Menuju konten utama
Mozaik

Ekspansi Kerajaan Mataram Kuno ke Timur di Era Dyah Balitung

Di era Rakai Watukura Dyah Balitung, Kerajaan Mataram Kuno yang sering digambarkan lemah lembut dan konservatif, bertransformasi menjadi ekspansionis.

Ekspansi Kerajaan Mataram Kuno ke Timur di Era Dyah Balitung
Header Mozaik Wijayarajasa atau Bhre Wengker. tirto.id/Tino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Artikel sebelumnya: Sailendra dan Prasasti Melayu Kuno di Tanah Jawa

Setelah berkuasa secara penuh di Tanah Jawa kurang lebih 200 tahun, Dinasti Sailendra yang sempat merengkuh kegemilangan dengan pembangunan Candi Borobudur, seketika masuk ke pergulatan kekuasaan yang berkepanjangan.

Berdasarkan Prasasti Wanua Tengah III (908 M), setelah pemerintahan Raja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala, pemerintahan Dinasti Sailendra yang baru saja dimenangkan trah Rakai Pikatan kembali tercerai-berai. Satu persatu raja yang memerintah setelah Lokapala naik takhta silih berganti dalam interval waktu pemerintahan yang amat singkat.

Seturut catatan Kusen dalam "Raja-raja Mataram Kuna dari Sanjaya sampai Balitung: Sebuah Rekonstruksi berdasarkan Prasasti Wanua Tengah III" (1994), terdapat beberapa nama raja yang digambarkan periode kekuasaannya sangat singkat, yakni Dyah Tagwas (memerintah 6 bulan), Dyah Dewendra (berkuasa 5 bulan), Rakai Gurunwangi Dyahbhadra (berkuasa 1 bulan) dan Rakai Watuhumalang Dyah Jebang (4 tahun berkuasa).

Namun, layaknya tren sejarah Jawa dari zaman ke zaman, ketika masa gelap telah berlarut-larut, maka lahir fajar yang menerangi jalannya sejarah baru. Dalam konteks masa ini, sosok yang menjadi fajar itu adalah Rakai Watukura Dyah Balitung.

Sosok ini tidak diduga berhasil membawa kembali Kerajaan Mataram Kuno ke panggung kegemilangan sejarahnya. Terlebih, Kerajaan Mataram Kuno yang senantiasa digambarkan sebagai kerajaan lemah lembut dan konservatif, bertransformasi menjadi ekspansionis yang ambisius pada masa kekuasaan Balitung.

Balitung si Anak Daerah

Dibandingkan dengan para penguasa Mataram Kuno sebelumnya yang senantiasa berasal dari daerah Kedu-Prambanan, Balitung pengecualian. Riwayat hidupnya bermula dari satu daerah yang jauh sekali dari pusat kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno, yakni di daerah Watukura yang berada di sekitar Bagelen, Purworejo sekarang.

Balitung mengawalinya sebagai seorang penguasa watek saat ia masih bergelar sebagai seorang raja daerah (haji). Sesuai dengan keterangan Prasasti Mantyasih (907 M), Balitung menikah dengan anak dari Rakai Watuhumalang Dyah Jebang. Oleh karena itu, dalam jalur suksesi takhta Mataram Kuno, Balitung sebenarnya bukanlah pemangku hak yang utama.

Kedudukannya yang demikian oleh para sejarawan kuno, misalnya B.J.O. Schrieke dalam Kajian Historis-Sosiologis Masyarakat Indonesia: Tulisan Terpilih B. Schrieke Jilid II (2016), acapkali disamakan dengan kasus Airlangga dari abad ke-11 M dan Raden Wijaya sang pendiri Majapahit.

Ketiga Raja Jawa Kuno ini pada dasarnya bukanlah suksesor yang sah (langsung) dari raja pendahulunya, melainkan pangeran-pangeran menantu yang memiliki hak menjadi raja lantaran menikah dengan putri dari raja pendahulunya. Hal ini oleh Schrieke disebut sebagai tradisi "suksesi matrilineal" dalam kebudayaan Jawa Kuno.

Balitung naik takhta sebagai Maharaja Mataram Kuno pada tahun 899 M. Ia merupakan raja yang paling banyak mengeluarkan prasasti selama berdirinya Kerajaan Mataram Kuno, yakni 37 prasasti--setidaknya sampai sekarang. Sekali lagi, gejala ini khas terjadi pada raja-raja yang mendapatkan takhta akibat perkawinannya dengan putri raja terdahulu.

Airlangga yang merupakan Raja Dinasti Isana (tidak termasuk Kerajaan Kadiri dan Jenggala) yang terbanyak mengeluarkan prasasti, sementara Raden Wijaya juga relatif lebih banyak mengeluarkan prasasti dibandingkan mertuanya, Kertanegara.

Gejala ini agaknya bersangkut paut dengan upaya penguatan legitimasi raja-raja tersebut, di tengah status mereka--yang bukan keturunan langsung--terhadap takhta yang mereka duduki.

Pada kasus Balitung, misalnya, bisa dijumpai di Prasasti Mantyasih dan Prasasti Wanua Tengah III. Seturut Kusen (1994), kedua prasasti itu sama-sama menyebutkan genealogi raja-raja Mataram Kuno sejak pemerintahan Raja Sanjaya sampai dengan masa pemerintahan Balitung.

Namun, anehnya terdapat beberapa nama raja pada Prasasti Wanua Tengah III yang tidak disebut dalam Prasasti Mantyasih. Raja-raja itu adalah mereka yang berkuasa dalam jangka waktu lama.

Fenomena ini menurut Kusen erat kaitannya dengan upaya pencitraan Balitung yang berusaha melegitimasikan dirinya sebagai suksesor yang sah pada Prasasti Mantyasih—yang berisi akta perkawinannya dengan putri Dyah Jebang.

Sementara itu, keterangan nama raja yang lebih lengkap perlu disebutkan di dalam Prasasti Wanua Tengah III lantaran kewajiban kelengkapan administratif kebijakan antarpenguasa dari waktu ke waktu.

Sampai ke Tapal Batas Timur

Isu legitimasi bukanlah satu-satunya perhatian Balitung. Selain klaim pembuktian, aspek penting lainnya adalah memenangkan hati rakyat. Ia tahu bahwa wilayah lama Mataram Kuno, yang merupakan pusat permukiman peradaban Jawa, tidak lagi cukup dalam memenuhi kebutuhan populasi yang terus bertumbuh. Pembangunan terus-menerus yang dilakukan pendahulunya telah membuat konsentrasi manusia di sekitar lembah Kedu-Prambanan.

Akhirnya, jalan terbaik dari permasalahan itu adalah perluasan wilayah permukiman rakyat Jawa di daerah-daerah yang dulu tidak terjangkau. Seperti disampaikan oleh Baskoro Daru Tjahjono dalam "Balitung Putra Daerah yang sukses menjadi Raja Mataram Kuna" (2008), pada masa pemerintahan Balitung tinggalan masa Kerajaan Mataram Kuno makin tersebar ke berbagai penjuru Jawa.

Mula-mula kekuatan itu diarahkan ke wilayah utara Jawa, yakni di sekitar Gunung Sindoro-Sumbing sampai ke dataran Dieng, yang sebelumnya merupakan kantong-kantong permukiman. Berikutnya temuan-temuan prasasti dan tinggalan periode Balitung juga menyebar ke arah barat, menuju ke perbatasan Kerajaan Sunda-Galuh. Balitung mulai membangun wilayah pesisir selatan Jawa Tengah, seperti Kebumen, Purbalingga, dan Cilacap sekarang.

Salah satu pengembangan wilayah yang paling monumental adalah pembukaan wilayah timur Pulau Jawa. Sebagai catatan, sebelum Kerajaan Mataram Kuno berdiri, Kerajaan Kanjuruhan di Jawa bagian timur telah lebih dulu eksis.

Walau jejaknya samar, di masa pemerintahan Balitung para penguasa Kanjuruhan diketahui tunduk pada sang fajar Mataram Kuno. Hal ini dibuktikan dengan penemuan Prasasti Kubu-kubu (827 S/ 905 M) yang berasal dari Lamongan.

Galih Abi Khakam (2014) dalam skripsinya Prasasti Kubu-kubu 827 Saka: Tinjauan Ulang (2014), mengatakan bahwa penerbitan prasasti itu berkenaan dengan perintah Balitung terhadap dua pejabatnya yang berhasil menakluklan daerah Bantan. Nama ini walaupun awalnya diterjemahkan sebagai "Bali" oleh para peneliti kolonial, bagi Khakam justru lebih berkaitan dengan satu wilayah di Jawa bagian timur yang merupakan bekas wilayah kekuasaan Kerajaan Kanjuruhan.

Dalam prasasti itu, salah satu pejabat yang disebut adalah Rakai Kanuruhan yang mengindikasikan bahwa Kanjuruhan saat itu merupakan vasal Balitung. Terlebih, prasasti-prasasti Balitung selanjutnya banyak ditemukan di sekitar Mojokerto, Malang, Lamongan, dan tempat-tempat lain di Jawa Timur. Prasasti-prasastinya begitu legendaris, karena beberapa di antaranya bahkan ditulis ulang di zaman Majapahit.

Baca juga artikel terkait KERAJAAN MATARAM KUNO atau tulisan lainnya dari Muhamad Alnoza

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Muhamad Alnoza
Penulis: Muhamad Alnoza
Editor: Irfan Teguh Pribadi