Menuju konten utama

Harga Minyak Menguat Tipis usai Serangan AS-Iran Berlanjut

Sentimen tersebut muncul setelah militer Amerika Serikat (AS) melanjutkan serangan ke sejumlah target militer Iran untuk malam ke-11 secara berturut-turut.

Harga Minyak Menguat Tipis usai Serangan AS-Iran Berlanjut
kilang minyak.foto/shutterstock
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga minyak dunia dibuka menguat tipis pada perdagangan Rabu (22/7/2026), didorong oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan minyak global. Sentimen tersebut muncul setelah militer Amerika Serikat (AS) melanjutkan serangan ke sejumlah target militer Iran untuk malam ke-11 secara berturut-turut. Di saat yang sama, Kuwait melaporkan adanya serangan pesawat nirawak (drone) yang diduga berasal dari Iran.

Harga kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 0,55 persen atau 50 sen, menjadi 91,51 dolar AS per barel pada awal perdagangan. Sedangkan, kontrak berjangka minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,36 persen atau 30 sen ke level 84,64 dolar AS per barel, meski transaksi masih berlangsung dengan volume perdagangan yang tipis.

Kenaikan harga minyak tersebut terjadi setelah pada perdagangan Selasa (21/7/2026), harga minyak ditutup di level tertinggi dalam lima pekan terakhir. Penguatan dipicu oleh serangan militer Amerika Serikat terhadap sejumlah target di wilayah selatan dan barat Iran, yang kemudian dibalas Iran dengan menyerang fasilitas militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

Sebelumnya, Militer AS menyatakan serangan terbarunya ke Iran dimulai pada Selasa malam waktu Amerika Serikat, atau Rabu dini hari waktu Iran. Serangan itu berlangsung tidak lama setelah Angkatan Darat Kuwait mengumumkan bahwa sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat sejumlah pesawat nirawak (drone) Iran yang memasuki wilayahnya pada Rabu.

Aksi saling serang yang terus berlanjut ini telah meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan lebih lanjut pada pasokan energi global. Kekhawatiran itu makin besar setelah kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, membuka front baru dalam konflik dengan mengancam akan menyerang kapal-kapal pengangkut minyak Saudi di Selat Bab el-Mandeb serta mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.

Jalur pelayaran Bab el-Mandeb di pintu masuk selatan Laut Merah kini menjadi rute yang semakin vital bagi ekspor minyak mentah Arab Saudi. Hal itu terjadi karena lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz merosot tajam sejak gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran runtuh pada awal bulan ini.

Di sisi lain, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, mengatakan perang yang dijalankan negaranya di Iran telah menelan biaya sebesar 37,5 miliar dolar AS hingga saat ini. Angka tersebut meningkat hampir 8 miliar dolar AS dibandingkan estimasi resmi terakhir yang dipublikasikan pemerintah AS.

Sementara itu, data dari American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah dan produk sulingan (distilat) di Amerika Serikat meningkat pada pekan lalu, sedangkan stok bensin justru mengalami penurunan, menurut sumber-sumber pasar. Data tersebut dirilis menjelang publikasi laporan resmi persediaan energi mingguan dari U.S. Energy Information Administration (EIA) yang dijadwalkan keluar pada Rabu.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama