Sutter. Marshall merogoh kain dari kantong dan menunjukkan lempengan logam berwarna kuning.

Secara bersamaan, pintu terbuka ketika juru tulis Sutter menyela untuk keperluan bisnis. Sutter lupa mengunci pintu, ia tidak yakin apakah juru tulisnya sempat melihat apa yang dikeluarkan Marshall dari sakunya atau sebaliknya.

Setelah pegawainya pergi, pintu dikunci dan perbincangan kembali dilanjutkan. Logam kembali ditunjukkan Marshall sembari menjelaskan mengenai kemungkinan nilainya yang berharga.

Sutter mengujinya dengan asam nitrat dan beberapa eksperimen lain. Tambahan referensi panjang mengenai emas dari Encyclopedia Americana cukup meyakinkannya bahwa logam tersebut adalah salah satu emas dengan kualitas terbaik.

“Setidaknya 23 karat,” ujarnya sebagaimana dikutip majalah California Hutchings edisi November 1857.

Sutter adalah pengusaha yang tengah membangun pabrik penggergajian kayu bertenaga air yang kontruksinya diserahkan kepada Marshall, tukang kayu asal New Jersey. Ia juga memiliki beberapa buruh dari berbagai ras, mulai dari imigran Eropa, Meksiko, hingga orang Indian.

Sebelum memberitahu Sutter, Marshall sempat mengabarkan penemuannya kepada para buruh pabrik. Cela dan tertawaan malah didapatkannya seraya menyebutnya gila.

Sore itu, 24 Januari 1848, hujan turun cukup deras di Sacramento. Penemuan emas di Lembah Sacramento mengubah lanskap California, sekaligus mempercepat statusnya untuk masuk menjadi negara bagian AS ke-31.

Di penjuru Amerika, “Demam Emas” kemudian mulai melanda. Banyak kota mati karena populasi prianya berkurang. Ladang dan perkebunan juga ditinggalkan di desa-desa. Mereka meninggalkan pekerjaan dan bergegas menuju California.

John Sutter bahkan mengalami kerugian ketika usaha dan pabriknya ditinggalkan begitu saja oleh para buruh yang beralih menjadi penambang emas.

Di penghujung tahun 1848, Presiden James Folk mengabarkan mengenai tambang emas yang melimpah di California. Dampaknya bukan hanya skala nasional, tetapi ribuan imigran dari berbagai negara, termasuk China, datang berbondong-bondong mengundi nasib di Gam Saan--istilah China yang berarti gunung emas di negeri jauh.


Demam Emas California
Menambang di Sungai Amerika dekat Sacramento. FOTO/commons.wikimedia.org


Kedatangan Imigran China

Gordon H. Chang dalam bukunya Ghosts of Gold Mountain: The Epic Story of the Chinese Who Built the Transcontinental Railroad (2020) menuturkan bahwa kepadatan penduduk di Provinsi Guangdong pada pertengahan abad ke-19 ditaksir mencapai 25 juta orang. Sebagian besar imigran China yang datang ke Amerika Serikat pada abad ke-19 berasal dari wilayah ini.

Kegagalan panen, Perang Opium II, dan pemberontakan Taiping menjadi faktor pendorong penduduk China untuk bermigrasi. Ditambah kembalinya beberapa imigran dari AS yang mengabarkan adanya gunungan emas di California.

Orang-orang China dikenal memiliki ikatan kuat tentang tradisi dan budaya leluhur. Mereka yakin akan kinerja kosmologi alam semesta dan peran manusia. Keyakinan itu melekat ke manapun mereka pergi, termasuk ke Amerika.

Awal Februari 1848, kapal Brige Eagle bermuatan rombongan pekerja China tiba di San Fransisco dari Hongkong. Di dalamnya terdapat satu perempuan asal Guangzhou bernama Marie Seise yang sebelumnya bekerja untuk keluarga pedagang asal New York ketika di Hongkong. Ia tercatat sebagai perempuan China pertama yang mendarat di San Francisco.

Kedatangannya bersama rombongan tersebut menjadi prosesi bersejarah ekspansi imigran China ke AS dalam beberapa dekade. Hal yang sudah dilakukan oleh orang-orang China sebelumnya seperti yang dilakukan Yung Wing dan teman sekelasnya setahun sebelumnya saat mendarat di New York.

Para imigran China yang berburu emas mendapat sambutan hangat dari para buruh lain yang lebih dulu tiba. Mereka dikagumi karena memiliki karakter dan etos kerja yang baik: tekun dan disiplin. Mereka bahkan rela dibayar dengan upah rendah.

