Eksis di Media Sosial Tak Selalu Menguntungkan

Oleh: Patresia Kirnandita - 27 Maret 2017
Dibaca Normal 2 menit
Ketika sebagian orang gemar pamer eksistensi dan mengikuti perkembangan hal-hal yang sedang tren di media sosial, sejumlah orang justru memetik banyak hal positif dengan melepaskan diri dari kebisingan kehidupan digital.
tirto.id - Pada awal Maret, presenter Sarah Sechan mengumumkan keputusannya yang cukup mengejutkan: berhenti menggunakan Twitter dan Instagram. Hal ini disampaikan Sarah dalam sebuah caption panjang yang mengiringi post Instagram terakhirnya.

Hey you sexy people. This will be my last post on instagram & twitter. I have decided that at this age (forever 24, of course) I need to really start living and enjoy every moment of my life, not busy trying to make a point or seek approval from strangers…

Demikian preambul ucapan perpisahan Sarah. Sepanjang kata-kata terakhirnya di Instagram, Sarah pun menuangkan keinginannya untuk lebih berfokus pada setiap detail dalam kehidupannya, termasuk dalam hal berpakaian dan menikmati makanan. Bagi orang-orang yang gemar mengunggah post bertagar #ootd atau #foodporn, pernyataan Sarah ini bisa jadi sentilan kecil. Selain itu, pesohor yang namanya mencuat setelah menjadi VJ dan host ini juga mengatakan betapa penatnya ia menjalani kehidupan di media sosial yang menyita waktunya sebagai seorang ibu.

Sarah Sechan berkontribusi menambah daftar selebritas yang hengkang dari dunia Twitter dan Instagram. Di Hollywood, tercatat sejumlah aktor dan aktris yang memilih absen eksis di media sosial seperti George Clooney, Kristen Stewart, Scarlett Johansson, Jennifer Lawrence, dan Bradley Cooper.

Joy of Missing Out

Saat banyak sekali orang yang senang tampil, menuangkan gagasan, serta mengekspresikan gaya sampai perasaan di situs-situs jejaring sosial, sebagian lainnya justru memilih tidak ikut arus dan mengunggah berbagai informasi personal dan menonjolkan eksistensi di sana. Fenomena semacam ini dikatakan sebagai joy of missing out atau JOMO yang dikontraskan dengan gejala fear of missing out atau FOMO.

Setiap berhadapan dengan orang lain, baik dalam kehidupan nyata maupun ranah digital, ekspektasi dan persepsi tertentu senantiasa mengikuti seseorang. Maka, dari satu interaksi ke interaksi lain, lazimnya ia melakukan penyesuaian atau adaptasi supaya relasi terjalin dengan baik. Namun bagi sebagian orang, tak jarang mereka merasa harus mengenakan topeng agar bisa diterima dalam lingkarannya. Tentunya hal ini menimbulkan keletihan mental yang luar biasa ketika terakumulasi, bahkan lebih jauhnya, memicu depresi akibat tekanan pergaulan.

Alasan ini tak menjadi satu-satunya pendorong mengapa orang memilih tak aktif di media sosial. Seorang warga Kanada yang sudah lima tahun bekerja di Indonesia bercerita mengapa ia tidak begitu gandrung menggunakan media sosial. “Saya merasa kehidupan saya sudah terlalu padat dengan pekerjaan. Saya lebih sering berkorenspondensi dengan e-mail dan bagi saya, itu sudah cukup. Saya bahkan belum lama menggunakan Whatsapp. Twitter pun lebih banyak saya pakai untuk kepentingan pekerjaan,” ujarnya.

Infografik JOMO


Perkembangan teknologi yang berimplikasi terhadap perubahan gaya hidup masa kini, terutama di kalangan milenial, turut membawa dampak negatif bagi seseorang. Psikolog dan konsultan edukasi di Boston, Christopher Willard, PsyD., menulis dalam situs Mindful bahwa perangkat komunikasi kita menciptakan ilusi bahwa ada hal yang lebih penting di luar sana dibanding pengalaman yang sedang dijalani saat ini. Pemikiran semacam inilah yang juga turut menyokong seseorang untuk mundur dari kehidupan media sosial. Alih-alih merayakan kehidupan komunal yang tak jarang merupakan khayalan semata—karena tak semua orang benar-benar mengenal atau dekat dengan satu sama lain di Twitter, Instagram, atau Facebook—, ia justru memandang penting momen intim dengan dirinya sebagaimana disuratkan oleh Sarah Sechan pada post terakhirnya.

Dalam situs Psychology Today, Dr. Susan Biali M.D. menceritakan bagaimana kehadiran internet dan aneka hiburan yang ditawarkannya berefek pada produktivitasnya. Lantas, perempuan yang penelitiannya berfokus pada kesehatan dan kebahagiaan ini melakukan refleksi diri setelah membaca buku karangan jurnalis Christina Crook (2015), The Joy of Missing Out: Finding Balance in a Wired World. Disampaikan dalam buku tersebut, saat ini kita hidup pada masa ketika intimasi menurun dan pasivitas serta isolasi meningkat. Hati manusia cenderung kesepian. Kecemasan, kepenatan, kewalahan, dan ketergantungan terhadap teknologi yang tidak sepenuhnya manusia mengerti seolah lumrah terjadi.

Sedikit yang menyadari hal ini lantaran gejala-gejalanya kadung meluas dan diterima sebagaimana adanya oleh masyarakat. Kritik terhadap orang-orang dengan FOMO kerap kali dianggap sebagai hipokrisi seolah-olah terdapat kebenaran bahwa orang tidak bisa hidup tanpa internet dan media sosial meski untuk sekejap saja.

Umumnya, orang-orang introver yang menikmati keterlepasan dari lingkungan yang melibatkan banyak orang. Mereka cenderung kehabisan energi saat terlalu sering berada dalam keramaian. Namun demikian, penulis Emotional Intelligence 2.0, Dr. Travis Bradberry, mengungkapkan bahwa orang-orang ekstrover pun ada kalanya membutuhkan saat-saat menyendiri yang kelak mendatangkan keuntungan bagi mereka.

Tak ubahnya roda yang berputar, sebagian orang pun berupaya menggeser tren FOMO dengan JOMO. Sejumlah justifikasi dibuat supaya orang tidak hanyut dalam keriaan kehidupan komunal di internet. Dalam situs SWNS dinyatakan, orang-orang Inggris cenderung menikmati kesendirian dibanding merasa takut tertinggal dalam hal kehidupan sosial. Dalam sebuah studi diklaim sebanyak 85% dari 2000 orang Inggris yang disurvei mengaku lebih senang melewatkan waktu di rumah dan mengabaikan acara-acara sosial, sementara hanya 43% yang menyatakan diri mengalami FOMO.

Bersosialisasi dengan siapa pun melalui media apa pun memang tidak salah. Namun demikian, penting diingat bahwa cara apa pun yang dipilih dalam berinteraksi dengan dunia luar, jangan sampai hal tersebut membuat Anda menjauhkan diri dari mereka yang dekat atau ada di depan mata. Mengasah kemampuan intrapersonal dengan menghilang sejenak dari keramaian tak kalah penting bagi kondisi psikologi seseorang karena tak selamanya, solusi dan kebahagiaan ditemukan di tengah ingar bingar.

Baca juga artikel terkait MEDIA SOSIAL atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - )

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight