Buzzer, Berita Palsu dan Teladan Nabi Muhammad

Reporter: Ahmad Khadafi, tirto.id - 27 Feb 2017 13:20 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Menyikapi berita yang belum jelas, Nabi tak segan melakukan verifikasi.
tirto.id - Duduk, membaca tulisan ini di layar ponsel atau layar komputer Anda. Merasa sedang mengarungi dunia yang berbeda. Menjelajah dari satu tempat ke tempat lain. Tidak merasa ada yang mengawasi, tidak ada batas-batas normatif, tidak perlu permisi ketika masuk dan berkomentar, tidak perlu pamit ketika pergi.

Itulah kira-kira yang coba disampaikan David Bell dalam bagian pembuka buku An Introduction to Cyberculture (Routledge, 2001). Perasaan bebas itu bisa muncul karena satu alasan sederhana: Anda bisa bermain-main identitas. Anda bisa menjadi siapa saja di dunia siber. Bahkan menjadi orang yang punya pengaruh kuat bahkan walau pun ada bukan penguasa. Anda bisa (merasa) setara, satu level, bahkan bisa mengomentari apapun aktivitas seorang presiden. Dengan satu catatan: hanya di dunia siber.

Bahkan tidak hanya berhenti di sana, jika pengaruh Anda cukup besar, hal ini bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan pundi-pundi uang. Salah satunya menjadi buzzer.

Ketika dipercaya sebagai buzzer, identitas "buatan" di dunia siber dipercaya punya pengaruh yang besar. Parameternya bisa macam-macam: followers banyak, respons pengikut begitu aktif, atau di dunia nyata memang orang terkenal.

Hanya saja, karena sifat buzzer begitu cair dan adanya perasaan bebas dari aturan karena merasa bisa bersembunyi dengan identitas buatan, kontrol akan validitas maupun verifikasi akan suatu informasi praktis tidak ada. Bahkan pada titik tertantu, buzzer kadang ikut menyebarkan informasi palsu.

Hal inilah yang memicu Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pengurus Pusat Muhamadiyah, Edy Kuscahyanto, mengenai bahaya buzzer. Lebih-lebih buzzer politik.

“Kita sepakat wacana haramkan profesi buzzer-buzzer karena mereka itu meresahkan orang lain dan membunuh karakter orang,” tuturnya dalam "Dialog Pers: Memerangi Hoax dan Menangkal Penyalahgunaan Media Sosial" (21/2) di Jalan Menteng, Jakarta Pusat.

Latar persoalan di wacana ini memang sedang menggelisahkan banyak orang. Informasi palsu berbahaya. Sikap Pengurus Muhamadiyah ini adalah sikap hati-hati. Usaha ini bisa dikategorikan sebagai pembatas perilaku yang meresahkan sejak dini. Namun apakah usaha mencegah kebakaran harus dengan melarang penggunaan api dalam kehidupan sehari-hari? Nah, itulah yang perlu dibedah lebih lanjut.

Teladan Sang Nabi

Informasi palsu pada dasarnya sudah mendapatkan porsi hukum yang tepat: haram. Apalagi jika merujuk pada kisah Siti Aisyah yang pernah mendapatkan fitnah berselingkuh dengan Shafwan bin Mu’aththal seperti yang diceritakan dalam Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Jilid 2. Fitnah yang sempat mengguncang kehidupan rumah tangga Nabi Muhammad.

Dalam perjalanan menuju ke kabilah Bani Musthaliq pada tahun kelima Hijriah, Nabi mengajak dua istrinya; Ummu Salamah dan Aisyah. Dalam perjalanan panjang, suatu malam, Aisyah mendadak ingin buang hajat. Ia pun turun dari unta lalu menyingkir agak jauh dari rombongan. Karena badan Aisyah begitu ringan, pemandu unta tidak menyadari jika istri Nabi ini turun.

Dengan segera Aisyah menyelesaikan hajatnya. Masalahnya, ketika selesai dan hendak menyusul, kalung Aisyah terjatuh. Dengan panik Aisyah mencari kalungnya dalam keadaan gelap gulita sampai kemudian rombongan semakin jauh sampai tidak terlihat lagi. Menyadari bahwa tidak mungkin mengejar, Aisyah memilih menunggu. Berharap pemandu untanya sadar dan rombongan akan kembali.

Sudah menjadi kebiasaan bagi rombongan musafir pada era itu, bahwa akan ada satu orang yang bertugas berjalan di posisi paling belakang dengan rentang jarak yang cukup jauh. Tugasnya memang untuk memastikan apakah ada barang yang terjatuh atau tertinggal. Dan pada malam itu, petugas itu adalah Shafwan.

Tentu saja Shafwan terkejut ketika mendapati istri Nabi sedang tertidur pulas di gurun pasir sendirian. Tanpa berani menatap wajah Aisyah, Shafwan kemudian mempersilakan Aisyah naik ke unta miliknya. Keduanya pun berjalan menyusul rombongan.

Awalnya, tidak ada kecurigaan apapun di antara rombongan. Sampai setelah kembali ke Madinah, Abdullah bin Ubay, melontarkan pertanyaan yang pada akhirnya akan menjadi sumber fitnah, “Mengapa Aisyah pulang terlambat dan datang bersama dengan Shafwan?”

Pertanyaan ini segera tersebar dengan versi jawaban yang bermacam-macam. Bahkan sekembali dari perjalanan jauh itu, Aisyah sedang sakit cukup lama sehingga hal tersebut menambah kecurigaan orang-orang. Setelah mendengar bahwa ada fitnah tentang dirinya, Aisyah pun menangis setiap malam.

Lalu bagaimana sikap Nabi? Dengan penuh hati-hati Nabi memeriksa satu demi satu kebenaran informasi tersebut. Uniknya, sepanjang tersebarnya fitnah ini, Nabi tidak mendapatkan wahyu dari Tuhan. Inilah yang kemudian membuat Nabi turun sendirian menyelediki satu demi satu fakta-fakta di lapangan. Bertanya kepada orang-orang yang dipercaya; Usamah bin Zaid, Ali bin Abu Tholib, bahkan juga termasuk pelayan Aisyah; Barirah.

Setelah Nabi mendapatkan fakta-fakta yang didapatkan dari lapangan, beliau kemudian datang sendiri ke kediaman Abu Bakar, mertuanya, ayah dari Aisyah. Nabi kemudian menyampaikan kepada Aisyah bahwa jika Aisyah memang bersih, maka Tuhan tentu akan membersihkannya, namun jika Aisyah salah Nabi menghimbau Aisyah agar bertobat.

Bahkan dalam keadaan sudah mengantongi berbagai verifikasi, Nabi tidak juga melakukan penghakiman di depan Aisyah. Sampai kemudian turunlah Surat An-Nuur: 11-12. Yang dengan terang benderang mengklarifikasi dan membersihkan segala macam tuduhan kepada Aisyah.

Bahkan di dalam ayat ini juga memuat kalimat, “Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagimu, bahkan ia adalah baik bagi kamu.” Sebab, dari sebuah berita bohong atau fitnah, kita bisa dipaksa untuk terus belajar dalam proses tabayun.

Mengingat bahwa sepanjang pencarian fakta yang dilakukan Nabi itu tidak ada kejadian transenden atau shortcut berupa wahyu yang membuat Nabi bisa langsung tahu kebenarannya, maka usaha ini seharusnya menjadi refleksi: bahwa melakukan verifikasi dengan usaha keras nyata-nyata pernah ada contohnya. Dan Nabi Muhammad sendiri yang melakukannya.

Infografik Fatwa Haram

Tabayun dan Berita Palsu

Belakangan penggunaan kata "tabayun" memang menjadi familiar. Kata yang berasal dari kata “baan” yang berarti "jelas". Dan dengan menggunakan prinsip wazan “tafa’ala”, kata ini kemudian menjadi “tabayyana”, lalu menjadi “tabayyun”, yang secara bahasa berarti menjelaskan atau mencari kejelasan. Secara sederhana bisa dimaknai sebagai proses mencari kejelasan dari informasi yang diperoleh.

Selain sebagai upaya melindungi diri dari pengaruh fitnah, proses verifikasi juga pada akhirnya akan menambah pengetahuan bagi orang yang melakukannya. Artinya, semakin sering melakukan verifikasi, orang yang bertabayun akan semakin mampu mengidentifikasi mana informasi palsu dan mana yang tidak.

Berita bohong memang jelas haram, dan penempatan hukum ini cukup jelas. Bukan lagi abu-abu. Masalahnya, menilai apakah buzzer selalu berisi tentang informasi palsu atau tidak adalah perkara lain. Memasukkan antara profesi buzzer sebagai penyebar informasi palsu rentan menjadi praktik generalisasi.

Wacana pengharaman buzzer ini mengingatkan pada usulan pengharaman Facebook dan Friendster yang pernah mengemuka pada Mei 2009 oleh Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMPP) se-Jawa Timur.

Hal yang ditanggapi oleh Ketua Umum PBNU, KH. Hasyim Muzadi saat itu, “Pisau kalau digunakan memasak apa salahnya, tetapi kalau untuk membunuh itu akan menjadi barang bukti. Jadi, halal-haram itu bukan pada teknologi atau alatnya, tapi sematkan pada penggunanya.”

Baca juga artikel terkait BUZZER atau tulisan menarik lainnya Ahmad Khadafi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Ahmad Khadafi
Penulis: Ahmad Khadafi
Editor: Zen RS

DarkLight