Menuju konten utama

Dari Istirahat hingga Refleksi: Cerita Ramadan di Teras Adem

Cerita mudik dari balik kerja jurnalis: macet, kecelakaan, hingga jeda di Teras Adem. Perjalanan panjang yang jadi ruang refleksi Ramadan.

Dari Istirahat hingga Refleksi: Cerita Ramadan di Teras Adem
Teras Adem Aqua. (Instagram/@sehataqua)

tirto.id - Deru kendaraan tidak pernah benar-benar berhenti di jalan tol menjelang mudik Lebaran. Bus antarkota melaju berdampingan dengan mobil-mobil pribadi yang penuh muatan, sebagian bahkan membawa barang tambahan di atas atap. Kendaraan bergerak perlahan dalam arus yang padat. Wajah-wajah lelah terlihat dari balik kaca jendela kendaraan. Di balik kelelahan itu ada satu tujuan yang sama: pulang.

Bagi banyak orang, mudik adalah perjalanan kembali ke rumah. Tapi bagi sebagian orang lain, perjalanan ini justru menjadi tempat mereka bekerja.

Di tengah kemacetan mudik lebaran di gerbang Tol Cipali, Sae dan Tika justru ikut bergerak bersama arus perjalanan para pemudik. Bedanya, mereka tidak sedang dalam perjalanan pulang. Keduanya berada di jalan sebagai jurnalis yang meliput perjalanan para pemudik.

Penghujung Ramadan tahun ini mereka habiskan di jalan. Menempuh perjalanan darat dari Jakarta menuju Yogyakarta untuk merekam cerita-cerita mudik yang terjadi di sepanjang perjalanan.

Bagi Sae, pengalaman ini terasa baru sekaligus menegangkan. Ini adalah liputan mudik pertamanya. Perjalanan yang ditempuh pun bukan perjalanan singkat. Ini adalah road trip panjang yang harus dijalani sambil bekerja.

Tim liputan mereka seluruhnya perempuan. Liputan mudik pada akhirnya adalah rangkaian perjalanan panjang yang sering kali tak bisa diprediksi. Rencana bisa berubah sewaktu-waktu di lapangan. Dalam situasi seperti itu, kebersamaan tim menjadi hal yang membuat perjalanan terasa lebih ringan untuk dijalani.

Sebagaimana liputan pada umumnya, seringkali di lapangan rencana kerap berubah.

“Kadang kita sudah rencanakan liputan di satu tempat, tapi pas sampai ternyata situasinya tidak sesuai. Akhirnya harus improvisasi cari lokasi lain,” kata Sae.

Dalam kemacetan Jakarta-Jogja, Sae dan Tika harus terus bergerak. Mulai dari mencari titik liputan, merekam situasi di lapangan, menulis, hingga mengirimkan bahan ke tim di belakang layar. Semua itu dilakukan di tengah arus mudik yang padat dan perjalanan yang tak jarang terasa melelahkan.

Bagi Tika, situasi seperti ini adalah bagian dari realitas profesi jurnalis.

“Kalau dibilang berat, pasti berat, di tengah arus mudik yang padat kita masih harus bekerja, membuat tulisan, video, dan konten,” tutur Tika.

Di balik sebuah konten tentang mudik yang muncul di layar, ada proses panjang yang jarang terlihat.

“Orang mungkin hanya melihat hasil akhirnya. Tapi di belakangnya ada banyak orang yang bekerja dan banyak energi yang dikeluarkan,” katanya.

Ramadan dan Momen Refleksi di Tengah Perjalanan

Pemudik sepeda motor padati pantura di Karawang

Pemudik sepeda motor melintas di Klari, Karawang, Jawa Barat, Rabu (18/9/2026). Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memprediksi puncak arus mudik sepeda motor terjadi pada Rabu (18/3) dengan presentase mencapai 16,74 persen atau setara dengan 24,08 juta orang dan berpotensi menimbulkan kepadatan di jalur penghubung antardaerah. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/agr

Banyak pemandangan yang membekas, tidak selalu mudah dilupakan, bahkan juga traumatis. Sae dan Tika beberapa kali menjumpai kecelakaan di jalan tol. “Ada tiga kejadian terlihat langsung di sepanjang perjalanan kami,” tutur Tika.

Ada mobil yang berhenti di bahu jalan dengan bagian depan ringsek. Ada kendaraan yang menepi dengan lampu hazard menyala. Di ruas jalan tol yang lain, terlihat kendaraan yang rusak setelah bertabrakan, dengan penumpang yang berdiri di sekitarnya. Murung. Masih mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.

Potret tragis ini adalah pengingat. Perjalanan mudik memang tidak selalu mudah. Di satu sisi, jalan dipenuhi orang-orang yang ingin pulang. Di sisi lain, perjalanan panjang juga membawa kelelahan, risiko, dan kehati-hatian yang harus dijaga.

Bagi Sae, melihat kejadian-kejadian itu membuat perjalanan terasa berbeda.

“Perjalanan jauh bikin waktu terasa lebih lambat. Jadi kita bisa lebih memperhatikan hal-hal yang terjadi di sekitar,” kata Sae.

Mereka melihat banyak potret mudik di sepanjang jalan. Potret keluarga yang membawa kardus besar di bagasi mobil, sepeda roda dua yang diikat di atap mobil, pengendara motor dengan tas yang diikat di belakang, hingga anak-anak yang tertidur di kursi belakang kendaraan. Sebuah gambaran bagaimana ‘rumah’ dan ‘pulang’ adalah dua kata yang benar-benar diimani dan dimaknai, menjelang Idul Fitri.

Bagi Tika, semua itu menghadirkan refleksi sederhana tentang makna pulang itu sendiri.

“Yang aku refleksikan dari perjalanan Ramadan mudik ini adalah perjalanan kembali ke akar,” ujarnya.

Mudik, menurutnya, mengingatkan bahwa di mana pun seseorang merantau dan berusaha membangun kehidupan, selalu ada satu tempat yang menjadi tujuan pulang.

“Sebagaimanapun kita berusaha di kota orang, pada akhirnya kita kembali pulang dan menyapa keluarga yang sudah merawat kita dari dulu.”

Memahami mudik sebagai perjalanan adalah dengan melihat ribuan orang bergerak menuju kampung halaman juga menjadi pengingat tentang perjalanan hidup yang telah dilalui.

Tentang masa kecil, tentang keluarga, dan tentang waktu yang ternyata berjalan begitu cepat. Serta tentang jarak yang membentang panjang, yang semakin dalam menambah esensi pulang, melekatkan rindu pada rumah.

“Kadang jadi refleksi juga, ternyata kehidupan sudah berjalan sejauh ini,” kata Tika. “Itu jadi pengingat buat kita untuk terus berusaha menjadi lebih baik setiap hari.”

Teras Adem, Bagian dari Cerita Ramadan di Jalan

Teras Adem Aqua

Teras Adem Aqua. (Instagram/@sehataqua)

Setelah berjam-jam berada di jalan tol, perjalanan panjang di mudik kali ini akhirnya membawa mereka ke sebuah ruang rehat yang nyaman, yakni Teras Adem.

Sebuah area khusus di rest area yang suasananya terasa sedikit berbeda dari hiruk pikuk jalan tol.

Di sana, akan kita temui beberapa pemudik yang duduk di kursi sambil meregangkan kaki yang kaku karena duduk di belakang kemudi berjam-jam.

Ada juga keluarga yang melakukan percakapan ringan, minum air mineral dan camilan, sambil menunggu perjalanan dilanjutkan. Atau juga anak-anak kecil berlari kecil di sekitar area istirahat, sementara orang tua mereka mencoba mengatur kembali barang-barang di mobil. Ada juga yang tertidur sejenak, setelah beribadah di mushola.

Suara kendaraan yang melintas masih terdengar dari kejauhan, tetapi suasana di Teras Adem terasa lebih tenang, dingin, dan lebih lega dibanding jalanan.

Di salah satu sudut, botol-botol air minum AQUA tersusun rapi. Para pemudik mengambilnya untuk menghilangkan dahaga setelah perjalanan panjang. Hidrasi adalah kunci penting pikiran tetap fokus selama perjalanan jarak jauh.

Jeda seperti ini mungkin terasa sederhana. Berbeda bagi pemudik yang sudah berjam-jam berada di jalan. Kesempatan untuk duduk, menarik napas, dan meminum air yang menyegarkan bisa terasa sangat berarti.

Bagi Sae, tempat seperti ini juga menjadi titik penting dalam perjalanan liputan mereka.

“Menurutku penting banget ada tempat seperti ini,” kata Sae “Karena jadi tempat untuk istirahat dan menghilangkan penat.”

Di tengah perjalanan panjang Jakarta–Yogyakarta, jeda seperti ini penting sekali untuk mengisi energi fisik, sekaligus juga menjadi kesempatan untuk menenangkan pikiran sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

“Kalau perjalanan jauh tanpa istirahat, itu bisa berpengaruh ke keselamatan juga,” kata Sae.

Di Teras Adem AQUA, waktu istirahat diisi dengan hal-hal sederhana: menikmati makanan kecil, berbincang dengan tim, membuat konten video, atau sekadar duduk diam sambil memulihkan tenaga.

“Kadang kita cuma mau bengong dulu, santai, ngobrol sama tim,” kata Sae sambil tertawa.

Lebih-lebih Teras Adem AQUA cukup instagramable untuk dimanfaatkan berfoto, atau sekadar mengabadikan perjalanan yang sedang mereka jalani.

Hal-hal kecil yang terasa sepele seperti itu nyatanya adalah jeda yang memberi ruang untuk melihat perjalanan dengan cara yang lebih tenang, di tengah arus mudik yang terus bergerak.

Banyak makna yang kita temui saat Ramadan di jalan. Bukan melulu tentang perjalanan fisik menuju satu kota ke kota lain. Ramadhan di jalan juga adalah perjalanan batin. Yang memberi makna tentang arti pulang, tentang keselamatan di jalan, dan tentang bagaimana setiap perjalanan memberi kesempatan untuk merenung dan memberi makna setiap langkahnya.

Baca juga artikel terkait MUDIK atau tulisan lainnya dari Yulaika Ramadhani

tirto.id - Edusains
Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Nanda Saputri