Menuju konten utama

Hari Asyura Terjadi Pada Bulan Apa dan Bagaimana Bacaan Doanya?

Sejumlah amalan dan doa khusus dianjurkan untuk dilakukan umat Islam di hari Asyura. Lantas, bagaimana bacaan doa hari Asyura?

Hari Asyura Terjadi Pada Bulan Apa dan Bagaimana Bacaan Doanya?
ilustrasi berdoa. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Salah satu hari istimewa bagi umat Islam ialah hari Asyura. Terdapat sejumlah amalan dan doa khusus yang dianjurkan bagi umat Islam di hari Asyura. Lantas, bagaimana bacaan doa hari Asyura?

Dalam Islam, terdapat empat bulan yang diagungkan Allah (syahrul hurum) yaitu bulan Zulkaidah, Zulhijah, Muharram dan Rajab. Pada bulan mulia tersebut, amal ibadah yang dikerjakan umat Islam akan mendapat pahala yang berlibat.

Salah satu sunah yang dianjurkan bagi umat Islam di bulan Muharram ialah puasa Asyura. Apabila menunaikan puasa Asyura tulus karena Allah, dosa kecil dalam rentan setahun lalu katanya bakal diampuni.

Hal tersebut termaktub dalam hadis yang diriwayatkan jalur Abu Qatadah, bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Aku berharap kepada Allah bahwa puasa pada hari 'Asyura dapat menghapus dosa setahun yang lalu," (H.R. Ibnu Majah).

Hari Asyura Terjadi Pada Bulan Apa?

Pada bulan Muharram, terdapat hari istimewa bagi umat Islam yaitu hari Asyura. Hari Asyura diperingati oleh umat Islam saban 10 Muharram. Tahun ini jatuh pada Minggu, 6 Juli 2025.

Umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan puasa Asyura pada hari tersebut. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw:

أَفْضَلُ الصَّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَريضَةِ صَلَاةُ اللَّيْل

Artinya: "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan salat yang paling utama setelah salat fardhu adalah salat malam." (HR Muslim dalam Shahih-nya bab Fadhlu Shaum Al-Muharram).

Hukum puasa Asyura adalah sunnah muakkadah atau amalan sunnah yang sangat dianjurkan. Puasa Asyura tergolong puasa rawatib, atau ibadah yang mengiringi ibadah wajib untuk kesempurnaan.

Konon, puasa 10 Muharram juga dilakukan dan diagungkan oleh umat Yahudi dan Nasrani. Umat Yahudi dan Nasrani juga berpuasa pada 10 Muharram. Untuk membedakannya, Rasulullah meniatkan untuk puasa Tasu'a (9 Muharram) andai masih hidup.

Diriwayatkan dari jalur Ibnu Abbas, Rasulullah saw. bersabda, "Jika umurku masih sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada (Muharram) hari yang kesembilan."

Berdasar riwayat tersebut, maka umat Islam dapat mengerjakan puasa selama 2 hari, yaitu pada 9 dan 10 Muharram.

Dalam sejarah Islam, terdapat peristiwa penting yang terjadi pada 10 Muharram. Nabi Musa dan pengikutnya ditolong oleh Allah dengan tongkat Musa yang dapat membelah lautan. Melalui mukjizat tersebut, Nabi Musa dapat melewati Laut Merah. Sebaliknya, Fir'aun Mesir dan tentaranya yang mengejar di belakang, tenggelam.

Pada hari Asyura, Nabi Adam bertaubat kepada Allah atas kesalahannya. Di hari yang sama, Allah menerima taubat Nabi Adam.

Kemudian, kapal Nabi Nuh berlabuh dengan selamat di bukit Zuhdi usai banjir bandang yang menghanyutkan banyak makhluk melanda dunia. Pada hari Asyura, Nabi Yunus berhasil keluar dari perut ikan yang melahapnya di tengah laut.

Bagaimana Bacaan Doa Hari Asyura?

Pada hari Asyura, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak doa dan bertaubat kepada Allah. Masyarakat dapat melafalkan doa berikut untuk menghidupkan hari Asyura:

1. Doa Hari Syaikh dari Abdul Hamid bin Muhammad Ali Kudus dalam kitab Kanzun Najah wa Surur.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. سُبْحَانَ اللهِ مِلْءَ الْمِيْزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَزِنَةَ الْعَرْشِ, لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنَ اللهِ إِلَّاَ إِلَيْهِ, سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَآمَّاتِ كُلِّهَا, نَسْأَلُكَ السَّلَامَةَ كُلَّهَا بِرَحْمَتِكَ يَآ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ, وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلّاَ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. وَهُوَ حَسْبُنَا وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ, نِعمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Bismillahirrahmanirrahīm, Washallallāh ala sayyidinā Muhammadin wa 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala ālihi wa shahbihi wa sallam. Subhānallahi milal mīzāni wa munthal ilmi wa mablaghar ridhā wa zinatal arsy, lā maljaa wa lā manja minallāhi illā ilaihi, subhānallāhi adadas syaf'i wal watri wa adada kalimātillāhit tāmmāti kullihā, nasalukas salāmata kullihā birahmatika yā arhamar rāhimīn, wa lā hawla wa lā quwwata illa billāhil aliyyil adzīm. Wa huwa hasbunā wa ni'mal wakīl ni'mal mawlā wa ni'man nashīr. Wa shallallāh alā nabiyyinā khairi khalqihi sayyidinā muhammadin wa 'ala ālihi wa shahbihi wa sallam.

Artinya; “Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Dan Allah bershalawat serta salam atas gusti kami Muhammad dan atas keluarganya serta sahabatnya. Maha suci Allah sepenuh mizan dan puncak ilmu serta tempat sampainya ridho dan beratnya arsy. Tidak ada tempat perlindungan dan tidak ada tempat keselamatan kecuali kepada-Nya. Maha suci Allah sejumlah bilangan genap dan ganjil serta sejumlah bilangan kalimat Allah yang sempurna semuanya. Kami memohon keselamatan semuanya dengan rahmat-Mu wahai Zat yang Maha penyayang dari yang penyayang. Dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah yang Maha Tinggi dan Agung. Kecukupan bagi kami Allah sebagai tempat diri bagi kami, sebaik-baiknya pelindung dan sebaik-baiknya penolong kami. Dan Allah bershalawat serta salam atas Nabi kami sebaik-baiknya ciptaan yaitu gusti kami Muhammad dan kepada keluarga serta sahabatnya."

2. Doa Asyura Syekh Sulaiman dalam Hasyiyah Al-Jamal ‘Ala Syarhil Minhaj

سُبْحَانَ اللهِ مِلْءَ الْمِيْزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَعَدَدَ النِّعَمِ وَزِنَةَ الْعَرْشِ. وَالْحَمْدُ ِللّٰهِ مِلْءَ الْمِيْزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَعَدَدَ النِّعَمِ وَزِنَةَ الْعَرْشِ. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مِلْءَ الْمِيْزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَعَدَدَ النِّعَمِ وَزِنَةَ الْعَرْشِ. اَللهُ أَكْبَرُ مِلْءَ الْمِيْزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَعَدَدَ النِّعَمِ وَزِنَةَ الْعَرْشِ. لَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ مِلْءَ الْمِيْزَانِ وَمُنْتَهَى الْعِلْمِ وَمَبْلَغَ الرِّضَا وَعَدَدَ النِّعَمِ وَزِنَةَ الْعَرْشِ. لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنَ اللهِ إِلَّا إِلَيْهِ. سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ. اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ. لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ. اَللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ. لَاحَوْلَ وَلَاقُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ عَدَدَ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ وَعَدَدَ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ. حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ اْلوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا

Subḫânallâhi mil-al mîzani wa muntahal ‘ilmi wa mablaghar ridlâ wa adadan ni’ami wa zinatal ‘arsyi. Wal ḫamdu lillâhi mil-al mizani wa muntahal ‘ilmi wa mablaghar ridlâ wa adadan ni’ami wa zinatal ’arsyi. Lâ ilâha illallâhu mil-al mizani wa muntahal ‘ilmi wa mablaghar ridlâ wa adadan ni’ami wa zinatal ’arsyi. Allâhu Akbaru mil-al mizani wa muntahal ‘ilmi wa mablaghar ridha wa adadan ni‘ami wa zinatal ’arsyi. Lâ haula wa lâ quwwata illâ billâhi mil-al mîzâni wa muntahal ‘ilmi wa mablaghar ridlâ wa ‘adadan ni‘ami wa zinatal ’arsyi. Walḫamdu lillâhi mil-al mizani wa muntahal ‘ilmi wa mablaghar ridlâ wa adadan ni’ami wa zinatal ’arsyi. Lâ malja-a wa lâ manjâ minallâhi illâ ilaih. Subḫanallâhi ‘adadasy syaf’i wal watri wa ‘adada kalimatillâhit tâmmâti. Alḫamdulillâhi ‘adadasy syaf’i wal watri wa ‘adada kalimatillâhit tâmmâti. Lâ ilâha illallâh ‘adadasy syaf’i wal watri wa ‘adada kalimatillâhit tâmmâti. Allâhu akbar ‘adadasy syaf‘i wal watri wa ‘adada kalimâtillâhit tâmmâti. Lailahaillallâhu mil-al mizani wa muntahal ‘ilmi wa mablaghar ridlâ wa adadan ni’ami wa zinatal ’arsyi. Lâ haula wa lâ quwwata illâ billâhi ‘adadasy syaf’i wal watri wa ‘adada kalimatillâhit tâmmâti. Hasbunallâhu wa ni’mal wakîl ni’mal maulâ wa ni’man nashîr. Wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muḫammadin wa ‘alâ âlihi wa shaḫbihi wa sallama tasliman katsiran.

Artinya: "Mahasuci Allah sepenuh timbangan, sesempurna ilmu, sepenuh keridhaan, sejumlah nikmat-nikmat, dan sebesar timbangan 'arsy. Segala puji bagi Allah sepenuh timbangan, sesempurna ilmu, sepenuh keridhaan, sejumlah nikmat-nikmat, dan sebesar timbangan 'arsy. Tiada Tuhan selain Allah sepenuh timbangan, sesempurna ilmu, sepenuh keridhaan, sejumlah nikmat-nikmat, dan sebesar timbangan 'arsy. Allah Mahabesar sepenuh timbangan, sesempurna ilmu, sepenuh keridhaan, sejumlah nikmat-nikmat, dan sebesar timbangan 'arsy. Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah sepenuh timbangan, sesempurna ilmu, sepenuh keridhaan, jumlah nikmat-nikmat dan timbangan 'arsy. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari Allah, kecuali hanya kepada-Nya. Mahasuci Allah sebanyak bilangan genap dan ganjil, dan sebanyak kalimat Allah yang sempurna. Segala puji bagi Allah sebanyak bilangan genap dan ganjil, dan sebanyak kalimat Allah yang sempurna. Segala puji bagi Allah sebanyak bilangan genap dan ganjil, dan sebanyak kalimat Allah yang sempurna. Allah Mahabesar sebanyak bilangan genap dan ganjil, dan sebanyak kalimat Allah yang sempurna. Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah sebanyak bilangan genap dan ganjil, dan sebanyak kalimat Allah yang sempurna. Allah yang mencukupi kami, sebaik-baik Pelindung, sebaik-baik kekasih, dan sebaik-baik Penolong. Semoga rahmat dan salam Allah tetap tercurahkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad, kepada keluarga dan sahabat beliau dengan keselamatan yang berlimpah."

Baca juga artikel terkait MUHARRAM atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo