Permulaan Imigran China di AS Lewat Perbudakan dan Perang Candu

Kontributor: Ali Zaenal, tirto.id - 17 Jan 2023 00:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Perang Opium I melahirkan perubahan arah diplomasi antara China dengan Barat. Hal ini salah satunya mendorong migrasi rakyat China ke AS.
tirto.id - Kapal Pallas dari East India Company melakukan pelayaran dari Baltimore menuju Asia Timur dan mendarat di Guangzhou, China. Dipimpin saudagar ulung asal Irlandia, John O’Donell, kapal kembali ke Baltimore sekitar bulan Agustus 1785 membawa berbagai barang termasuk rempah yang sangat berharga.

Porselen, teh, satin, sutra, hiasan dinding, kayu manis, hingga opium dalam jumlah besar kemudian diperjualkan O’Donell begitu tiba di Baltimore. Dari penjualan tersebut, ia membeli lahan seluas 2.000 hektare untuk membuka perkebunan yang dinamakannya Kanton--kini sebuah kota yang masuk wilayah Ohio.

Penamaan itu dilakukan untuk menghormati nama lain Guangzhou dalam tutur bahasa Inggris.


Ashing, Achun, dan Accun adalah awak kapal Pallas yang diperbudak O’Donell. Ketiganya berasal dari Guangzhou. Pendaratan mereka di Baltimore bersama kapal Pallas menandai dimulainya para pendatang asal China ke negeri Paman Sam.

Perang Opium I dan Perubahan Arah Diplomasi

Ah Fei dan Ah Ho, dua pelaut asal Guangzhou lainnya terlibat dalam pembuatan kapal North-West America sekitar tahun 1788 yang dipimpin pedagang asal Inggris, John Meares. Bersama 48 orang China lainnya mereka ikut berlayar ke Pulau Vancouver di Amerika Utara.

John Meares membangun kapal keduanya sekitar tahun 1789 dan mempekerjakan kembali orang China. Kapal perang Spanyol di bawah komando Esteban José Martinez kemudian menangkap dan memaksa mereka menjadi budak untuk pembuatan benteng dan galian tambang.

Sampai sini belum ada catatan resmi yang menyebut jumlah imigran China yang menetap sebelum catatan sensus tahun 1830 tentang tiga orang China yang tinggal di AS.

Ketika Perang Opium I meletus tahun 1839 antara China dan Inggris, eksodus pendatang China ke wilayah Amerika semakin gencar.

Dinasti Qing yang berkuasa sejak pertengahan abad ke-17 mulai menunjukkan tanda-tanda kehancuran ketika Hongkong dijadikan jaminan perang pada tahun 1842 melalui Perjanjian Nanjing.


Perang Candu I
Perang Candu I. FOTO/wikipedia


Keuangan China yang sudah di ambang kebangkrutan melahirkan kebijakan yang membuat petani makin terpuruk karena harus membayar pajak yang sangat tinggi. Bencana alam dan wabah yang banyak terjadi memperparah kondisi petani yang gagal panen.

Mereka kemudian memberontak melalui Pemberontakan Taiping yang menyebabkan konflik internal tak terhindarkan.

Populasi China saat itu semakin padat sehingga persaingan juga semakin keras.

Ekonomi yang lumpuh akhirnya memaksa orang-orang Guangzhou pergi ke tempat lain untuk mendapatkan peruntungan, termasuk bermigrasi ke AS melalui beberapa tahap pelayaran, baik secara legal maupun penyelundupan.

Amerika Serikat yang memandang China sebagai “mitra yang menguntungkan”, tak mau tinggal diam membaca situasi akibat Perang Opium I ini. AS di bawah kepemimpinan presiden John Tyler mengadakan perjanjian diplomatik dengan China di Makau pada tahun 1844.

Perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian Wangxia tersebut salah satu isinya adalah memaksa China untuk membuka wilayah perdagangannya di Guangzhou, Xiamen, Fuzhou, Ningbo, dan Shanghai.

Wilayah ini cukup strategis sebagai jalur persimpangan budaya Barat dan Timur.

Klausul perjanjian juga menjadi penanda baru hubungan China dengan dunia luar, terutama dengan Barat.

China di bawah Dinasti Qing selama ini berpijak pada sistem upeti untuk menjalankan diplomasi luar negeri. Pihak asing yang ingin bertransaksi dengan China harus mengakui kekaisaran, keunggulan, dan otoritas penguasanya.


Kesuksesan Yung Wing dan Cikal Bakal Migrasi Pendidikan

Sebagai dampak dari Perjanjian Wangxia, para pengusaha dari AS banyak bermukim dan menjalankan bisnisnya di China. Hal yang tak bisa dihindari adalah peran para kuli China yang banyak membantu mereka. Ada yang menjadi penerjemah, penunjuk jalan, hingga asisten pribadi.

Kegiatan para misionaris AS juga sangat leluasa dilakukan di China dan sekitarnya. Mereka biasanya membuka sekolah seperti yang dilakukan pendeta Samuel Robbins, pendeta lulusan Universitas Yale yang memimpin Lembaga Pendidikan Morrison di Makau.

Yung Wing, anak berusia 7 tahun memikat hati sang pendeta. Ia dibujuk ayahnya untuk bersekolah agar pandai berbahasa Inggris.

Berasal dari keluarga petani di Nam Ping, Yung Wing sebagaimana dikisahkan dalam buku biografinya My Life in China and America (1909) adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Ayahnya meninggal ketika Perang Opium I berkecamuk tahun 1840.

Untuk menopang ekonomi keluarga, ia bersama kakak laki-lakinya kerap memancing dan menjual ikannya di desa tetangga.

“Penghasilan harian saya dua puluh lima sen yang saya serahkan kepada ibu,” ujarnya.

Ia diajak pendeta Robbins untuk pindah ke Hongkong pada 1842. Lima tahun kemudian ia menawarkan diri untuk ikut ke AS.

Yung Wing
Yung Wing. FOTO/commons.wikimedia.org/


Sebelum berangkat ke AS, Yung Wing dihinggapi kegelisahan karena akan berpisah dengan keluarganya. Ibunya tidak mengizinkan, tetapi ia berhasil meyakinkan bahwa masih ada dua saudara laki-laki dan satu saudara perempuannya yang bisa diandalkan untuk menghidupi keluarga.

Saat itu pendeta Robbins akan mengakhiri jabatan dan hendak kembali ke AS. Dalam perpisahannya, ia mengajak beberapa murid yang bersedia menemaninya pulang. Dia menjanjikan pendidikan selama di AS dan Yung Wing sangat terpikat untuk ikut.

Bersama dua teman kelasnya, Wong Shing dan Wong Foon, mereka berangkat pada tanggal 4 Januari 1847. Kapal Huntress yang membawa mereka kemudian melabuhkan sandarannya di New York tanggal 12 April 1847.

Selama di AS, mereka tinggal di pemondokan keluarga pendeta Robbins sebelum didaftarkan ke Monson Academy di Massachussets. Perbedaan iklim dan lingkungan membuat mereka harus pandai beradaptasi.

Wong Shing memiliki kesehatan yang kurang baik dan terus memburuk karena sulit beradaptasi denga cuaca AS. Ia akhirnya kembali ke China pada tahun 1848. Sementara Wong Foon mendapatkan tawaran pendidikan di Universitas Edinburgh di Skotlandia setahun kemudian.

Yung Wing akhirnya bertahan hidup seorang diri, sementara bantuan finansial menjadi pertimbangan. Atas nasihat pendeta Robbins, ia bisa meneruskan pendidikan dengan syarat bersedia menjadi misionaris setelah lulus dan membantu pendidikan China di masa depan.

Universitas Yale yang didirikan tahun 1701 menerimanya pada tahun 1850 dan menjadikannya sebagai orang China pertama yang lulus di universitas AS tahun 1854.

Setelah lulus, ia sempat magang singkat di Sheffield Scientific School.

Didasari rasa rindu kampung halaman dan ikrar yang pernah dibuatnya sebagai misionaris, ia pulang kampung bersama rombongan misionaris AS lainnya.

Butuh waktu satu tahun baginya mendapatkan kembali dialek Kanton yang pernah ia lupakan selama tinggal di AS. Ia menetap di wilayah tersebut pada tahun 1855 dalam keadaan politik yang bergejolak.


Infografik Mozaik Cina Mendarat di AS
Infografik Mozaik Cina Mendarat di AS. tirto.id/Ecun


Untuk mendapatkan posisi di masyarakat, Yung Wing beberapa kali alih profesi, mulai dari asisten tenaga medis, asisten pengacara, juru bahasa Jaksa Agung, hingga pegawai penerjemahan di pabeanan.

Beberapa tahun kemudian, ia sudah mendapatkan beberapa peran penting di tingkat provinsi. Proposalnya mengenai Misi Pendidikan China dikabulkan pemerintah. Ia mulai menyusun komisi pendidikan untuk menyeleksi anak-anak China yang akan dikirim ke luar negeri.

Sebagaimana dikutip Dewan Studi Asia Timur Yale, selama satu dekade lebih, 120 siswa China telah dikirim ke sekolah-sekolah di AS, termasuk ke Yale. Banyak alumni Yale yang kembali ke China berhasil menjadi pionir di bidang teknik, diplomasi, dan akademisi.

Salah satunya Zhan Tianyou yang dikenal sebagai "Bapak rel kereta api China", dan Tang Guo'an presiden pertama Universitas Tsinghua di Beijing.

Yung Wing dianggap sebagai wujud China modern yang telah membuka babak baru dalam sejarah pendidikan China. Sampai hari ini, patung dan potretnya banyak menghiasi galeri dan institusi pendidikan di AS dan China.

Sementara itu di California, sebuah tambang emas ditemukan pada 1848, setahun setelah Yung Wing berlabuh di AS. Tambang tersebut membawa ribuan imigran China yang datang untuk mencari kekayaan sebagai buruh tambang.

Dalam periode yang sama, Undang-undang Naturalisasi AS yang diberlakukan sejak Maret 1790 kian santer digaungkan untuk menjaring para imigran non-kulit putih.

Lantas, bagaimana nasib imigran China di AS selama menjadi buruh dalam periode Gold Rush?

Artikel Selanjutnya: Imigran China yang Berkubang dalam Tambang Emas & Rel Kereta Api

Baca juga artikel terkait IMIGRAN CINA atau tulisan menarik lainnya Ali Zaenal
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi

DarkLight