tirto.id - Malam itu langit Caracas dipenuhi ledakan. Helikopter MH-60M Black Hawk, F-35A, B-1B Lancer, dan pesawat pendukung lainnya milik militer AS menyerang infrastruktur militer dan sistem pertahanan udara angkatan bersenjata Venezuela.
Di tengah situasi itu, tim penyerbu bergerak. Berbagai pasukan yang dikomandoi Delta Force, menyergap Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Maduro sempat mencoba masuk ke ruang aman berlapis baja, tetapi Delta Force sudah mengantisipasi.
Trump, yang memantau dari resor pribadinya di Mar-a-Lago, Florida, menyebut pasukan elite berhasil menyerbu masuk dan melumpuhkan target tanpa perlawanan berarti. Operasi yang dikenal dengan Absolute Resolve ini membingkai penegakan hukum domestik terhadap buronan narkoba internasional.
Namun, komunitas internasional, termasuk PBB dan negara tetangga seperti Meksiko, melihatnya sebagai penculikan dan pelanggaran kedaulatan yang mencolok, sekaligus preseden berbahaya dalam hubungan internasional.
Bagi Delta Force, keberhasilan ini menegaskan posisi mereka sebagai instrumen utama kebijakan luar negeri AS yang mampu menjangkau target mana pun, di mana pun, tanpa terhalang batas negara atau benteng militer.
Operasi Tanpa Perlawanan
Delta Force atau 1st Special Forces Operational Detachment-Delta (1st SFOD-D) yang didirikan pada 1977 oleh Kolonel Charlie Beckwith, lahir dari kebutuhan mendesak Amerika Serikat akan unit kontra-terorisme setelah serangkaian serangan global di dekade 1970-an.
Beckwith, yang pernah bertugas bersama Special Air Service (SAS) Inggris, membawa filosofi kualitas di atas kuantitas. Unit ini dibentuk untuk bekerja dalam tim kecil, mandiri, dan sanggup menjalankan misi yang dianggap mustahil secara politik maupun militer.
Kekuatan Delta Force, selain senjata adalah ketahanan mental operatornya. Seleksi yang digelar dua kali setahun di pergunungan Virginia Barat memiliki tingkat kegagalan lebih dari 90 persen. Kandidatnya bukan prajurit biasa, melainkan yang terbaik dari Green Berets dan Rangers. Namun, bahkan bagi mereka, seleksi ini adalah neraka.
Tahap paling menakutkan adalah navigasi darat dan Stress Phase. Kandidat dilarang berkomunikasi, dipaksa berjalan sendirian menempuh 29 hingga 64 kilometer per hari dengan ransel berat.
Puncaknya adalah The Long Walk, perjalanan 64 kilometer dengan batas waktu yang dirahasiakan. Ketidakpastian menjadi senjata utama instruktur, saat kandidat tidak pernah tahu kapan penderitaan berakhir.
Mantan operator Dale Comstock menyebut seleksi ini sebagai perang psikologis. Banyak atlet tangguh yang mencoba peruntungan gagal karena tidak mampu menahan isolasi dan kelelahan. Delta mencari individu yang tetap bisa berpikir jernih dan taktis ketika tubuh berada di ambang kehancuran.
Bagi yang lolos, akan menjalani Operator Training Course selama enam bulan. Di sini, mereka dilatih seni Close Quarters Battle (CQB) dengan presisi bedah, mampu membedakan sandera dan kombatan dalam hitungan milidetik. Selain itu, mereka belajar teknik spionase, mengemudi taktis, dan demolisi.
Pelatihan-pelatihan itu dikombinasikan dengan berbagai dukungan intelijen dari CIA, kecanggihan teknologi, serta lintas militer, membuat operasi seperti Absolute Resolve pada penangkapan Nicolás Maduro begitu sukses.
Sejak Agustus 2025, tim CIA bekerja secara sembunyi-sembunyi, menyusup ke Venezuela, merekrut orang, dan mengumpulkan pola pergerakan harian Maduro.
“Namun mantan pejabat mengatakan badan tersebut jelas dibantu oleh hadiah $50 juta yang ditawarkan Pemerintah AS untuk informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro,” tulis The New York Times.
Keberhasilan operasi memicu pertanyaan besar terkait kemungkinan adanya bantuan dari dalam negeri Venezuela. Publik menyoroti sikap dua tokoh militer top Venezuela, Diosdado Cabello dan Menteri Pertahanan Vladimir Padrino López. Keduanya memang mengutuk aksi AS, namun pasukan mereka disebut nyaris tidak melakukan perlawanan sama sekali saat Delta Force menyerbu.
Fox News bahkan mencatat bahwa angkatan bersenjata Venezuela tampak tidak melakukan perlawanan apa pun saat penyerbuan berlangsung. Seorang analis Venezuela, Jorge Jraissati, mengatakan cepatnya Maduro ditangkap menunjukkan AS memiliki intelijen hebat dan orang Venezuela aktif bekerja sama dengan AS. Dugaan ini menguatkan spekulasi bahwa ada elemen pro-AS di dalam pemerintahan Maduro, sehingga Delta Force bisa beraksi secepat kilat.
Jatuh dan Terbenam di Mogadishu
Bayang-bayang operasi rahasia di Venezuela mengingatkan kembali tragedi lain di Mogadishu, Somalia. Awal 1990-an, negara itu terjerumus dalam perang saudara setelah jatuhnya diktator Siad Barre. Kelaparan massal melanda, diperparah oleh klan-klan yang saling bertikai dan membajak bantuan pangan internasional.
PBB bersama AS meluncurkan misi UNOSOM II untuk mengamankan distribusi bantuan. Namun, misi kemanusiaan itu segera berubah menjadi konflik terbuka dengan Mohamed Farrah Aidid, pemimpin klan Habr Gidr, yang melihat intervensi asing sebagai ancaman bagi kekuasaannya.
Ketegangan memuncak setelah milisi Aidid membunuh 24 penjaga perdamaian asal Pakistan. PBB lalu mengeluarkan mandat penangkapan, dan AS mengirim Task Force Ranger yang terdiri dari gabungan Delta Force, Rangers, dan 160th SOAR, di bawah komando Mayjen William Garrison untuk memburu Aidid dan para letnannya.
Pada 3 Oktober 1993, intelijen AS mendapat informasi bahwa dua target penting sedang berkumpul di sebuah bangunan dekat Hotel Olympic, jantung Pasar Bakaara, wilayah terkuat Aidid. Mereka adalah Omar Salad Elmi, menteri luar negeri kabinet bayangan Aidid, dan Mohamed Hassan Awale, penasihat politik utamanya.
Operasi yang dinamakan Gothic Serpent itu merencanakan Delta menyerbu gedung, Rangers mengamankan perimeter, lalu konvoi darat mengevakuasi semua orang. 19 pesawat, 12 kendaraan, dan sekitar 160 tentara dilibatkan. Estimasi waktu kurang dari satu jam.
Fase awal berjalan mulus. Operator Delta berhasil menangkap Salad dan Awale bersama beberapa tahanan lain. Namun, keadaan berubah drastis ketika milisi Somalia, yang sudah mempelajari pola operasi helikopter AS, menembakkan RPG ke rotor ekor Black Hawk.
“Operasi tidak berjalan seperti yang direncanakan. Konvoi darat berlari melawan barikade yang dibentuk oleh milisi lokal,” ujar Mark Bowden, penulis buku Black Hawk Down: A Story of Modern War (2010).
Super 61, helikopter yang dibawa Cliff Wolcott, menjadi korban pertama. Jatuhnya helikopter ini mengubah misi menjadi operasi penyelamatan di tengah kota yang penuh musuh. Pasukan darat yang bergerak ke lokasi jatuhnya Super 61 langsung terjebak dalam penyergapan besar. Situasi semakin buruk ketika Black Hawk kedua, Super 64 yang dikendarai Michael Durant, juga ditembak jatuh di lokasi berbeda.
Di lokasi jatuhnya Super 64, dua penembak jitu Delta Force, Sersan Satu Randy Shughart dan Sersan Master Gary Gordon, yang memantau dari helikopter, melihat kerumunan milisi mendekati bangkai pesawat Michael Durant.
Menyadari kru yang selamat tak mungkin bertahan, mereka berulang kali meminta izin untuk turun meski tahu risikonya. Setelah diizinkan, keduanya turun, menarik Durant dari reruntuhan, lalu bertempur melawan ratusan milisi hingga amunisi habis.
Mereka tewas di tempat, tetapi tindakan itu menyelamatkan nyawa Durant yang kemudian ditawan. Atas pengorbanan ini, Shughart dan Gordon dianugerahi Medal of Honor secara anumerta.
Pertempuran berlanjut selama 18 jam tanpa henti. Pasukan AS yang terkepung di sekitar lokasi jatuhnya Super 61 harus bertahan semalaman menghadapi gelombang serangan hingga konvoi penyelamat PBB, terdiri dari tank Pakistan dan APC Malaysia, berhasil menembus blokade pada pagi tanggal 4 Oktober.