Proses adaptasi dengan industri baru dan keinginan untuk cepat belajar juga menjadi faktor penting diterimanya para buruh asal China ketika meramaikan pencarian emas di Lembah Sacramento.

Selama pencarian emas, para penambang biasanya menyebar di sepanjang anak Sungai Sacramento dan San Joaquin. Tidak butuh peralatan mahal untuk menambang, cukup bermodalkan sekop untuk menggali, beliung untuk mencungkil, dan panci untuk mengayak.

Para imigran China bukan hanya berburu emas, tetapi juga mampu bekerja sebagai juru masak, tukang cuci, tukang kayu, dan pelayan serba bisa bagi siapa saja yang mempekerjakannya.

Kesederhanaan dan sikap mereka yang penurut banyak menuai pujian.

Para pemburu emas di pertambangan juga berasal dari wilayah lain, seperti Meksiko, Chili, Peru, Oregon, dan Hawaii.

Seturut catatan National Geographic, pada bulan Agustus 1848 jumlah penambang emas mencapai 4.000 orang. Di akhir tahun, jumlah penduduk non-pribumi di wilayah itu membengkak menjadi 20.000 orang.

Saat itu berbagai hunian di sekitar pertambangan sudah bermunculan, mulai dari toko, salon, hingga tempat prostitusi.

Di seluruh wilayah AS, populasi China semakin meningkat. Puncak ledakan terjadi pada tahun 1852 ketika 20.000 imigran China tiba di pabeanan San Fransisco untuk mencari pekerjaan.


Demam Emas California
Para penambang emas ketika Demam Emas California. FOTO/commons.wikimedia.org


Ditimpa Isu Rasial

Kondisi dalam negeri yang masih dilanda pergolakan menjadi pendorong para imigran China yang tinggal di AS untuk mengirim uang kepada keluarga mereka.

Dari hasil penambangan emas, mereka mampu membangun hunian dan membentuk beberapa perkumpulan untuk saling menjaga.

Masalah mulai datang ketika eksplorasi emas mengecewakan pendatang baru. Menipisnya hasil galian memaksa mereka melampiaskan kemarahan kepada orang asing. Tindakan rasis dan pelecehan mulai dilakukan para pendatang dari Amerika kepada orang-orang Meksiko, Prancis, dan China yang dianggap menghabiskan stok emas di pertambangan.

Kekerasan mulai terjadi sebelum lembaga Legislatif California melegitimasi Pajak Penambang Asing pada tahun 1850 yang memberlakukan pungutan sebesar $20 per bulan.

Hal tersebut membawa dampak buruk bagi permukiman wilayah karena area pertambangan mulai sepi dan pemasukan untuk tempat komersil di sekitarnya menurun. Ditambah menyebarnya para imigran yang tidak memiliki uang akibat pajak tinggi, aturan pajak kemudian dicabut tahun 1851.

Namun, Undang-undang Pajak Asing kembali diberlakukan pada bulan Mei 1852. Kali ini pungutannya lebih rendah, sekitar $3 sampai $4 untuk penambang asing.

Kecemburuan makin menjadi karena buruh China mematok upah rendah. Ini juga berlaku di sektor pekerjaan lain, sementara orang Amerika yang didominasi warga kulit putih ingin dibayar lebih tinggi. Akibatnya pengangguran merajalela di Amerika.

Orang-orang kulit putih memandang rendah buruh China dengan menyebut mereka sebagai kuli yang serakah, rakus, dan tidak tahu diri.

Ketika kekerasan meningkat, lembaga pemerintah federal kembali campur tangan dan melakukan diskriminasi terhadap orang China dan keturunan Afrika pada tahun 1854. Kali ini Mahkamah Agung California melarang mereka menjadi saksi di pengadilan sehingga sulit bagi para imigran untuk mencari keadilan.

Ketika sumbangsih orang China melalui pajak asing masih diberlakukan, California mengeruk dan menikmati pendapatannya.

Sementara diskriminasi terus terjadi.


Imigran cina di AS
Seorang tukang sepatu Cina memperbaiki sepatu di trotoar kota di Pecinan New York, 28 September 1986. (AP Photo/Rick Maiman)


Pembangunan Kereta Api Lintas Benua

Ketika kondisi pertambangan makin keruh, sebagian imigran China beralih profesi menjadi buruh tani, buruh kontruksi, dan buruh pabrik garmen.

Sebanyak 50 imigran terlibat dalam pembangunan jalur kereta api di California pada tahun 1858. Dua tahun kemudian, mereka bekerja untuk jalur kereta yang menghubungkan San Francisco dengan San Jose.

Awal Juli 1862, Kongres AS dan Presiden Abraham Lincoln meloloskan RUU Kereta Api Pasifik yang menyetujui pembangunan jalur kereta lintas benua untuk menghubungkan wilayah timur dan barat Amerika Serikat.

Dua perusahaan ditunjuk untuk mengerjakan proyek ini. Central Pacific Rail Road (CPRR) Company akan membangun jalur barat, sedangkan Union Pacific Rail Road (UPRR) akan membangun jalur timur.

Menurut rencana, pembangunan akan memakan waktu 6 tahun dimulai pada Januari 1863 hingga Mei 1869.

Pada awal pengerjaan, kedua perusahaan menjalankan proyek dengan sangat lambat. Misalnya yang dikerjakan CPRR seperti ditulis Gordon H. Chang dalam Ghosts of Gold Mountain: The Epic Story of the Chinese Who Built the Transcontinental Railroad (2020 hal. 99), dalam satu setengah tahun pertama pengerjaan, dari Januari 1863 hingga Juni 1864, jalur CPRR hanya sejauh kota kecil Newcastle, tiga puluh satu mil dari Sacramento.

Sebelumnya, iklan-iklan lowongan pekerjaan dipublikasikan untuk menjaring buruh dalam pembangunan jalur kereta lintas benua. Kelas pekerja kulit putih banyak yang enggan menerimanya karena dianggap terlalu berbahaya. Mereka lebih tertarik menjadi petani atau berladang.

Pekerjaan mulai menunjukan progres yang signifikan ketika ribuan pekerja China didatangkan. Agen pemasok tenaga kerja sengaja dikirim ke China, terutama wilayah Guangzhou, untuk mengajak mereka turut serta mengerjakan proyek kereta lintas benua.

Gubernur California, Leland Stanford, tergolong orang yang terbuka dalam banyak hal. Ini dikarenakan posisinya sebagai salah satu pemilik CPRR yang akhirnya berhasil merekrut 4.000 imigran China pada bulan Juli 1865.


Infografik Mozaik Imigran Cina jadi kuli AS
Infografik Mozaik Imigran Cina jadi kuli AS. tirto.id/Ecun


Populasi China di California pada saat itu berkisar 50.000 hingga 60.000 orang yang menyebar di San Francisco, Sacramento, dan wilayah sekitar Sierra Nevada.

Selama pengerjaan jalur kereta api lintas benua, setidaknya ada 10.000 hingga 15.000 pekerja China yang bertugas membangun rel, terowongan, dan meledakkan dinamit di perbukitan dan gunung.

Mereka bekerja tak kenal lelah dengan berbagai kondisi cuaca. Meski begitu, diskriminasi tetap berlaku. Misalnya dari segi fasilitas dan gaji. Para pekerja China mendapatkan upah $26 sebulan dengan beban kerja enam hari per minggu. Kemudian meningkat menjadi $31 dengan biaya makan, penginapan, dan penggunaan alat perusahaan ditanggung sendiri.

Hal berbeda diterapkan kepada pekerja kulit putih yang berpenghasilan lebih tinggi dengan paket makan dan wiski gratis.

Pada Juni 1867, sebagaimana dilansir NBC News, upah mereka naik menjadi $35 melalui upaya mogok massal yang terorganisasi menuntut hak yang sama dengan pekerja kulit putih.

Kereta api lintas benua berhasil diselesaikan pada tanggal 10 Mei 1869.

Di beberapa wilayah, sikap dan kekerasan anti-China terus terjadi. Para perempuan China banyak yang dipaksa menjadi pekerja seks di jalanan California karena tekanan ekonomi atau bekerja dalam ancaman gangster China-Amerika yang bermunculan.

Di sisi lain, imigran China yang sudah lama menetap dan menikah di AS mencoba berjuang untuk mendapatkan legalitas kependudukan dan integrasi.

Lalu, apa saja yang dilakukan para imigran untuk mendapatkan pengakuannya di AS?

Artikel selanjutnya: Integrasi Imigran China di Tengah Diskriminasi Amerika Serikat

Baca juga artikel terkait IMIGRAN CINA atau tulisan menarik lainnya Ali Zaenal
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight