tirto.id - Sebuah unggahan video beredar di media sosial Instagram mengklaim fakta, air rebusan mie instan berbahaya bagi kesehatan. Klaim dalam unggahan juga menyebutkan bahwa air rebusan mie instan mengandung sisa lilin.
Video tersebut disebarkan oleh akun Instagram @windashay (arsip) pada Minggu (21/12/2025). Cuplikan video berdurasi 12 detik tersebut menampilkan tulisan 5 fakta terkait air rebusan mie.
“DI UMUR BERAPA KAMU TAU AIR REBUSAN MIE.
- Air rebusan mie instan pertama mengandung sisa lilin atau minyak dari lapisan mie kering yang bisa ikut larut saat direbus.
- Air itu juga mengandung kadar natrium tinggi dari bumbu dan sisa mie, kalo sering diminum ganggu tekanan darah. Titik umi
- Saat mie direbus, sebagian bahan pengawet ikut larut ke air jadi kalo dikonsumsi bisa memberatkan kerja hati dan ginjal.
- Klo mau lebih aman buang air rebusan pertama, lalu ganti dengan air baru, sebelum ditambah bumbu.
- Minum air setelah makan mie bantu netralisir efek garam dan menjaga tubuh tetap seimbang.” Begitu narasi tertulis dalam video.
Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “Despina Nasution,” “Darwanto Suharti,” “Surdi Afandi II,” dan “Dewix vlog.” Semua unggahan video tersebut menampilkan klaim terkait 5 bahaya air rebusan mie instan.
Lantas, bagaimana kebenaran fakta mengonsumsi air rebusan mie instan?

Penelusuran Fakta
Melansir laman Kementerian Kesehatan RI,dituliskan bahwa produk mie instan di Indonesia aman untuk dikonsumsi. Dalam menetapkan persyaratan, keamanan mutu, serta gizi produk pangan olahan, Indonesia mengacu pada persyaratan internasional yaitu Codex Alimentarius Commision (CAC), termasuk berdasarkan kajian risiko.
Selain itu, penggunaan bahan tambahan pangan diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No.722/Menkes/Per/IX/88 tentang Bahan Tambahan Makanan. Salah satu bahan tambahan pangan yang diatur adalah nipagin (methyl p-hydroxybenzoate) yang berfungsi sebagai pengawet dalam batas maksimum penggunaan, ujar Menkes.
Menkes, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH kepada sejumlah wartawan di Gedung Kementerian Kesehatan tanggal 11 Oktober 2010 mengatakan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) selama 5 tahun terakhir melakukan pengecekan terhadap kecap yang ada dalam produk mie instan, hasilnya tidak ditemukan kandungan nipagin yang melebihi batas maksimum yang diijinkan.
Menkes mengimbau masyarakat agar tidak kuatir karena produk pangan yang telah memperoleh izin dari Badan POM sudah memenuhi standar persyaratan, keamanan mutu dan gizi.
Mengonsumsi air rebusan mie instan sebenarnya tidak berbahaya dan aman bagi kesehatan tubuh. Klaim yang menyebutkan bahwa air rebusan tersebut mengandung lapisan lilin berbahaya atau zat kimia beracun telah dinyatakan tidak benar oleh para ahli gizi serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Menurut Ahli Diet Jennifer Shim Poh Wan dalam laman Parkway East Hospital, mie instan adalah jenis mie yang sudah dimasak sebelumnya, biasanya dijual dalam kemasan sachet, cup, atau mangkuk individual.
Mie instan pertama kali dibuat di Jepang pada tahun 1958. Mie instan pertama di dunia diciptakan oleh Momofuku Ando, penemu dan pengusaha Taiwan-Jepang yang mendirikan Nissin Food Products Co. Ltd. Sejak penemuannya, mie instan telah menjadi makanan praktis yang sangat disukai oleh jutaan konsumen di seluruh dunia.
Dalam artikel tersebut Jennifer menjelaskan bahwa mie instan dapat menjadi kurang baik bagi kesehatan jika dikonsumsi terlalu sering karena mengandung natrium yang tinggi, MSG, lemak, dan karbohidrat. Padahal, mie instan relatif rendah serat dan protein, serta tidak menyediakan nutrisi yang lengkap.
Kandungan natrium yang berlebihan tersebut yang menjadi perhatian utama, karena dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan berdampak pada kesehatan jantung, serta ginjal.
Sementara itu, air rebusan mie tidak disebut berbahaya. Risiko yang dibahas, terutama berkaitan dengan kandungan gizi mie dan bumbu secara keseluruhan, khususnya jumlah natrium yang dikonsumsi, bukan semata-mata karena air rebusannya.
Klaim bahwa mie instan dilapisi lilin adalah mitos yang tidak berdasar secara ilmiah, termasuk air rebusan pertama yang mengandung natrium tinggi dan minyak, namun tidak beracun.
Dalam memasak mie instan, membuang air rebusan pertama memang diperbolehkan untuk mengurangi asupan natrium dan lemak, tetapi bukan untuk membuang lilin.
Faktanya, mie instan tidak mengandung lapisan lilin sama sekali. Air rebusan menjadi keruh kekuningan murni karena pati (karbohidrat) dari tepung terigu yang larut serta sisa minyak dari proses penggorengan kering (deep frying) di pabrik.
Video yang beredar, memuat mitos lama yang terus beredar di masyarakat, adapun fakta terkait konsumsi air rebusan mie instan yaitu:
- Air rebusan mie instan menjadi keruh kekuningan karena larutnya pati tepung terigu dan minyak goreng dari proses produksi di pabrik, bukan karena lilin.
- Produk mie instan yang terdaftar di BPOM sudah dinyatakan aman. Mengganti air rebusan pertama hukumnya tidak wajib dan justru bisa membuang vitamin hasil fortifikasi yang larut di dalamnya.
- Bahaya natrium tinggi murni berasal dari bumbu bubuknya, bukan dari air rebusan mie polos.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelusuran fakta, unggahan yang menyebutkan sejumlah fakta dan tips mengonsumsi air rebusan mie instan, tidak sepenuhnya benar dan perlu diluruskan (partly false).
Kemenkes menegaskan, produk mie instan di Indonesia aman untuk dikonsumsi, karena produk pangan yang telah memperoleh izin dari Badan POM sudah memenuhi standar persyaratan, keamanan mutu, dan gizi.
Faktanya, air rebusan mie instan tidak mengandung sisa lilin yang terlarut. Adapun penyebab keruhnya air bekas rebusan mie, karena larutnya pati tepung terigu dan minyak goreng dari proses produksi.
Walaupun konsumsi natrium atau garam yang berlebih memang meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan memperberat kerja ginjal, namun kadar natrium atau garam dalam mie instan paling banyak disebabkan pemberian bumbu bubuk dan kecap, bukan air bekas rebusan.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Editor: Tim Riset Tirto
Masuk tirto.id


































