Menuju konten utama

Disuntik Danantara, Garuda Bayar Utang Rp3,73 T ke Pertamina

Perubahan rencana penggunaan dana hasil PMTHMETD merupakan dampak dari penyesuaian jumlah penambahan modal dari Danantara.

Disuntik Danantara, Garuda Bayar Utang Rp3,73 T ke Pertamina
Petugas melayani pelanggan di kantor penjualan (sales office) Garuda Indonesia di Medan, Sumatera Utara, Kamis (23/1/2020). ANTARA FOTO/Septianda Perdana/pras.

tirto.id - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk akan menggunakan Rp3,73 triliun dari tambahan modal yang disuntikkan Danantara untuk membayar utang pembelian bahan bakar pesawat Citilink kepada PT Pertamina (Persero).

Informasi ini tercantum dalam penjelasan perusahaan atas suntikan modal Danantara melalui mekanisme Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement yang diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), Rabu (12/11/2025) pekan lalu.

Corporate Secretary Garuda Indonesia, Andreas Tumpal H. Hutapea, menjelaskan bahwa rencana penggunaan suntikan modal Danantara sebesar Rp23,67 triliun mengalami perubahan.

Sebelumnya, pada 9 Oktober 2025, hanya 37 persen dari suntikan modal tersebut yang direncanakan akan digunakan untuk meningkatkan modal Citilink dalam rangka pembiayaan modal kerja dan operasional—yang meliputi pembayaran biaya perawatan dan perbaikan pesawat.

Namun, pada 11 November, rencana alokasi tambahan modal kepada Citilink meningkat menjadi Rp14,96 triliun atau 63,22 persen dari total penggunaan dana PMTHMETD. Dana ini akan disalurkan melalui konversi pinjaman pemegang saham menjadi modal serta setoran modal tunai.

Dari total dana itu lah, Citilink akan melunasi utang pokok pembelian bahan bakar setara 225 juta dolar AS atau sekitar Rp3,732 triliun kepada Pertamina. Pelunasan merujuk pada sejumlah dokumen restrukturisasi utang, termasuk Amandemen Kedua Perjanjian Restrukturisasi Utang antara Pertamina dan Citilink yang diteken pada 8 Desember 2023.

Sementara sisanya, sebesar Rp11,23 triliun, akan digunakan untuk pembiayaan modal kerja dan operasional. Dana itu terdiri atas Rp4,82 triliun dari konversi shareholder loan (SHL) dan Rp6,40 triliun dari setoran modal tunai. Mayoritas digunakan untuk biaya perawatan dan perbaikan pesawat.

“Perubahan rencana penggunaan dana hasil PMTHMETD merupakan dampak dari penyesuaian jumlah penambahan modal,” tulis Andreas dalam penjelasannya, dikutip dari keterbukaan informasi, Rabu (19/11/2025).

Di luar suntikan kepada Citilink, Garuda Indonesia mengalokasikan sebagian suntikan modal Danantara untuk kebutuhan operasional induk.

Andreas menjelaskan, sekitar 36,78 persen atau Rp8,70 triliun akan digunakan untuk biaya perawatan dan perbaikan pesawat Garuda—naik dari rencana sebelumnya pada 9 Oktober 2025, ketika Garuda hanya mengalokasikan 29 persen. Pengerjaan perawatan dan perbaikan pesawat tersebut akan dilakukan oleh GMF AeroAsia dan/atau penyedia MRO lain berdasarkan perjanjian tahun 2018.

Adapun untuk rencana ekspansi armada, Garuda Indonesia tetap mempertahankan porsi 22 persen seperti rencana sebelumnya.

Di luar soal penggunaan modal, Andreas turut menyampaikan bahwa dua mata acara dalam RUPSLB—mengenai pemindahtanganan dan penghapusbukuan aset—tidak lagi dilanjutkan karena ekuitas Garuda diproyeksikan positif setelah mendapat suntikan modal dari Danantara. Dengan demikian, tindakan atas aset tidak lagi memerlukan persetujuan pemegang saham.

Andreas memastikan tidak ada dampak operasional maupun finansial akibat pembatalan pembahasan agenda tersebut, dan proses pengelolaan aset akan tetap berjalan sesuai ketentuan Anggaran Dasar.

“Adapun tujuan awal yang ingin dicapai dari mata acara kedua yakni peningkatan efektivitas pengelolaan aset tetap pesawat dan nonpesawat di lingkungan perseroan," jelas Andreas.

"Sedangkan untuk mata acara ketiga bertujuan menyederhanakan proses pemindahtanganan dan penghapusbukuan aset perseroan, mengingat perseroan sebelumnya telah mengajukan persetujuan atas pengalihan kekayaan dengan nilai kecil untuk aset nonstrategis sebagai akibat dari kondisi ekuitas negatif,” tambahanya.

Baca juga artikel terkait GARUDA INDONESIA atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Insider
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana