Menuju konten utama
Byte

Friendster: Populer, Tumbang, dan Kini Kembali

Friendster terbaru dirancang untuk mengatasi masalah media sosial seperti profil palsu, iklan, algoritma, dan penjualan data. Dapatkah ia bertahan lama? 

Friendster: Populer, Tumbang, dan Kini Kembali
Logo Friendster. FOTO/Wikipedia

tirto.id - Pada tahun 2002, di usia 29 tahun, Jonathan Abrams merasa kariernya mencapai titik buntu setelah di-PHK dari Netscape. Startup miliknya, Hotlinks, gagal di tengah krisis dot-com yang menghantam Silicon Valley.

Kepada mahasiswa MBA di Stanford Graduate School of Business pada tahun 2010, Abrams menceritakan bahwa dengan banyaknya waktu luang, ia mulai memikirkan sebuah perusahaan baru yang akan mengubah cara orang memandang interaksi online. Ia ingin interaksi yang lebih "nyata" karena internet pada saat itu dipenuhi pengguna anonim.

"Sebagian dari teman saya menyukainya, dan sebagian lainnya menganggap itu ide paling bodoh yang pernah mereka dengar," kenangnya.

Dari sinilah kemudian lahir Friendster, yang sebenarnya bukan platform online pertama yang mendorong penggunaan nama dan identitas asli. Saat komunitas online The WELL diluncurkan pada 1985, para pendirinya, Stewart Brand dan Larry Brilliant, juga menetapkan sebuah aturan penting dalam sistem mereka: "Tidak ada yang anonim."

Lalu, apa yang membuat ide Abrams berbeda dari media sosial sebelumnya termasuk The WELL?

Friendster memopulerkan social network ketika internet pada saat itu lebih banyak digunakan untuk chat, forum, email, atau blog pribadi. Friendster memopulerkan konsep profil pribadi, testimoni, dan jaringan pertemanan digital yang kemudian menjadi pelopor media sosial modern.

Pengguna Friendster juga diberi keleluasaan untuk mendandani halaman profil yang kemudian menjadi tren sebagai bentuk ekspresi diri dan identitas online di internet. Saat itu, internet perlahan berubah dari sekadar tempat chatting dan forum menjadi ruang untuk memperluas relasi sosial secara online.

Saat diluncurkan secara resmi pada Maret 2003, tak butuh waktu lama bagi Friendster untuk menjadi primadona generasi milenial. Meski saat itu masih berupa startup kecil tanpa anggaran pemasaran, platform ini berhasil mengumpulkan tiga juta pengguna terdaftar hanya dalam beberapa bulan.

Entertainment Weekly dan Vanity Fair dengan kompak menyebut Abrams sebagai "Breakout Star of 2003" dan "The Social Pioneer."

Pionir Jejaring Sosial yang Mati Suri

Saat itu, Abrams tidak menyangka Friendster akan berkembang secepat dan sebesar itu. Platform baru ini menarik perhatian banyak investor, termasuk Google yang ingin membeli Friendster senilai 30 juta dolar AS.

Menurut laporan The New York Times, beberapa nama besar di Silicon Valley memengaruhi Abrams untuk menolak tawaran Google. Para investor meyakinkannya bahwa mereka dapat membangun Friendster menjadi perusahaan bernilai miliaran dolar, bukan hanya 30 juta dolar AS.

Abrams yang sedang merasakan Keberuntungan Pemula atau Beginner’s Luck--istilah dalam The Alchemist karya Paulo Coelho, di mana keberhasilan awal dapat menumbuhkan rasa percaya diri yang tinggi--menolak tawaran Google.

Padahal, jika setuju, ia bisa mendapatkan keuntungan besar dengan cepat, sekaligus langsung menempatkan situs Friendster di hadapan ratusan juta pengguna di seluruh dunia.

Pada kenyataan, kejayaan Friendster tak berlangsung lama. Selain hadirnya pendatang baru seperti MySpace, Facebook, hingga Twitter, dari sisi internal, muncul Fakester atau akun palsu yang menunjukkan kontradiksi dengan tujuan awal media sosial tersebut yakni ruang online dengan identitas autentik.

Dalam "Friendster and Publicly Articulated Social Networking", Danah Michele Boyd menjelaskan bahwa munculnya Fakester karena pengguna ingin lebih bebas mengekspresikan diri dan membentuk identitas atau komunitas lewat akun palsu. Meski perusahaan berusaha menghapus akun-akun palsu itu, banyak pengguna tetap membuat akun anonim, sehingga memicu "konflik" antara perusahaan dan pengguna.

Hal ini, menurut Mantan VP Engineering and Architecture PayPal, Mike Fisher, dalam bukunya The Power of Customer Misbehavior (2014) menjadi salah satu kesalahan terbesar Friendster. Menurutnya, platform ini terlalu kaku dan enggan mengikuti perkembangan kebutuhan pengguna. Padahal, di industri yang dinamis, penting untuk memahami kebutuhan pengguna.

Menurut laporan Fortune, Friendster akhirnya runtuh akibat berbagai masalah, termasuk urusan manajemen dan teknis. Ketika jumlah pengunjung Friendster mulai anjlok drastis, dewan direksi memaksa Jonathan Abrams mundur dari kursi CEO. Di saat yang sama, Friendster mulai ngos-ngosan menghadapi pertumbuhan pesat MySpace. Pionir jejaring online ini praktis mati ketika Facebook mulai dibuka untuk publik tahun 2006.

Meski sempat mengubah Friendster menjadi situs game, media sosial ini akhirnya resmi ditutup pada 2015.

Tanpa Iklan dan Algoritma

Tahun lalu, pebisnis Mike Carson membeli domain friendster.com senilai 20.000 dolar AS. Lalu ia menghidupkan kembali jejaring sosial lawas ini, mencoba membangkitkan nostalgia era 2000-an.

Kali ini halaman friendster.com tampak minimalis dengan informasi bahwa media sosial ini sudah tersedia di Apps Store iOS. Namun, berbeda dengan layanan media sosial lain, Friendster menjanjikan layanan yang bebas iklan, tanpa algoritma, tanpa spam, dan tidak membagikan data pengguna.

Friendster juga tidak merekomendasikan profil orang asing serta menghilangkan fitur Add As Friend. Satu-satunya cara untuk terhubung, pengguna harus membuka aplikasi lalu menempelkan ponsel mereka satu sama lain alias harus bertemu tatap muka.

"Saat ini saya merasa media sosial justru memicu banyak hal negatif... Saya ingin menciptakan sesuatu yang positif, sesuatu yang bisa dinikmati dan dianggap berguna oleh orang-orang," tulis Carson di Medium.

Media sosial saat ini tidak lagi sekadar ruang untuk berinteraksi, tetapi telah berubah menjadi mesin perhatian yang dirancang agar pengguna terus scrolling.

Pada 2026, rata-rata orang menghabiskan 2 jam 40 menit per hari hanya untuk media sosial. Generasi Z tercatat sebagai pengguna tertinggi, yaitu rata-rata 4 jam per hari untuk scroll media sosial. TikTok menjadi aplikasi yang paling banyak menyita waktu, dengan rata-rata global mencapai 1 jam 37 menit per hari per pengguna.

Berbagai laporan menyampaikan dampak negatif media sosial mulai dari kecanduan, isu kesehatan mental, berkurangnya kualitas interaksi sosial hingga pelanggaran data pengguna.

Oleh sebab itu, Friendster kembali di waktu yang tepat, menurut Profesor Saifuddin Ahmed di Wee Kim Wee School of Communication and Information NTU dalam sebuah wawancara dengan The Straits Times.

"Sebagian besar platform media sosial arus utama kini membanjiri pengguna dengan algoritma, iklan, dan eksploitasi data tanpa benar-benar memfasilitasi hubungan yang bermakna antarpengguna,” ujarnya.

"Di tengah situasi itu, Friendster memosisikan dirinya sebagai penawar yang sengaja dirancang untuk mengatasi berbagai masalah media sosial yang sudah dikenal: profil palsu, iklan, algoritma, dan penjualan data," tambahnya.

Meski begitu, katanya, tetap ada tantangan. Apakah orang-orang siap menukar sensasi dopamin dari scrolling tanpa henti dengan sesuatu yang membutuhkan usaha nyata?

Persaingan di dunia media sosial saat ini jauh lebih ketat dibandingkan dua dekade lalu. Platform seperti Instagram, TikTok, dan Facebook telah memiliki basis pengguna yang sangat besar serta ekosistem yang kuat.

Berdasarkan data Statista 2025, trio Meta yakni Facebook, WhatsApp, dan Instagram menempati posisi tiga besar sebagai media sosial dengan pengguna aktif terbanyak di dunia. Sementara TikTok berada di urutan kelima.

Apakah Friendster benar-benar mampu melawan arus di tengah ketatnya persaingan media sosial saat ini dan kembali mengubah cara manusia memandang interaksi online? Atau sebaliknya, kebangkitan ini hanya akan menjadi euforia nostalgia sesaat yang perlahan tenggelam di tengah dominasi platform-platform besar.

Baca juga artikel terkait FRIENDSTER atau tulisan lainnya dari Yantina Debora

tirto.id - Byte
Penulis: Yantina Debora
Editor: Irfan Teguh Pribadi