Menuju konten utama

Harga Komoditas Unggulan RI Anjlok, Mendag Akui Ekspor Tertekan

Dua komoditas unggulan RI, minyak kelapa sawit mentah dan batu bara, alami penurunan harga cukup parah—hingga dua digit.

Harga Komoditas Unggulan RI Anjlok, Mendag Akui Ekspor Tertekan
Menteri Perdagangan Budi Santoso saat konferensi pers di kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Jumat (6/2/2026). tirto.id/Muhammad Naufal

tirto.id - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan penurunan harga komoditas unggulan Indonesia mengalami penurunan sepanjang 2025. Kondisi ini memberikan tekanan pada kinerja ekspor nasional dan berdampak pada pemangkasan surplus neraca perdagangan.

Meski demikian, nilai ekspor nasional selama Januari-Desember 2025 tetap mencapai 282,91 miliar dolar Amerika Serikat (AS), atau tumbuh 6,15 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024 sebesar 266,53 miliar dolar AS.

"Ini tentu akan memengaruhi kinerja ekspor utama untuk komoditas ini karena komoditas ini ekspornya cukup tinggi," ujarnya dalam kegiatan Capaian Kinerja 2025 dan Program Kerja 2026 Kementerian Perdagangan di kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Jumat (6/2/2026).

Komoditas unggulan dimaksud yang mengalami penurunan harga cukup parahhingga dua digitadalah minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan batu bara.

"CPO tahun 2025 itu harganya turun 16,2 persen. Kemudian batu bara, ini sumber dari Bloomberg ya, batubara turun 19,7 persen," tuturnya.

Selain CPO dan batu bara, penurunan harga juga terjadi pada komoditas lain. Harga brent crude oil tercatat turun 16,8 persen, WTI crude oil menurun 18 persen, serta nikel melemah 9,4 persen. Sementara itu, harga emas justru mengalami kenaikan signifikan sebesar 61,6 persen sepanjang 2025.

"Dengan tantangan global yang ada dengan harga komoditas yang seperti saya sampaikan tadi, kita tetap tumbuh 6,15 persen dan kalau kita lihat ekspor non-migas kita mencapai 7,66 persen," sambung Budi.

Di sisi lain, ia juga menyoroti kinerja neraca perdagangan Indonesia yang mencatat surplus sebesar 41,05 miliar dolar AS, atau meningkat 31,03 persen. Surplus tersebut telah berlangsung selama 68 bulan berturut-turut.

"Mudah-mudahan dalam kondisi apapun di pasar global kita tetap terus meningkatkan ekspor kita," kata Budi.

Baca juga artikel terkait MENTERI PERDAGANGAN atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana