Menuju konten utama
Periksa Data

Dinamika Elektoral di Jawa Timur: Prabowo Melemah, Anies Menguat

Survei terbaru Indikator Politik mengungkap Prabowo-Gibran unggul di Jatim. Namun, suara terhadap paslon tersebut cenderung menyusut.

Dinamika Elektoral di Jawa Timur: Prabowo Melemah, Anies Menguat
Header Periksa Data Dinamika Elektoral di Jatim,. tirto.id/Fuad

tirto.id - Pada Juli 2023 lalu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menetapkan daftar pemilih tetap (DPT) untuk gelaran pemilihan umum (pemilu) 2024 sebanyak 204,8 juta pemilih.

Di antara angka itu, Jawa Timur (Jatim) jadi provinsi dengan populasi pemilih terbesar kedua setelah Jawa Barat (Jabar). Jumlah pemilih di Jatim menyentuh lebih dari 31,4 juta, selisih 4,3 juta dari pemilih di Jabar yang mencatat angka 35,7 juta.

Ada sekitar 91 kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI yang diperebutkan di dapil Jabar dan 87 kursi DPR RI di dapil Jatim. Sementara, di wilayah lain seperti Jawa Tengah (Jateng), hanya tersedia 77 kursi DPR dan DKI Jakarta 21 kursi.

Maka, tak berlebihan bila Jatim disebut sebagai kunci dalam kompetisi pemilu, baik untuk pemilihan presiden (pilpres) maupun pemilihan legislatif (pileg).

Berbagai lembaga survei pun bergiliran memetakan gambaran dukungan politik di Jatim. Kira-kira, bagaimana potret peta elektoral dan dinamikanya?

Performa Paslon saat Debat Ternyata Punya Pengaruh

Menurut jajak pendapat Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang melibatkan 8.800 warga Jatim, pasangan calon (paslon) presiden dan wakil presiden nomor urut 2 Prabowo-Gibran terlihat unggul, elektabilitasnya menyentuh 46,7 persen.

Responden yang memilih Ganjar Pranowo–Mahfud MD mencapai 26,6 persen. Pasangan Anies Baswedan–Muhaimin Iskandar ada di urutan terakhir, yakni 16,2 persen.

Survei yang dilakukan selama 16—28 Desember 2023 itu mengungkap, mayoritas responden (45,7 persen) mengaku kecil kemungkinan dirinya mengganti pilihan capres-cawapresnya.

Lebih lanjut, sekitar 28,5 persen responden menyatakan “sangat kecil atau hampir tidak mungkin” mengganti pilihan. Sisanya, yakni 21,3 persen, mengaku punya potensi bergeser suara, kadar kemungkinannya “cukup besar” dan “sangat besar”.

Senada, survei Indikator Politik yang berlangsung pada 30 Desember 2023—6 Januari 2024 juga menangkap tren unggulnya elektabilitas Prabowo-Gibran di Jatim. Meski demikian, suara terhadap paslon tersebut cenderung menyusut.

Secara lebih rinci, elektabilitas Prabowo–Gibran terbaru berada di level 48,2 persen, menukik turun dari survei Indikator sebelumnya (23 November—1 Desember 2023) yang kala itu bertengger di angka 53,4 persen.

Bersamaan dengan penurunan itu, tren keterpilihan Anies-Cak Imin di Jatim melesat, dari 12,6 persen menjadi 21,7 persen pada jajak pendapat versi 30 Desember 2023—6 Januari.

Sementara itu, suara untuk Ganjar-Mahfud tak naik signifikan, hanya menjadi 24,5 persen dari sebelumnya 22,8 persen.

Peneliti politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Wasisto Raharjo Jati menilai, acara debat capres-cawapres turut memengaruhi fluktuasi dan stagnasi suara setiap paslon di Jatim.

Sebagai catatan, survei Indikator Politik dilakukan pasca debat kedua dan jelang debat ketiga yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum pada Minggu (7/1/2024).

"Di sisi lainnya, suara warga [Nahdlatul Ulama] NU juga terpecah. Adanya sosok Cak Imin dan Pak Mahfud yang notabene berasal dari Jatim membuat peta suara pemilih Jatim menjadi lebih tersegmentasi," kata Wasisto melalui pesan teks, Rabu (31/1/2024).

Top 3 Parpol di Jatim: PDIP, PKB, dan Gerindra

Indikator Politik juga memetakan tren dukungan partai politik (parpol). Terungkap, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Gerindra menjadi parpol dengan elektabilitas tertinggi.

Temuan itu juga senada dengan survei LSI, yang memperlihatkan ketiga partai tersebut dalam top 3 yang menduduki elektabilitas paling moncer di Jatim.

PDIP dan PKB bersaing ketat untuk menjadi pemenang pemilu legislatif di Jatim, dengan tingkat dukungan masing-masing 23,3 persen dan 20,7 persen.

Mengekor di belakang ada partai Gerindra dengan elektabilitas sekitar 16,6 persen. Selanjutnya, diisi Partai Golkar dan Demokrat dengan tingkat keterpilihan 7,5 persen dan 4,9 persen.

Partai-partai lainnya sementara ini memiliki elektabilitas di bawah 4 persen. Proporsi responden yang belum menentukan pilihan juga masih cukup banyak, yakni sekitar 12,3 persen.

Merujuk laporan Statistik Politik yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS), pada pemilihan legislatif tahun 2019, PKB memperoleh suara besar di Jatim, persentasenya mencapai 19,02 persen.

Wasisto dari BRIN berpendapat, Jatim pasca pemilu 2014 memang tidak sepenuhnya solid satu warna politik tunggal, tetapi tersegmen berdasarkan geopolitik kultural yang memengaruhi ikatan partisan.

“Saya pikir ketokohan figur paslon sepertinya masih menjadi mesin politik,” tandasnya.

==

Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Periksa Data, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan lainnya dari Fina Nailur Rohmah

tirto.id - Periksa data
Penulis: Fina Nailur Rohmah
Editor: Shanies Tri Pinasthi