tirto.id - Titik tolak peradaban beraksara dalam sejarah kebudayaan Jawa selama ini senantiasa dikait-kaitkan dengan eksistensi Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah. Padahal, sejarah kerajaan di alam kebudayaan Jawa—paling tidak di sekitar daerah Jawa Tengah—sudah ada sejak sebelum keberadaan kerajaan itu.
Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Kuna (2010) yang ditulis M.D. Poesponegoro dan N. Notosusanto, misalnya, disebutkan bahwa awal kemunculan sistem monarki di tengah Pulau Jawa ditandai dengan hadirnya Kerajaan Ho-ling atau sering kali disebut Kalingga.
Kronik dari Rajakula T’ang (abad ke-7 M) di Tiongkok menyebutkan bahwa Kerajaan Ho-ling dipimpin oleh seorang perempuan bernama Hsi-mo, mungkin bentuk pelafalan Tionghoa dari nama Sima. Ratu ini digambarkan sebagai sosok yang sangat adil dan bijaksana sehingga menakutkan bagi musuh-musuhnya, yakni orang Ta-shih (Arab atau Persia) yang bercokol di Sumatra.
Namun di luar itu, status sumber historis tertua di Jawa Tengah sampai sekarang senantiasa berasosiasi dengan Dinasti Sailendra. Silang pendapat di kalangan para peneliti mengenai dua dinasti di Kerajaan Mataram Kuno: Sanjaya dan Sailendra, dalam hemat saya sudah lama diselesaikan oleh Boechari dalam Melacak Sejarah Kuno Indonesia lewat Prasasti (2012).
Boechari menolak keberadaan dua dinasti di Kerajaan Mataram Kuno, apalagi pandangan bahwa dua dinasti itu mewakili mayoritas dua agama di kalangan elite kerajaan tersebut, yakni Hindu untuk Dinasti Sanjaya dan Buddha untuk Dinasti Sailendra.
Bisa dikatakan Boechari merupakan suksesi langsung dari Poerbatjaraka yang menolak pendapat para sarjana Belanda bahwa Dinasti Sailendra merupakan dinasti asing yang berasal dari Asia Selatan atau Asia Tenggara.
Boechari dan Poerbatjaraka sama-sama berpijak pada naskah Carita Parahyangan dari Jawa Barat yang menyebutkan bahwa Sanjaya memiliki seorang putra yang berganti keyakinan dan tidak mengikuti keyakinan ayahnya.
Sumber naskah ini kemudian didukung oleh temuan Prasasti Sangkhara, yang oleh Boechari diinterpretasi sebagai bukti konkret bahwa Rakai Panangkaran yang dalam Prasasti Kalasan (700 S/ 778 M) disebut sebagai sailendrawangsatilaka (permata Dinasti Sailendra) merupakan putra Sanjaya yang berganti keyakinan menjadi penganut Buddhisme dari sebelumnya beragama Hindu Saiwa seperti Sanjaya.
Namun demikian, apakah artinya Rakai Panangkaran putra Sanjaya merupakan wangsakerta (pendiri dinasti) Dinasti Sailendra? Boechari sebagai salah satu epigraf legendaris Indonesia rupanya memiliki teori yang lain. Eksistensi dinasti yang membangun Candi Borobudur itu, bagi Boechari rupanya telah ada jauh sebelum masa hidup dari Rakai Panangkaran.
Pendapat Boechari itu bersandar pada temuan sebongkah prasasti misterius yang di dalamnya termuat satu keterangan menggelitik mengenai titik nol hadirnya keluarga Sailendra di Tanah Jawa.
Prasasti Sojomerto
Prasasti yang dimaksud ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Prasasti ini digarap pada satu batu andesit, uraian pada permukaannya terdiri atas 11 baris aksara. Laporan paling awal atas penemuan prasasti ini berasal dari seorang wartawan bernama V. Soekandar Hadiwiyana pada tahun 1963.
Atas prakarsa Bupati Pekalongan saat itu, R. Moch Oesman, prasasti itu lantas dilaporkan pada pihak yang berwenang yakni Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional. Laporan tertulis atas temuan prasasti itu sendiri baru diterbitkan oleh Boechari pada tahun 1966, yang menamai prasasti itu dalam judul tulisannya "Prasasti Dapunta Selendra (Sojomerto)".
