Duel Tagar #DaruratDemokrasi vs #DaruratPKI

Oleh: Ahmad Zaenudin - 19 September 2017
Dibaca Normal 5 menit
Peristiwa di sekitar areal Menteng, Jakarta Pusat, diangkut dalam media sosial antara kubu prodemokrasi dan antidemokrasi.
tirto.id - Sejak akhir pekan lalu, ketika ratusan polisi mendatangi gedung YLBHI di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, untuk membubarkan acara seminar bertajuk "Pengungkapan Kebenaran Sejarah 1965/1966", tagar #DaruratDemokrasi telah menyelip di Twitter.

Tagar itu jadi seruan soal gentingnya kebebasan berpendapat, terlebih jika membahas peristiwa pembunuhan massal pada medio 1960-an, yang jadi awal kelahiran pemerintahan Soeharto. Peristiwa ini menjadi beban sejarah bagi masa depan politik di Indonesia, dan terus relevan bagi penuntasan kasus pelanggaran berat hak asasi manusia di masa lalu.

Tagar #DaruratDemokrasi semakin digaungkan ketika sejumlah penggiat sosial dan budaya, serta aktivis politik dan sipil Indonesia, merespons pembubaran seminar lewat acara seni bertajuk "Asik-Asik Aksi: Indonesia Darurat Demokrasi" di gedung YLBHI.

Namun, sejak sekelompok massa mendatangi areal luar gedung YLBHI pada Sabtu pagi (16/9) dan Minggu malam hingga Senin dini hari kemarin—yang pertama untuk membubarkan seminar, yang terakhir mengepung dan menyerbu pengunjung acara seni—tagar #DaruratPKI pun menyelip di linimasa Twitter.

Tagar itu hendak mengamplifikasi bahwa kegiatan di areal kantor Lembaga Bantuan Hukum Jakarta sebagai "kegiatan Partai Komunis Indonesia", salah satu partai terbesar yang pernah lahir di Indonesia pada 1950-an dan sudah mati pada setengah abad lalu.

Bila kita melacak Twitter pada Senin pagi kemarin selepas dua hari ketegangan dan kericuhan di areal sekitar gedung YLBHI, tercatat ada 1.920 kicauan yang mengandung tagar #DaruratPKI dengan lebih dari 1,7 juta pengguna Twitter yang membacanya.

Jumlah ini sumbangsih dari 833 akun yang mencuit. Tercatat ada 5 akun yang menjadi penggerak utama cuitan bertagar #DaruratPKI pada saat itu. Dari kelima akun itu, praktis hanya akun @FBR_AlBatawie yang memiliki jumlah pengikut besar (lebih dari 2,6 ribu). Empat akun lain, @funnysimilikiti, @janesyar80, @delta13tahun, dan @cebong_kw10, memiliki jumlah pengikut kecil, dengan deskripsi yang kabur.

Jika melacak tagar #DaruratPKI selama dua hari terakhir, kicauan tertinggi berlangsung pada Senin pukul 11.00 pagi. Ini waktu selepas horor Minggu malam atau Senin dini hari. Ada 487 twit dengan menyelipkan tagar tersebut. Secara umum, akun-akun yang memopulerkan tagar ini dalam rentang dua hari adalah @ekowBoy (21,6 ribu pengikut), @CondetWarrior (14,7 ribu), @SuaraMCA (9 ribu pengikut), @henao_212 (7 ribu), dan @MrahmatM212 (2,3 ribu).

Salah satu kicauan yang mendapat respons cukup tinggi dari warganet dengan retweets terbanyak adalah cuitan dari @ekowBoy. Akun ini mencuit: “Ini bukti rakyat Indonesia tdk pernah lupa dg kebiadaban PKI membantai Umat Islam & TNI, negara harus peka #DaruratPKI.” Kicauan itu direspons oleh lebih dari 400 retweet.

Sebaliknya, ada 1.991 kicauan dengan tagar #DaruratDemokrasi pada Senin kemarin. Jumlah ini andil dari 1.482 pengguna Twitter dengan tingkat keterbacaan cuitan mencapai lebih dari 13,9 juta kali. Beberapa akun yang aktif mencuit pada hari itu ialah @TifaFoundation (1,9 ribu pengikut) dan @media_pengamat (3,6 ribu pengikut).

Dalam konteks meningkatnya eskalasi ketegangan usai acara di YLBHI, cuitan pertama digemakan oleh akun @KontraS (81,1 ribu) pada Sabtu (16/9) pukul 09.22. Saat itu Kontras mencuit: “#DaruratDemokrasi terjadi lagi pdhl amanat konstitusi & reformasi menegaskan bhw kebebasan berpendat adalah hak. Ayo ramai2 sms KAPOLRI!” Cuitan ini merespons aksi penghentian acara seminar oleh kepolisian.

Secara menyeluruh dalam dua hari ketegangan di YLBHI, Sabtu dan Minggu, tercatat cukup banyak akun yang memiliki pengikut tinggi mencuit tagar #DaruratDemokrasi. Akun @mbah_mijan (87,3 ribu), @gitaputrid (22,1 ribu), @tunggalp (16,3 ribu), dan @komikazer (11,4 ribu), serta akun resmi organisasi seperti YLBHI (18,7 ribu) dan ICW (16,9 ribu) menjadi motor penggerak tagar tersebut.

Sebelum Pembubaran dan Pengepungan di YLBHI

Sebelum tagar #DaruratDemokrasi dan #DaruratPKI ramai digaungkan selama tiga hari terakhir, kedua tagar ini telah lebih dulu eksis jauh-jauh hari.

Tagar #DaruratDemokrasi, misalnya. Ia kali pertama dicuitkan pada 28 Agustus 2015. Saat itu akun @FMN_Purwokerto, sebuah akun yang mengatasnamakan organisasi mahasiswa yang bergerak melawan biaya pendidikan yang mahal, mencuit: “Pagi ini, pihak TNI mengisi apel pagi ospek mahasiswa fakultas peternakan Unsoed! #DaruratDemokrasi #WaspadaOrdeBaru”

Twit cukup lawas lain yang memakai tagar #DaruratDemokrasi dilakukan oleh akun @yynagustina pada 19 Maret 2016: “#DemonstranBukanKriminal #DaruratDemokrasi #Lawankriminalisasi #Bebaskan26KawanKami”

Dalam cuitan itu, akun dengan nama Yuyun Agustina ini turut menautkan grafik yang mengajak pembaca statusnya mengawal sidang perdana kriminalisasi 26 aktivis. Yang menarik, dari ke-26 aktivis yang dianggap dikriminalisasi oleh itu, dua orang di antaranya adalah pengacara publik LBH Jakarta, lembaga yang sedang disorot saat ini.
Sementara itu, tagar #DaruratPKI kali pertama dicuitkan oleh akun @ANugrahaa_ pada 6 Juni 2015: ”@chappyhakim pergantian penjagaan Bandara oleh marinir itu trik dan intrik anak cucu PKI. Marinir hanya melakukan perintah #DaruratPKI.”

Cuitan Agung Nugraha bertagar #DaruratPKI itu jawaban dari kekecewaan mantan Kepala Staf TNU AU Chappy Hakim atas kabar tersingkirnya TNI AU sebagai pengawas keamanan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Chappy menuangkan kekecewaannya melalui akun Twitter pribadi @chappyhakim (43,5 ribu). Perkara PKI dan TNI AU memang merupakan kisah lama. TNI AU dianggap memiliki kaitan dengan PKI. Salah satu alasannya adalah lokasi eksekusi para jenderal dilakukan di wilayah TNI AU.

Akun Twitter TNI Menggaungkan Frasa 'PKI'

Soal PKI, tak hanya tagar #DaruratPKI yang bermain sendiri di dunia maya. Frasa-frasa PKI banyak bermunculan dalam dua hari terakhir. Ini termasuk dicuitkan oleh akun-akun resmi TNI.

Dalam memahami kicauan akun-akun TNI yang menyematkan frasa 'PKI,' ada tiga gema intonasi: keras, biasa, dan tidak keduanya.

Level keras artinya akun-akun TNI mengunggah beberapa twit yang bernada menggertak PKI. Akun Twitter milik TNI AD (@tni_ad), Kodam III/Siliwangi (@kodam3siliwangi), Kodam II/Sriwijaya (@pendam2), dan Kodam Tanjungpura (@KodamTpr) adalah mereka yang mencuit terkait PKI dalam level keras.

Akun @tni_ad mencuit soal PKI sejak 16 hingga 17 September dalam 4 kali retweet. Akun @kodam3siliwangi 2 kali retweet soal puisi Taufik Ismail dan 2 kali retweet soal PKI Muso Madiun pada 16 dan 17 September. Akun @pendam2 3 kali retweet tentang puisi Taufik Ismail pada 16-17 September. Akun @KodamTpr 2 kali retweet tentang film G30S dan 5 kali tentang puisi Taufik Ismail sejak 14 September.
Level biasa artinya kicauan akun-akun TNI soal PKI bergema secara cukup halus. Di level ini, akun-akun yang bermain ialah TNI AL (@_TNIAL_) yang meretweet soal film G30S sejak 16 September, Puspen Penerangan TNI (@Puspen_TNI) meretweet soal puisi Taufik Ismail dan film G30S pada 16-17 September, Kodam Jaya (@kodamjaya03) meretweet 2 kali puisi Taufik Ismail pada 17 September, dan Kodam V Brawijaya (@Pendam5) meretweet puisi Taufik Ismail dan film G30S pada 16 September.

Selain itu, ada Kodam VI Mulawarman (@KodamMulawarman) yang meretweet film G30S pada 16 September, Kodam Hasanuddin (@kodamhasanuddin) yang meretweet puisi Taufik Ismail pada 18 September, Kodam Udayana (@Kodam9Udayana) yang meretweet puisi Taufik Ismail dan film G30S pada 16 dan 18 September, Kodam 13 Merdeka (@Kodam13M) yang meretweet film G30S pada 17 September, serta Kodam Kasuari (@KodamKasuari) dan Kodam Bukitbarisan (@kodam1BB) yang meretweet puisi Taufik Ismail pada pada 16 September.


Yang menarik, di level biasa, akun resmi Twitter TNI AU (@_TNIAU) berkicau selepas dipicu oleh twit dari akun bernama @GeneralSoeharto: “Ditunggu tweet dari @_TNIAU tentang Bahaya Kebangkitan PKI, agar rakyat tidak meragukan ‘jenis kelamin’-mu.”

Selepas twit pemicu itu, akun TNI AU menjawab: “Apa ada rakyat Indonesia yg masih meragukan TNI AU?”

Ada kesan, TNI AU tengah berupaya meluruskan tuduhan yang melekat pada institusi mereka yang menyatakan TNI AU terlibat dalam peristiwa 50 tahun lalu.

Selepas akun dengan level keras dan biasa, ada 2 akun TNI yang tidak melakukan twit soal PKI sama sekali. Akun TNI ini adalah Kodam IV/Diponegoro (@KodamIV) dan Kodam Pattimura (@kodampattimura). Tak ada kicauan atau retweet soal puisi bertema PKI dari Taufik Ismail atau ajakan menonton film G30S dari kedua akun tersebut.

Infografik HL Indepth LBH

'PKI' di Facebook

Selain di Twitter, unggahan soal PKI juga terdapat di Facebook, media sosial nomor 1 di dunia. Tautan berita terkait PKI termasuk yang mencolok.

Dilacak setahun ke belakang, artikel berjudul “Inilah Fakta PKI Membantai Ribuan Muslim Indonesia, Beritahu Kebiadaban PKI dengan Share Artikel ini!”, yang disebar pada 30 September 2016, adalah terbanyak dibagikan. Berita yang dimuat di situsweb jurnalmuslim.com ini telah dibagikan 202,2 ribu kali di Facebook.

Pada posisi ke-2 ada berita berjudul “Tak Takut Di Pecat, TNI Pastikan Akan Sweeping PKI Meski Presiden Jokowi Melarang”. Artikel ini dipacak pada 16 November 2016, berasal dari voa-moeslim.com, dan telah dibagikan 168,9 ribu kali.

Pada posisi ke-3 ada artikel berjudul “Ngeri...!!! Jangan Lupakan Sejarah, Inilah Fakta Kebiadaban PKI yang Telah Membunuh Ribuan Muslim Indonesia”. Artikel dari sebuah blog yang beralamat di lensa-fokus.blogspot.com (kini telah hilang) ini telah dibagikan 117,7 ribu kali.

Pertarungan tagar #DaruratDemokrasi dan #DaruratPKI jelas bukanlah tanpa sebab. Sebuah jurnal berjudul “#Ferguson: Digital protest, hashtag ethnography, and the racial politics of social media in the United States” oleh Yarimar Bonilla mengungkapkan bahwa tagar memungkinkan sebuah pesan tersiar, memanggil atensi nasional bahkan global ke sebuah sudut kecil yang direpresentasikan oleh tagar itu.

Tagar bukanlah sembarang kata semata. Ia berperan bagaikan nomor panggil perpustakaan yang membingkai semua percakapan. Melalui tagar, pesan-pesan yang tercecer berkeping dalam riuhnya media sosial, khususnya Twitter, menyatu dan memudahkan setiap orang memahaminya.

Pertarungan tagar dan frasa “PKI” atau “Demokrasi”, serta adu kekuatan lain di media sosial, merupakan buah dari kian populernya media sosial oleh masyarakat Indonesia.

Pada 2017, diprediksi jumlah pengguna Twitter di Indonesia mencapai 18,9 juta orang. Pada tahun yang sama, jumlah pengguna Facebook diprediksi mencapai angka 87,75 juta. Jumlah pengguna media sosial yang besar ini sangat berarti untuk diperebutkan. Terutama dalam konteks mencari dukungan atas suatu ide dan gagasan, serta tentu saja bagi para amplifier politik.

Baca juga:

Baca juga artikel terkait PENGEPUNGAN YLBHI atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Zen RS
Artikel Lanjutan