18 tentara AS tewas di tempat, lebih dari 70 terluka, dan dua helikopter hancur. Di pihak Somalia, korban tewas diperkirakan antara 300 hingga lebih dari 1.000 orang, termasuk banyak warga sipil.
Gambar mayat tentara Amerika yang diseret di jalanan Mogadishu, disiarkan CNN ke seluruh dunia, menimbulkan trauma bagai publik dan Pemerintah AS. Reaksi keras ini memaksa Presiden Bill Clinton menarik pasukan dari Somalia, meninggalkan misi PBB dalam kekacauan.
Dampak jangka panjangnya dikenal sebagai Sindrom Mogadishu. Merujuk artikel di Brown Political Review, fenomena ini membuat pembuat kebijakan AS enggan melakukan intervensi militer di luar negeri, terutama dengan pengerahan pasukan darat dalam konflik yang tidak memiliki kepentingan strategis vital.
Sindrom ini mengubah doktrin militer AS menuju penggunaan kekuatan udara, rudal jelajah, dan kemudian drone, untuk meminimalkan risiko fisik bagi personel. Pola ini terlihat jelas dalam serangan udara masif sebelum tim Delta mendarat di Caracas pada 2026.
Secara militer, Mogadishu menjadi studi kasus penting pertempuran kota modern. Kegagalan komunikasi, ketiadaan perlindungan lapis baja yang sempat ditolak Menteri Pertahanan Les Aspin, serta kerentanan helikopter terhadap senjata infanteri sederhana menjadi bahan evaluasi yang mengubah cara AS berperang.
“Aspin khawatir tentang bagaimana pengiriman pasukan lapis baja ini akan dipandang di Capitol Hill dan di ibu kota negara asing,” tulis laporan Kongres AS pada 27 Januari 1994.
Delta Force dan unit khusus lain menghabiskan dekade berikutnya untuk menyempurnakan taktik pertempuran malam demi menghindari kerumunan siang hari, sekaligus meningkatkan teknologi pengawasan. Operasi di Caracas, yang dilakukan tengah malam dengan dukungan pengawasan real-time dari Mar-a-Lago, lahir dari evolusi taktis ini.
Black HawkDown dan Persepsi Publik
Narasi Mogadishu kemudian hidup dalam adaptasi film Black Hawk Down arahan Ridley Scott pada 2001 yang naskahnya merujuk buku Black Hawk Down: A Story of Modern War karya Mark Bowden. Film ini dirilis beberapa bulan setelah serangan 11 September, ketika patriotisme AS sedang memuncak dan publik membutuhkan kisah kepahlawanan.
Ridley Scott berhasil mengubah kekalahan strategis menjadi epik keberanian taktis. Film ini memopulerkan etos leave no man behind yang kemudian menjadi mantra budaya militer AS. Gambaran operator Delta sebagai prajurit elite yang tenang, profesional, dan mematikan di tengah kekacauan secara drastis mengubah persepsi publik.
Menukil studi berjudul “Third-Force Influences: Hollywood's War Films” (2017), dampak film terhadap rekrutmen militer sangat besar. Popularitasnya disebut meningkatkan angka pendaftaran Angkatan Darat hingga 400 persen. Banyak anak muda AS yang terinspirasi oleh visualisasi kepahlawanan Shughart dan Gordon, bercita-cita menjadi personel Ranger atau Delta.
Namun, film ini juga menuai kritik karena dianggap melakukan propaganda distorsi sejarah. Konteks politik Somalia, penderitaan warga sipil akibat operasi militer AS, dan alasan kemarahan rakyat Somalia hampir sepenuhnya dihapus.
“Hal ini sangat kontras dengan buku Mark Bowden Black Hawk Down, di mana film seharusnya didasarkan. Bowden bersusah payah melacak peristiwa pertempuran 15 jam di jalan-jalan Mogadishu dan menjelaskannya kepada pembaca,” tulis Ann Talbot dalam kolomnya di World Socialist Website.
Musuh digambarkan sebagai gerombolan tanpa wajah, sementara perspektif politik AS disucikan. Narasi biner baik versus jahat ini mengaburkan kompleksitas moral intervensi militer asing, sebuah bias yang mungkin juga memengaruhi dukungan publik terhadap tindakan agresif seperti penculikan Maduro di kemudian hari.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id


