Hal yang mengejutkan dari temuan prasasti itu terletak pada aspek paleografis aksaranya yang diperkirakan berasal dari awal abad ke-7 M atau mungkin lebih tua dari Prasasti Kedukan Bukit (682 M) di Sumatra, atau lebih muda dari Prasasti Ciaruteun di Jawa Barat. Bahasa yang digunakan dalam prasasti ini juga menarik banyak peneliti, lantaran Prasasti Sojomerto bisa dianggap sebagai prasasti berbahasa Melayu Kuno tertua di Tanah Jawa.
Boechari (1966) juga melaporkan transkripsi serta terjemahan dari prasasti itu. Secara garis besar, prasasti ini menyebutkan perihal eksistensi seorang tokoh bernama Dapunta Selendra. Juga diuraikan silsilah kekerabatan dari sang tokoh utama, yakni ayah Dapunta Selendra yang bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, serta istrinya yang bernama Sampula.
Berdasarkan puji-pujian yang muncul dalam prasasti, mungkin sekali Dapunta Selendra beserta keluarganya merupakan pengikut ajaran Hindu Saiwa yang taat.
Terlepas dari keterangan-keterangan itu, Boechari amat terkesan dengan gelar "Dapunta" yang digunakan oleh tokoh utama di dalam prasasti. Gelar itu baginya galib di kalangan bangsawan Melayu Kuno di Tanah Sumatra. Seperti diketahui bahwa gelar itu juga diampu oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa, yang disebut dalam Prasasti Kedukan Bukit sebagai datuknya Sriwijaya.
Maka itu, jelas bagi Boechari bahwa Dinasti Sailendra merupakan dinasti asli Indonesia (dalam hal ini dari Sumatra) dan kemungkinan pendirinya adalah Dapunta Selendra sendiri—yang namanya merupakan pelafalan bahasa Austronesia atas kata "Sailendra" yang dalam bahasa Sanskerta artinya "Raja Pergunungan”.
Medang Gana: Awal Mula Lahirnya Raja-Raja Jawa
Seperti telah disinggung sebelumnya, wilayah penemuan Prasasti Sojomerto pada dasarnya merupakan daerah misterius dalam sejarah kebudayaan Jawa. Di sana ditemukan bentuk-bentuk tinggalan arkeologis yang langka dijumpai di area lainnya.
Sugeng Riyanto dalam artikelnya "Dinamika Kebudayaan dan Peradaban Batang Kuna: Gambaran Awal Berdasarkan Hasil Eksplorasi Arkeologis" (2014) menyebutkan beberapa bentuk "penyimpangan" tinggalan arkeologis Hindu-Buddha berupa objek pemujaan dan bangunan peribadatan. Hal itu menurutnya dibuat tidak sesuai dengan kaidah-kaidah tata aturan pada kitab suci semacam Manasara-Silpasastra.
Ia menganggap gejala ini sebagai pertanda bahwa mungkin daerah Batang di sekitarnya merupakan salah satu daerah yang paling awal tersentuh peradaban Hindu-Buddha, sehingga belum sempurna dalam menyerap dogma atau ajaran dari agama-agama Hindustan.
Uniknya, fenomena ini seperti sejalan dengan apa yang diterangkan dalam naskah Tantu Panggelaran dari periode akhir Majapahit (abad ke-15 M). Sebagaimana disebut oleh Stuart Robson dan Hadi Sidomulyo dalam Threads of The Unfolding Web: The Old Javanese Tantu Panggelaran (2021), dalam naskah berisi mitos mula-jadi orang Jawa itu diceritakan bahwa inkarnasi Wisnu yang bernama Sang Kandyawan telah membangun permukiman pertamanya di Tanah Jawa di satu daerah bernama Medang-Gana.
Tempat di mana sosok yang dianggap sebagai leluhur raja-raja Jawa itu bermukim oleh Robson dan Sidomulyo diperkirakan berada di sekitar Kendal-Batang-Semarang. Dugaan ini mereka sampaikan atas dasar banyaknya temuan Arca Ganesha yang mengindikasikan pemujaan khusus terhadap dewa tersebut, hal ini berkesesuaian dengan toponim "Gana" yang merujuk pada dewa gajah dalam ajaran Hindu.
Artikel berikutnya: Ekspansi Kerajaan Mataram Kuno ke Timur di Era Dyah Balitung
Penulis: Muhamad Alnoza
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id


































