Menuju konten utama
4 Februari 2004

Ketika "Prank" Facemash Berubah Jadi Facebook

Sebuah dinding.
Wajah-wajah iseng di
jempol yang kering.

Ketika
Ilustrasi Mozaik Zuckerberg meluncurkan facebook. tirto.id/Sabit

tirto.id - Di usianya yang baru 19 tahun, tak ada yang istimewa dari penampilan luarnya. Celana jins, kaus oblong, dan sendal plastik, jadi pilihan fesyen yang ia kenakan. Namun, ini tak membuatnya layak disepelekan. Pada tahun itu, 2003, Ia menghuni Suite H33 Kirkland House, asrama mahasiswa Harvard University, satu dari delapan kampus Ivy League alias “kampus elit Amerika Serikat.”

Anak kedua dari pasangan dokter gigi dan psikolog ini memang memiliki kecerdasan yang tak main-main. Semasa duduk di bangku SMA, ia telah memperoleh penghargaan di bidang matematika, astronomi, dan fisika. Selain itu, bahasa Perancis, Ibrani, Latin, hingga Yunani klasik dikuasainya. Tak tanggung-tanggung, psikologi dan ilmu komputer adalah dua jurusan yang ia dipelajari di Harvard.

Di usia yang masih belia, Mark Zuckerberg, nama sang pemuda, setidaknya telah membuat 3 aplikasi komputer yang cukup sukses; Synapse (aplikasi sugesti musik), Course Match (aplikasi yang membantu mahasiswa menentukan kelas yang akan dipilih), dan Six Degrees to Harry Lewis (aplikasi penghormatan pada Prof. Harry Lewis).

Pada Oktober 2003, merujuk catatan David Kirkpatrick dalam The Facebook Effect: The Inside Story of the Company That Is Connecting The World (2004), Zuckerberg hendak membuat aplikasi baru. Facemash, nama aplikasi berbasis web yang hendak dibuat itu, kemudian mengubah dunia dan melambungkan nama pemuda yang akrab dipanggil Zuck itu.

Dari Facemash ke Facebook

“Saya memiliki hobi untuk sekedar membuat proyek (aplikasi) kecil,” ucap Zuckerberg tentang kesukaannya membuat aplikasi. Facemash, tulis Kirkpatrick, dibuat hanya untuk bersenang-senang. Dengan memanfaatkan algoritma yang sebenarnya dibuat untuk mengurutkan ranking pecatur, Zuckerberg mendesain aplikasi yang meminta penggunanya untuk membandingkan dua sosok berjenis kelamin sama lalu menentukan siapa yang paling “hot” di antara mereka.

Untuk ukuran aplikasi bersenang-senang, Zuckerberg kelewat serius menciptakannya. Ini bukan soal waktu 8 jam yang dihabiskannya untuk merancang Facemash, namun soal bagaimana Zuckerberg memperoleh foto-foto mahasiswa Harvard guna dijadikan basis data aplikasi.

Facemash, tutur Kirkpatrick, tercipta atas foto-foto yang diunduh secara ilegal dari situsweb “facebooks” yang dikelola secara internal dan offline oleh 9 dari 12 asrama di Harvard. Zuckerberg tahu bagaimana menemukan foto-foto formal nan canggung para mahasiswa yang umumnya diambil saat ospek. Sebagaimana dikisahkan Kirkpatrick, Harvard Crimson, media mahasiswa Harvard menjuluki kelakukan Zuckerberg sebagai “komputasi gerilya.”

Facemash resmi mengudara pada 2 November. Hanya bermodal laptop pribadinya sebagai server, 450 mahasiswa berkunjung ke Facemash dan memilih siapa sosok "hot" dari 22.000 foto di aplikasi itu.

Kemudian datanglah masalah. Fuerza Latina dan Association of Harvard Black Women, dua organisasi kampus Harvard, menuding Zuckerberg telah bertindak seksis dan rasis melalui Facemash. Selain itu, Zuckerberg pun berperkarakan oleh pihak kampus karena mengambil foto-foto mahasiswa secara ilegal. Padahal, menurut penuturan Zuckerberg dalam wawancaranya dengan Mathias Döpfner untuk Business Insider, Facemash hanya sekedar “prank” alias iseng.

Bagi pihak kampus, Facemash memang bermasalah, namun tidak bagi para mahasiswa pada umumnya yang menilai aplikasi tersebut sebagai sesuatu yang baru dan segar. Karena tindakan Zuckerberg meng-online-kan foto-foto mahasiswa Harvard melalui Facemash, muncul gelombang permintaan dari para mahasiswa untuk meminta pihak kampus membuka akses pada foto mereka. Bahkan, Harvard Crimson, lanjut Kirkpatrick, menurunkan artikel bertajuk “Put Online a Happy Face: Electronic Facebook for Entire Collage Should be Both helpful and Entertaining for All.”

Sebagaimana diakui Zuck, artikel Harvard Crimson itu malah mendorong dirinya menciptakan apa yang hari ini kita kenal sebagai Facebook.

Soal ide penciptaan Facebook ini pun teka-teki. Khususnya karena tiga mahasiswa senior Harvard, Divya Narendra serta dua bersaudara Cameron dan Tyler Winklevoss, menuduh Zuckerberg mencuri ide yang mereka namai “Harvard Connection.”

Namun kontroversi itu tak menghentikan langkah Zuck. Selepas membeli domain thefacebook.com pada 11 Januari 2004, kemudian membeli hosting pada Manage.com seharga $85, media sosial itu pun mulai online pada 4 februari 2004.

Menurut penuturan Peler pada Döpfner, The Facebook yang kemudian hanya disebut “Facebook" hanya "membutuhkan waktu dua minggu untuk membangun versi perdana.” Waktu yang terasa singkat untuk pengerjaan platform yang kemudian menjadi raksasa itu sungguh-sungguh dimanfaatkan Zuck di sela-sela pekerjaannya sebagai programer.

Sisi Gelap Facebook

“Ketika kuliah, saya pernah berpikir bahwa internet adalah sesuatu yang menakjubkan karena Anda dapat memperoleh apapun yang Anda inginkan. Anda dapat membaca berita, mengunduh musik, menonton film, mencari informasi melalui Google, memperoleh bahan rujukan dari Wikipedia, kecuali satu hal terpenting bagi kehidupan manusia, yakni orang lain. Tak ada alat yang memungkinkan Anda berkenalan dengan orang lain,” terang Zuck tentang alasannya menciptakan Facebook.

Mimpi Zuck pun jadi kenyataan. Riset internal Facebook menyatakan bahwa platform tersebut sukses menghubungkan seluruh manusia di dunia dalam jarak 3,57 orang. Artinya, Barack Obama, peternak kambing di Arab Saudi, dan bapak pengemudi Go-Jek di Jakarta, terhubung melalui tiga setengah “mutual friend”.

Manfaat Facebook jelas sulit disangkal. Tiap orang kini jadi lebih mudah mengabarkan sesuatu dan menambah lingkaran pertemanan. Namun tak bisa dipungkiri pula Facebook punya sisi buruk, yang diakuinya melalui unggahan di laman resmi mereka yang ditulis oleh David Ginsberg, Direktur Riset Facebook.

Mengutip riset psikolog Sherry Turkle, Ginsberg menyatakan bahwa secara umum teknologi—khususnya dalam bentuk ponsel— membuat orang merasa "seorang diri bersama". Tulisan yang sama juga mengutip hasil eksperimen terhadap para mahasiswa University of Michigan. Dalam eksperimen tersebut, mood mahasiswa yang mengkonsumsi Facebook secara acak dalam tempo 10 menit akan memburuk ketimbang saat mereka diminta berinteraksi dengan teman di platform yang sama.

Infografik Mozaik Facebook

Kendati perlu diapresiasi, pengakuan Facebook terasa telat. Dalam “Risky Disclosures on Facebook: The Effect of Having a Bad Experience on Online Behavior” yang diterbitkan dalam Journal of Adolescent Research (2012), Emily Christofides menyatakan bahwa Facebook menyebabkan “pengalaman buruk” bagi 26,7 persen dari 256 pengguna Facebook yang ia teliti.

“Pengalaman buruk” yang dimaksud sangat beraneka ragam, misalnya perundungan, pelecehan dari teman dekat, hingga ancaman. Selain itu, ruang yang disediakan Facebook untuk menjalin pertemanan membuat “pengalaman buruk” mudah terjadi dalam bentuk kontak yang tak diinginkan. Dihubungi oleh orang tak dikenal adalah satu contohnya.

Selain menghasilkan dampak buruk bagi penggunanya, Facebook pun dimanfaatkan untuk mengabarkan hal-hal negatif, terutama terkait masalah psikologis penggunanya. Dalam “Feeling Bad on Facebook: Depression Disclosures by College Student on a Social Networking Site”, Megan A Moreno menyatakan bahwa dilihat dari “pembaruan status” (status updates), 25 persen dari 200 profil pengguna Facebook yang diteliti menunjukkan kecenderungan depresi.

Lebih lanjut, 2,5 persen “pembaruan status” masuk dalam kategori MDE (Major Depressive Episode). Istilah ini digunakan untuk merujuk gejala klasik depresi seperti lesu, gangguan tidur, perasaan tak berharga, hingga percobaan bunuh diri.

Selain dampak tersebut, ada pula masalah seperti penyebaran hoax, ujaran kebencian, hingga penggunaan Facebook demi tujuan-tujuan politis tertentu dengan cara yang tak bijak.

Dampak negatif Facebook tak bisa dianggap sepele. Sebagai media sosial yang memiliki lebih dari 2 miliar pengguna aktif bulanan, Facebook perlu berbenah. Kecuali jika Facebook dipandang sekadar "prank" alias keisengan belaka oleh Zuck, sebagaimana dulu ia menganggap Facemash.

Baca juga artikel terkait MEDIA SOSIAL atau tulisan lainnya dari Ahmad Zaenudin

tirto.id - Teknologi
Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Windu Jusuf